Melihatnya ... jujur aku selalu ingin meneteskan air mata ..
namun kutahan air mataku itu agar tak terjatuh setetespun ...
ingin kukatakan .." aku sayang ayah ..."
namun lagi lagi .. ditenggorokanku sepertinya sudah ada penghalang untuk mengatakan hal itu ...
jika boleh aku berkata ...
aku lebih memilih hidup seorang diri daripada harus mempunyai seorang panutan
tapi ia sama sekali tak menolehkan wajahnya untukku ...
aku lebih memilih terlanjur tidak mempunyai segalanya
daripada harus menahan tangis dalam batin
karena semua yang kumiliki hanyalah sebuah pemandangan yang semu..
yang hanya bisa dilihat namun tak bisa kurasakan ...
yang hanya bisa dipamerkan tanpa ada wujud asli yang bisa dibanggakan ...
seringkali aku tersenyum ... didepannya ..
senyum yang sebenarnya ingin mengatakan .. "peluk aku seperti saat aku masih bayi "
" peluk aku seperti saat aku masih balita .... "
senyum yang sebenarnya berkata .. " aku ingin cinta itu ..."
" cinta yang belum pernah aku rasakan sejak 'aku telah mengenal hidup''
tapi sayang sekali ..
meskipun senyum itu sudah ku perlihatkan padanya ...
tak jua ia bisa menangkap kekecewaanku ...
setitik kepedulian dan perhatian yang selalu kuinginkan tak kunjung terwujud ...
meski aku berteriak didepannya ...toh percuma saja ...
jika apa yang ia pikirkan tidak sejurus dengan apa yang ku inginkan ..
ia terlampau jauh menganggapku sebagai sesosok anak yang beranjak dewasa ...
yang bisa mengarungi hidupnya seorang diri ....
namun dia lupa ..
.ia menelantarkanku tanpa asuhan seperti anak lainnya ...
meski kodratku sudah membuat aku dewasa .. membuat aku mengerti hidup didunia untuk apa ...
tag jua ia sadar ...
aku masih menginginkan cinta darinya ....
karena selama aku "telah mengerti bagaimana hidup" selama itu pula aku selalu menangis dalam batinku karenanya ....
'tangisan batin yang tak akan pernah bisa ia dengar dengan hatinya ....'
namun kutahan air mataku itu agar tak terjatuh setetespun ...
ingin kukatakan .." aku sayang ayah ..."
namun lagi lagi .. ditenggorokanku sepertinya sudah ada penghalang untuk mengatakan hal itu ...
jika boleh aku berkata ...
aku lebih memilih hidup seorang diri daripada harus mempunyai seorang panutan
tapi ia sama sekali tak menolehkan wajahnya untukku ...
aku lebih memilih terlanjur tidak mempunyai segalanya
daripada harus menahan tangis dalam batin
karena semua yang kumiliki hanyalah sebuah pemandangan yang semu..
yang hanya bisa dilihat namun tak bisa kurasakan ...
yang hanya bisa dipamerkan tanpa ada wujud asli yang bisa dibanggakan ...
seringkali aku tersenyum ... didepannya ..
senyum yang sebenarnya ingin mengatakan .. "peluk aku seperti saat aku masih bayi "
" peluk aku seperti saat aku masih balita .... "
senyum yang sebenarnya berkata .. " aku ingin cinta itu ..."
" cinta yang belum pernah aku rasakan sejak 'aku telah mengenal hidup''
tapi sayang sekali ..
meskipun senyum itu sudah ku perlihatkan padanya ...
tak jua ia bisa menangkap kekecewaanku ...
setitik kepedulian dan perhatian yang selalu kuinginkan tak kunjung terwujud ...
meski aku berteriak didepannya ...toh percuma saja ...
jika apa yang ia pikirkan tidak sejurus dengan apa yang ku inginkan ..
ia terlampau jauh menganggapku sebagai sesosok anak yang beranjak dewasa ...
yang bisa mengarungi hidupnya seorang diri ....
namun dia lupa ..
.ia menelantarkanku tanpa asuhan seperti anak lainnya ...
meski kodratku sudah membuat aku dewasa .. membuat aku mengerti hidup didunia untuk apa ...
tag jua ia sadar ...
aku masih menginginkan cinta darinya ....
karena selama aku "telah mengerti bagaimana hidup" selama itu pula aku selalu menangis dalam batinku karenanya ....
'tangisan batin yang tak akan pernah bisa ia dengar dengan hatinya ....'





