Suatu ketika saat jam istirahat, aku tampak sibuk dengan sebuah buku dan bolpoin yang aku pegang, apa lagi kalau bukan menulis cerita, hobi yang baru saja ku temukan. Entah karena diserang badai atau angin apa aku tidak tahu, Putra tiba – tiba menghampiriku setelah sudah hampir lima hari tak menghampiriku sama sekali, pantas saja jantungku begitu cepat berdetak sesaat sebelum ia datang, ternyata suatu pertanda bahwa si pembuat jantungku ini berdetak melewati batas normal akan datang.
“ lagi ngapain....???” tanyanya. Ini aku yang bodoh atau dia yang tidak bisa melihat apa yang sedang kulakukan.
“ Kelihatannya ngapain..?? apa tampak seperti mencuci baju atau menyetrika...???” jawabku jutek. Biar saja, giliran aku yang cuek padanya setelah lima hari ini ia tidak menyapaku sama sekali. Lebih tepatnya aku pura – pura jutek, karena jujur kuakui dia cowok pertama yang bisa membuatku tidak jutek padanya, membuatku tidak bisa cuek padahal sebelumnya dengan cowok manapun meski cowok itu seganteng Pasha Ungu, idolaku saja aku masih jutek. Tetapi dia, sungguh membuatku harus mengalihkan perhatianku, meski sejenak.
Putra hanya meringis saat mendengar jawabanku atas pertanyaannya.
“ Hehehe... iya tau kamu lagi nulis.. tapi nulis apaan ...?? ituloh yang mau aku tanyain...” tanyanya lagi. Aku hanya diam tak menjawab. “ kok diem..?? “ tanyanya lagi. Aku malah menoleh pada teman temanku yang sedang bercakap cakap disebelah bangkuku. Lalu kulanjutkan lagi aksi menulisku.
“ Marah itu Put, habisnya... kamu gak nyapa dia hampir semingguan...” salah seorang temanku, Ine iku menimpali. Ikut - ikutan saja dia, batinku.
“ Ooo... jadi gara – gara itu...??? kenapa gak bilang sih... tau gitu kan aku bakal nyapa tiap hari.. padahal kemaren aku cuma ngetes aja loh.. malah dianggap serius...” ucapnya lagi. Dan aku tetap saja diam dan tetap menulis. Entah mengapa aku begitu sangat malas untuk berbicara dengannya saat itu, sebenarnya jujur kuakui aku ingin sekali mengobrol dengannya. Kegiatan menulisku jadi berhenti karena melamun.
Tapi semua lamunanku yang entah tentang apa buyar begitu saja karena tiba – tiba Putra menarik tanganku dan... menggeretku keluar kelas dan aku tak bisa melepaskan genngamannya di tanganku.
“ Astagfirulloh.. ada apa sih.. sakit tau digeret – geret kayak tadi...” ucapku begitu Putra menghentikan langkahnya, hampir saja aku menabraknya. Putra membawaku, lagi – lagi tetap di tangga. Kurasa ini adalah tempat favoritnya. Ia lalu duduk disalah satu anak tangga itu, dan masih menggandengku.
“ Sini, duduk disebelahku...” pintanya sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatapku. Dan lagi – lagi aku tak kuasa ditatapnya seperti itu meski hanya sebuah tatapan biasa. Aku masih berdiri tidak duduk seperti permintaannya. “ Sini...” ucapnya lagi, kali ini sambil menarik lenganku agar aku duduk disebelahnya, dan pantatku pun sedikit merasa sakit karena terbentur anak tangga itu. Aku hanya teriak “ aw “ tanpa bersuara, hanya mungkin ekspresiku saja yang terlihat. “ kenapa..?? “ tanyanya. Huuh masih saja dia bertanya aku kenapa... apa dia tak tahu kalau sedari dia menggeretku, tubuhku terasa sakit.
“ Enggak.. enggak papa kok...” jawabku. “ mau ngapain sih disini...???” tanyakukesal, meski aku ingin seperti ini tapi ssebenarnya kesal juga aku padanya karena digeret – geret seperti tadi, memangganya aku kambing ..
“ Gak mau ngapa – ngapain.. cuma mau ngobrol aja...”
“ Memangnya di kelas gak bisa ya.. sampai – sampai harus di tangga seperti ini...”
“ Gak bisa.. ntar mereka ganggu lagi...” ucapnya, aku rasa Putra sudah sedikit gila.
“ Ganggu apaan.. orang yang lainnya pada ngurusin urusan masing - masing kok.. ngapain ganggu, lagipula kita mau ngomongin apaan sampai harus kayak gini...?? “ ucapku lagi.
Putra hanya diam, sangat lama. Aku tak bisa memberanikan diriku untuk mengawali pembicaraan dengannya, aku tak sanggup. Sungguh aku menggerutu dalam hati, meski aku suka dengan dia tapi aku juga bisa marah.
“ Jadi aku digeret – geret seperti kambing itu hanya untuk menemani seseorang diam kayak gini.. tau gitu aku gak mau tadi...” ucapku kesal. Barulah dia menoleh, dan lagi – lagi aku harus melihat tatapannya itu, seperti biasa tekanan jantungku yang tadinya masih slow, sekarang jada very fast. Hadduuww.. rasanya aku pengen memakaikan kacamata hitam di matanya supaya aku tak lagi melihat tatapannya itu...batinku.
“ Temenin aku disini...” ucapnya singkat, tetap dengan tatapan mautnya itu. Dan aku tak bisa menolak permintaannya itu. Ya Tuhan, kenapa sulit sekali rasanya bagiku untuk menolak satu saja yang dia pinta. Kharisma apa yang Engkau berikan padanya sehingga aku begitu tertarik akan kharisma itu, aku membatin pada diriku sendiri.
Ku anggukan kepala pertanda kesediaanku untuk menemaninya disini. Satu senyuman tersungging dari bibirnya. Ya Tuhan... sungguh manis sekali senyumnya itu. Anggapanku tentang dia yang slengekan dan jail slama ini luntur begitu saja saat aku melihat senyumnya itu, andai saja aku bisa melihatnya setiap hari.
“ Kenapa ngelamun..??” tanyanya tiba – tiba. Aku langsung tersentak dari lamunan konyolku. Kaget.
“ Eee.. gag papa.. siapa yang ngelamun...??” saking gugupnya aku malah balik bertanya.
“ Ya kamu yang melamun tadi.. masih sempatnya bilang tidak...ngelamunin apaan sih .......???” ucapnya sambil, hal ini tidak biasa bagiku, Putra mengacak – acak rambutku dan lagi – lagi dia tersenyum. Membuatku semakin grogi dan membuat jantungku jumpalitan gak karuan. “ Ada yang mau aku tanyain nih…?”
“ Apaan emangnya..???”
“ Kenapa sih, kamu selalu grogi kalau aku deketin..?????” tanyanya. Waduh, apa iya sampe segitu kelihatannya, ya ampun aku harus jawab apa ini.
“ Yee. GeEr banget kamu.. kapan juga aku grogi kalau kamu deketin…” elakku. Aduh kenapa juga aku ini tipe orang yang groginya stadium akut.
“ Masih nanya kapan kamu grogi… ya tiap aku deketin, kamu selalu grogi.. ya yang ngomongnya gugup lah, yang ngelamun lah…”
“ Enggak ih.. GeEr banget sih kamu… ini nih.. pura – pura lupa sama temen… jadian gak ada traktiran…” aku berusaha mengalihkan pembicaraan kami.
“ Gak usah ngalihin pembicaraan… “ tukasnya. Aku mengalalihkan pandanganku kearah lain. Tiba – tiba jantungku berdetak lebih cepat dari detik sebelumnya. Telapak tangan Putra menggenggam telapak tanganku, aduuuw Putra, sadarkah jika kau telah membuat aku hampir masuk UGD karena jantungku hampir tewas karena berdetak jauh diatas batas normal detak jantung manusia. “ Tuh kan udah grogi lagi.. atau kamu emang anaknya grogian ya…”
Aku hanya diam. Bukan marah atau apa. Tapi aku tak tahu harus bicara apa. B erada didekatnya membuatku kehilangan segala keberanianku, membuatku kehilangan nyali untuk marah, membuatku kehilangan akan segalanya.
Dan mulai saat itu, Putra berani menggenggam tanganku seenak jidatnya sendiri, memanggilku dengan kata “ sayang “, “ say “ atau sejenisnya dan memperlakukanku seperti layaknya seorang kekasih yang sedang berusaha memanjakan pasangannya. Ya Tuhan aku tak kuasa menolak hal itu meski sebenarnya aku menginginkannya. Tapi bukan dengan kondisi seperti ini, bukan dengan kondisi yang seolah – olah aku dipermainkan oleh seseorang yang sudah membuat hidupku berubah, seseorang yang sudah berhasil membuka kunci hatiku yang selama ini sulit untuk dibuka.
Hatiku sudah memilih, meski ku tahu pilihanku kali ini sulit untuk diterima oleh akal pikiran secara logika. Mana ada seseorang yang membiarkan dirinya dipermainkan oleh orang lain, tapi mau dikatakan apalagi, hatiku sudah memilih, apapun dia dan siapapun dia, hatiku sudah meilih sebuah nama yang akan selalu terukir dalam sejarah hidupku. Meski rasanya, jika sedikit saja nalarku boleh berkata, ada sedikit kata hati kecilku yang berteriak, “ aku bahagia, didekatnya “
Aku tahu, hanya orang yang munafik yang berkata demikian, berkata bahagia, namun pada dasarnya sungguh menderita, tapi itulah cinta jika tidak bisa diterima dengan logika, ketika hati berbicara tanpa memikirkan rasionalitas yang ada, saat itulah kau akan merasa bagaimana dirimu menderita dan sekaligus merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tak peduli jika kebahagiaan itu dikatakan semu atau bagaimana, yang terpenting adalah bagaimana kau bisa merasa seperti orang terspesial dalam diri orang yang kau sayangi atau kau cintai. Meski itu hanya permainan hati yang sebenarnya aku ingin menolaknya mentah – mentah tapi aku tak sanggup melakukannya.
*****
Aku jadi semakin kesal saat orang yang aku suka malah dengan santainya menceritakan bagaimana ia bisa “ jadian ” dengan pacarnya, siapa lagi kalau bukan si Putra yang bercerita tentang bagaimana ia bisa jadian dengan pacarnya yang juga teman sekelas kami, Ani. Itu sangat membuatku kesal.
“ Gak mau dengerin ceritaku…???” Tanyanya suatu ketika saat pulang sekolah, saat itu aku sedang malas pulang kerumah, dan entah mengapa aku bertemu dengan Putra dikantin sekolah.
“ Cerita apaan..??” Tanyaku balik.
“ Ya jangan disini dong .. ntar ibu kantin denger…” ucapnya. Aku mencibir saja.
Nih anak, ada ada saja yang dilakuin, mau ngomong apa juga.. jangan jangan seperti waktu itu yang hanya diam saja dan membuatku semakin kesal. Dan kalau sampai ini terjadi lagi, akan kutinggal pulang dia.
Putra lalu membawaku, lagi – lagi ditangga itu. Tak ada tempat lainkah untuk ditempati.
“ Udah cepet mau ngomong apaan…” ucapku ketus
“ Duileee.. galaknya, kenapa sih mendadak galak.. grogi lagi…??? “
“ Aku harus cepat pulang…”
“ Masa…???” Tadi kayaknya nyantai banget dikantin kayak gak buru – buru pulang…”
“ Iya – iya mau ngomong apaan … buru…”
“ Mau dengerin ceritaku jadian ma Ani…??” tawarnya. Deg. Kenapa Putra ngomong gini sih…” aku aja bingung mau cerita darimana.. dari mana ya menurut kamuw…” tanyanya
“ Darimana aja..” jawabku kesal. Ia pun menceritakan semuanya dari awal sampe akhir, kalau boleh jujur aku juga ingin dengar bagaimana cerita kok bisa dia sampai jadian dengan Ani, perasaan sebelumnya gak ada pdkt sama sekali.
“ Ya aku langsung ngomong suka ma dia dan nanya mau gak dia jadi cewek ku.. eh dia bilang mau…”
“ gitu doang…???” aku agak sedikit heran hanya itu saja yang diucapkan Putra saat menyatakan perasaannya ke Ani, pendek bener, batinku.
“ Yaiya gitu doang.. emangnya mau gimana agy…”
“ Ya ditambahin apa gitu… “ Semangatku untuk mengetahui bagaimana mereka bisa jadian sirna juga akhirnya.
“ Gak ada sayaaaang….” Ucapnya sambil mencubit kedua pipiku.
“ Trus sekarang gimana …?? Kok gak pulang bareng Ani…??? “
“ Aku berantem ma dia….” Ucapnya, dengan raut wajah yang sedikit kusut. Aku jadi ikutan lunglai, tapi sebenarnya sedikit senag mendengarnya, hanya sedikit untuk perasaanku yang sesungguhnya.
“ Kok bisa.. kalian jadian belum ada sumuran 40hari orang meninggal loh…” ucapku sedikit melucu, garing banget masa hubungan orang disamain sama umur orang yang meninngal.
“ Ya bisa.. kita yang temenan aja sering berantem.. apalagi pacaran…”
“ Berantem kenapa …???” tanyaku. Penasaran.
“ kalo aku gak cerita gak papa.. aku males cerita nih Ssay.. gag papa ya.. jangan marah loh kalo aku gak cerita…” ucapnya.
“ Aku anterin pulang.. mau..???” tawarnya.. hatiku langsung berkata.. mau mau mau… tapi sayangnya aku membawa sepeda tatkala itu, huft.. sayang sekali.. menyesal aku jadinya.adduuuww… tau gini tadi pagi aku gak bawa sepeda dari rumah, batinku.
“ Eeee.. tapi aku bawa sepeda , Put…” ucapku lemas. Putra mungkin menyadarinya,
“ Ya jangan lemes gitu dong.. nyesel ya gak aku anterin.. pasti tadi membatin gini, ngapain aku bawa sepeda kesekolah hari ini.. iya, kan..?? ngaku…??” ucap Putra yang membuat aku semakin menyesal. “ gini deh aku barengin sampe blok rumahnya Rafi ya, ntar kamu pulang sendiri, gak papa kan..?? oke..???” lanjutnya. Aku yang tadi begitu lemas dan menyesal terobati karena perkataannya itu, Masya Alloh mujarab sekali kata – kata Putra untuk mengobati sesalku sedetik yang lalu.
“ IYA MAU..” uupppss.. aku begitu semangat sekali mengucapkannya. Aduh gimana nih, pasti di jadi ge-er.
“ Tuh kan…??? Beneran tadi nyesel.. sekarang girang amat kamu…”
“ IIhhh.. siapa juga yang girang..” aku berbohong, padahal ucapan Putra asli bener banget.
“ Udah gak usah pake bohong ma aku…yuk pulang ntar kesorean….” Ucapnya.
Senang sekali rasanya aku saat itu, betapa tidak, aku pulang sekolah bareng orang yang udah mencuri hati aku. Kesenanganku sekarang melebihi kesenanganku saat nbertemu dengan seluruh personel UNGU, idolaku, sangat lebih dari itu.
“ Ati – ati ya cinta…” ucapnya saat kami sudah sampai di pertigaan rumah Rafi, ya sudahlah yang penting aku udah pulang bareng ma dia, that’s so make me very very happy, right.” Liat liat kalo ngendarai sepeda .. ntar keasikan ngelamun malah nabrak tukang bakso lagi..hhaha…” tambahnya.
“ Iihh.. apaan sih.. udah aku pulang dulu…” pamitku akhirnya. Putra hanya mengangguk dan tersenyum seperti yang biasanya, begitu menghipnotisku.
Aku pulang ke rumah dengan sangat senang, semua penjual makanan yang biasanya mangkal di sekitar blok rumahku aku sapa, dan mereka hanya membalas sapaanku sambil bengong, pasti dalam pikiran mereka begini, tumben amat anak ini menyapa … hahaha biarkan saja aku tak peduli akan hal itu.
Today im very happy, so happy…
*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar