Apa yang kita pikirkan tentang Indonesia? Apakah sebagai negara kepulauan? Negara dengan kekayaan alam yang melimpah, negara dengan tingkat korupsi sangat tinggi, negara tanpa moral, atau negara yang justru berbudaya, atau mungkin negara yang gagal? Apapun pemikiran kita tentang Indonesia yang mungkin diwakili oleh gelar-gelar di atas adalah sebuah realita. Indonesia terlalu banyak memiliki gelar dan nama, sehingga kita sendiri sebagai masyarakat Indonesia bingung atau bahkan mungkin tidak tahu identitas negara kita sendiri. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Indonesia di zaman penjajahan dengan Indonesia di era saat ini. Ketika bangsa kita masih berada dalam penjara penjajahan yang dilancarkan Belanda dan Jepang selama kurang lebih tiga setengah abad, semangat nasionalisme masyarakat pada saat itu sangatlah besar. Keinginan yang kuat untuk lepas dari belenggu penindasan dan penjajahan menyatukan semua suku, ras, agama , dan golongan yang ada di negara ini dalam satu tujuan dan visi yang sama, yakni bersatu untuk meraih sebuah kemerdekaan, meskipun hal tersebut terbilang terlambat disadari, tapi paling tidak telah membuahkan hasil setelah negaraIndonesia ini telah memproklamasikan kemerdekaannya dan mendapatkan pengakuan dari dunia. Begitu kompleksnya bangsa Indonesia dengan perbedaan yang begitu banyak, baik dari segi budaya, agama, suku, ras, pemahaman, idealisme, dan filosofi, namun mampu berbaur dalam satu wadah yakni semangat nasionalisme. Sangat luar biasa. Persatuan itulahyang melupakan bahwa mereka berbeda, dan menempatkan mereka dalam satu kesepakatan, bahwa mereka sama-sama bagian dari bangsa Indonesia, tanah kelahiran mereka.
Sementara itu, keadaan sekarang jauh berbeda, justru perbedaan itu kembali ditunjukkan sehingga tidak nampak lagi identitas bangsaIndonesia yang sebenarnya. Baiklah, kita akan membahas ini lebih lanjut. Indonesia telah menetapkan diri sebagai sebuah negara, sebuah organisasi sosial yang akan membangun bersama-sama. Kita kembali ke masa penjajahan, di mana pada saat itu Indonesia belum seutuhnya menjadi negara atau organisasi sosial yang formal. Akan tetapi, pejuang-pejuang kita terdahulu berhasil mengalahkan musuh terbesar kita pada saat itu, yakni penjajah. Proklamasi yang menandakan Indonesia telah menjadi negara atau organisasi sosial yang formal tidak berarti kita hanya akan berleha-leha, duduk di kursi goyang sambil menikmati secangkir teh, ditemani alunan musik yang merdu seperti seorang kakek yang menikmati hari tuanya. Justru pada saat ini kita masih, tengah, dan akan terus menghadapi musuh. Sebuah kelompok sosial akan tetap berjibaku mengalahkan semua rintanagn baik dari dalam, maupun dari luar yang bisa saja menghancurkan eksistensi kelompok mereka. Maka Indonesia akan tetap menghadapi ancaman-ancaman itu. Siapa musuh kita? Globalisasi, perkembangan dunia yang begitu pesat, yang harus memaksa kita untuk tetap menyesuaikan diri dengan perubahan yang tidak bisa dihindari itu. Karena perubahan itu harus dilakukan untuk tetap eksis namun harus mewaspadai nilai-nilai dan elemen-elemenyang justru akan mengahncurkan kita sebagai sebuah bangsa. Sebenarnya saya kuarang setuju jika Indonesia dinyatakan sebagai negara yang sedang berkembang, karena kita tengah bergulat untuk mengembalikan status kita sebagai negara. Adapun pembangunan yang dilakukan tidak dilandasi dengan rasa persatuan yang lekat seperti dulu. Maka egara kita adalah negara yang mencari jati diri. Tapi, lupakanlah itu, nama dan gelar adalah pencitraan yang dilakukan dunia terhadap apa yang mereka lihat tentang kita.
Saya menganalogikan Indonesia sebagai seorang pelari yang tengah berada di urutan belakang, memaksakan diri untuk mengejar ketertinggalannya dari pelari-pelari lain yang sudah hampir menyentuh garis finish,untuk menjadi juara pertama, padahal kakinya itu cedera dan tidak bisa dipaksakan untuk terus berlari. Ya, itulahkita saat ini. Kita seolah memaksa untuk bisa sejajar dengan negara lain yang sudah sangat maju, untuk mendapatkan sebuah kebanggaan dan pengakuan dari negara lain bahwa kita juga bisa, kita juga hebat. Padahal kita tidak sadar bahwa kondisi internal negara kita sangat kacau. Hasilnya, Indonesia masih begini-begini saja, malah makin bayak masalah. Lantas apa yang salah? Kekayaan alam melimpah, sumber daya manusia sebenarnya menjanjikan. Iya, sumber daya manusia kita memang cukup menjanjikan, terbukti dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan kita yang mampu melakukan perubahan luar biasa, meskipun belum sehebat negara lain, namun saya pikir cukuplah jika mau dimaksimalkan. Kemudian apayang salah? Pernahkah kita mempertanyakan itu? Pernahkah pemerintah bertanya pada dirinya apa yang salah dari semua kebijakannya? Apakah kita sebagai rakyat juga pernah bertanya, apa yang salah dari diri kita? Pertanyaan itu yang seharusnya kita munculkan ketika masalah pelik bertubi-tubi menyerang bangsa kita. Sudah jalankah peran kita sebagai elemen dari sebuah negara? Apakah tanggung jawab kita sudah dijalankan dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan itu yang mestinya ditanamkan dan di munculkan, bukan pertanyaan mengapa pemerintah tidak becus mengurus negara, atau mengapa rakyat terlalu banyak maunya? Semua sibuk mengurusi urusan orang lainyang dianggap tidak beres, padahal mereka tidak tahu pasti skala sesuatu dianggap beres atau berhasil. Atau, memang beberapa tanggung jawab tidak dijalankan dengan baik, danyang menyaksikan kegagalan itu menyibukkan dirinya mengidentifikasi kesalahan – kesalahan tersebut, mencoba menarik kesimpulan tanpa memunculkan solusi ke permukaan,yang ada hanyalah tuntutan – tuntutan yang terkadang bahkan sering tidak logis, seolah kepentingannya yang lebih urgen. Sementara itu, mereka lupa bahwa tanggung jawabnya sendiri tidak dilakukan dengan baik. Siapa mereka itu? Bisa saja saya, Anda, kalian, mereka, kelompok besaryang disebut rakyat, atau yang menjalankan roda pemerintahan. Merekalah “mereka’ itu. Pemerintah begitu dekat dengan rakyat kecil ketika mengproklamirkan dirinya sebagai calon pemerintah kembali di ajang kampanye. Mengumbar janji – janji manis seperti rayuan gombal seorang lelaki hidung belangyang berusaha menggaet seorang gadis yang akan menjadi korban barunya. Pada saat itu rakyat kecil seolah menjadi raja yang mereka jamu dengan hidangan paling istimewa, namun setelah mereka berhasil melakukan kudeta, melengserkan sang raja, mereka lupa dengan janji – janjinya, mereka lupa dengan hidangan – hidangan istimewa itu. Menjalani pemerintahan dengan kedok demokrasi, namun kontennya ternyata kepentingan pribadi dan kelompok. Kemudian, untuk mencuci tangandari kesalahan fatalnya pada rakyat kecil, sang penguasa mencitrakan dirinya sebagai seorang yang religius, mengedepankan ajaran Tuhan sebagai landasan utama konsep pemerintahan, tujuannya hanya untuk mendapatkan simpatidari masyarakat. Begitulah rodanya, diawali dengan hidangan teristimewa untuk sang raja dan diakhiri dengan kudeta luar biasa nan kejam. Alhasil, pemilihan umum sebagai pesta demokrasi berubah nama menjadi “pesta kepentingan”. Yang diusahakaan, dikampanyekan, dan yang dijalankan nantinya hanyalah kepentingan. Sang calon pemerintah mengusahakan segala cara dan daya untuk kepentinagannya, kemudian menjalalankan pemerintahan untuk kepentingannya pula. Rakyat kecil tanpa sadar juga ikut bermain dalam “pesta kepentingan itu”. Bagi mereka, kecerdasan, kejujuran, berjiwa pemimpin dan memihak pada rakyat kecil bukan lagi menjadi kriteria calon pemimpin yang baik dan pantas untuk dipilih. Siapa di antara peserta pemilu yang mampu memberikan hidangan terbaik pada mereka, itulah yang pantas untuk dipilih. Ketika kepentingan hidupnya terpenuhi, maka pemilihan umum tak membutuhkan hati jernih dan jiwa selektif. Toh, ketika terpilih nanti, mereka jugaakan lupa kepada rakyatnya. Mereka akan sibuk mengembalikan modal yang mereka keluarkan ketika berkampanye dulu. Begitulah gambaran pernyataan dari rakyat kecil kebanyakan.
Lanjut cerita, ketika pemimpin berganti tokoh, maka sistem diubah total dengan konsep baru, teori baru, cerita baru, idealisme baru, dengan tetek bengek bahasa tingkat tinggi yang begitu sulit dicerna, namun dalam perjalanannya masih memegang teguh konsep klasik, yakni konsep kepentingan tadi. Ketika kepentingan yang bermain, maka demokrasi hanya menjadi topeng semata, guna menyembunyikan kepentingan – kepentingan itu agar tak terlihat oleh khalayak. Parahnya, kita sebagai rakyat juga larut dalam konsep kepentingan itu. Melayangkan kritik sepedas – pedasnya, melancarkan protes sekasar – kasarnya, tanap sadar peran kita sebagai seorang manusia secara pribadi, sebagai anggota keluarga, sebagai salah seorang yang memiliki profesi, sebagai orang yang berperan penting dalam kelompok masyarakat, dan peran – peran lainnya yang sebenarnya jauh lebih penting, namun dianggap tak penting dan terlupa karena sibuk memikirkan negara yang amburadul, sibuk mengkritik pemerintahan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika ribuan kritikan dan protes itu diungkapkan dan diteriakkan, adakah di antara kita tersadar bahwa kita sebagai seorang dokter lupa menanagani pasien yang sedang terbaring lemas di UGD, atau kita sebagai guru lupa megajar di kelas sementara semua siswa tengah menunggu dengan jenuhnya, atau kita sebagai mahasiswa lupa masuk kuliah, gara- gara sibuk melakukan demonstrasi di jalanan, sibuk merusak fasilitas umum yang sebenarnya milik rakyat, padahal selama ini mahasiswa lah yang mengklaim dirinya sebagai orang terdekat rakyat kecil. Mungkin kita sebagai seorang pelajar rantauan yang dikirim oleh orang tua kita intuk menuntut ilmu, justru lupa tugas dan amanah orang tuanya gara – gara terlalu sibuk mengurusi negara, dan menegakkan keadilan, padahal kita belum tentu menjalankan tugas kita dengan baik dan menjalankan amanah orang tua kita. Itukah keadilan?
Semua terlau sibuk denagn kepentingannya. Kita begitu semanagt mencari, mengidentifikasi, dan mengoarkan kesalahn orang lain, dan tidak berani mengakui kekurangan diri dan kesalahan pribadi. Semua sibuk mengurusi orang lain dan akhirnya lupa mengurusi dirinya sendiri. Padahal jika kita mengawali semua ini dari diri sendiri, menjalani peran masing masing denga baik, kemudian berangakt menuju permasalahan negara yang jauh lebih pelik dengan duduk bersama, salingh mendengarkan, dan saling memeberi solusi, semuanya akan lebih baik. Tak perlu bercita – cita terlalu tinggi menjadi negara yang berkembang, ketika dapur sendiri masih belum bisa digunakan untuk memasak lantaran terlalu banyak kotoran, tikus dan sebagainya yang mengganggu. Mengapa kita tidak kembali ke masa lampau, ketika para pemuda dan pejuang, satu hati, satu visi, duduk bersama, saling mendengarkan, salinh melengkapi, mejalalankan pernannya masing – masing, kemudian saling mendukung satu sama lain, menutupi kesalahan teman denga kelebihan kita. Hasilnya, mereka mampu mengusir penjajah dari bumi nusantara. Rasanya, kiat membutuhkan energy reinkarnasi zaman penjajahan ketika perbedaan itu justru menjadi kekuatan super. Ketika kesalahan tak perlu diumbar ke luar,namun dibahas bersama dan diselesaikan bersama. Rasanya, kita perlu energy reinkarnasi zaman penjajahan untuk menyelamatkan bangsa ini dari pesta kepentingan, dan miskinnya kasih sayang. Perlu pemebenahan total dari dalam, dimulai dari diri sendirir, mengoreksi diri sendiri, menjalankan peran masing – masing, kemudian keluar duduk bersama membicarakan tentang apa yang mesti dilengkapi dan memunculkan kembali apa yang telah hilang. Meluruskan apa yang bengkok, dan membenarkankan apa yang salah. Tidakkah kita iri kepada sejumlah anak sekolah yang melakukan kerja kelompok untuk menyelesaikan sebuah masalah atau tugas dari gurunya. Mereka begitu nikmat berdiskusi di teras rumah, diselingi dengan teh hangat, makanan ringan dan canda tawa, tanpa harus saling meneriaki dan saling mencacimaki. Tidakkah kita malu pada pemuda dan pejuang masa lampau yang sehati, senasib, sepenanggungan, duduk bersama membahas soal strategi perang tanpa harus menajtuhkan satu sama lain utnuk meraih kemerdekaan? Dan, satu pertanyaan terakhir yang akan mengakhiri tukisan ini, apakah Anda tertarik dengan energy dan semangat reinkarnasi zaman penjajahan utnuk menghadapi masalah bangsa yang tak terhitung banyaknya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar