Agustus 17, 2011

MELODY PART 2


Hari pertama masuk SMA Adi Buana Surabaya sebagai siswa resmi, bukan sebagai peserta MOS yang harus melaksanakan setiap perintah bodoh kakak senior, Melody pun sampai sumpah serapah jika ia jadi anggota OSIS nantinya, MOS berkedok balas dendam akan ia enyahkan. Bagaimanapun caranya.
Dan Melody nyaris terlambat, lagi, beruntung ruang kelasnya yang terletak di lantai dua itu dekat dengan tangga, jadi ia tidak perlu lari lari. Di bangkunya sudah ada Lisa yang sepertinya sudah menunggunya dari tadi dengan raut muka yang Melodypun tidak tau arti raut mukanya itu.
“ Lo ngliatin gue gitu amat si Lis … ada apaan emangnya … si monster itu kesini lagi … “
“ Ini lebih heboh dari si monster itu …sini ikut gue … “
“ Eh ini bentar lagi mau bel … “
“ Kagak ada pelajaran neng … udah lo tenang aja ... gue mau ngomong penting ma lo … gue ngerasa kecolongan  tau soal ini … “ ucap Lisa. Melody jadi semakin bingung, dahinya berkerut parah, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya ini.
Lisa lalu menarik Melody ke taman sekolah.Lisa lalu mendudukkan sahabatnya itu di salah satu bangku taman.
“ ada apaan sih Lis … gue bingung … “ tanya Melody polos, karena memang ia tak tau yang sebenarnya terjadi itu apa. Lisa mengambil duduk di depan Melody.
“ kita sahabatan udah lama kan … ???” tanyanya. Melody mengangguk . Melody mengenal sahabatnya ini saat sama sama MOS SMP. “ sekarang lo jujur ma gue kalo lo emang masih nganggep gue sahabat Lo … “
“ aduh ada apaan sih Lis, udah to the point aja … gue bingung nih ... lo dari tadi ngomong belibet banget … “
“ Ada hubungan apa antara Lo ama Evan … jujur !!! “ pertanyaan itu telak membuat Melody kaget. Rendy … pasti anak itu yang udah menyebarkannya
“ Maksud Lo … siapa aja yang tau … ??!! “
“ Pake nanya lagi ... tuh gerombolan kuntilanak itu  kemaren ngeliat lo dijemput ma Evan … sekarang jujur ma gue … apa lo pacaran ma dia … ??? “ tanya Lisa lagi. Melody bernafas lega, ternyata bukan Rendy penyebabnya, tapi segerombolan kuntilanak itu. Ternyata, kemarin kuntilanak itu masih mengikutinya sampai ke parkiran. Sial ! kenapa Melody tak menyadari itu semua.
“ Oke gue bakal cerita, meskipun ini adalah rahasia besar gue … tapi kayaknya gue perlu cerita ma lo sebelum lo denger dari orang lain … nanti sepulang sekolah lo ke rumah gue … gue cerita semuanya … “ jawaban yang diplomatis itu mampu membuat mulut Lisa seketika langsung diam. Ia hafal dengan watak Melody, sahabatnya itu bukan tipe orang pembohong.
“ lo bilang tadi gak ada pelajaran … tau dari mana lo … “
“ nanya lagi … tadi ada pengumuman di speaker … lo sih datengnya mepet waktu …. “
“ berarti sekarang kita … “
“ bebas mau keliling sekolah … “ sela Lisa. Baru juga mau pergi jalan – jalan. Tiba – tiba sudah ada kuntilanak cs yang sudah menghadang mereka. Sang pentolan mereka yang bernama Riska itu memberi isyarat agar para anak buah yang Melody menyebutnya kacung itu untuk menarik Melody dari Lisa.
“ Eh eh apa apan nih ... mau apa lo semua … “
“ Gue pinjem sobat lo bentar … dan jangan berani – beraninya ngomong ke siapapun kalo nih anak gue bawa … awas lo  “ ancam Riska. Nyali Lisa makin ciut.
Segerombolan itu menculik Melody dan membawanya ke Gudang sekolah. Melody serta merta didorong sampai ia terjatuh, saat ia membalas tetap saja, 1 lawan 5 terang saja dia kalah. Riska mendekatinya dan mengangkat dagu gadis itu.
“ ada hubungan apa lo ma cowok gue … !!! “ tanya Riska dengan ketus.
“ cowok yang mana maksud lo … gue gak ngerti … “ Melody berusaha melawan, tapi percuma, ia tidak bisa berkutit melawan 5 kuntilanak itu.
“ pura pura bego lo … apa perlu gue perjelas … “ Riska semakin kuat mencengkramkan kukunya di pipi bagian bawah Melody, Melody sampai teriak kesakitan.
“ Iya . karena gue gak tau yang lo maksud … “ ucap Melody tertahan karena dagunya dicengkeran kuat oleh Riska. Sakit sekali.
“ EVAN … !!! DIA YANG GUE MAKSUD ... NGERTI LO SEKARANG … !!! “ bentak Riska. Ternyata itu. Dasar kuntilanak sinting, gak bakal gue restuin lo ama Evan. Batin Melody.
“ apapun hubungan gue ma dia ... itu sama sekali bukan urusan lo … dan tadi ... lo bilang dia cowok lo … dia bukan cowok lo … jangan ngaku – ngaku … “ Melody melawan, ia tidak terima dengan perkataan Riska.
PLAKKK !!! satu tamparan keras Riska mendarat dipipi kanan Melody. Sakit sekali dan Melody sampai terjatuh lagi.
“ Lo gue peringatin … jangan deket deket Evan lagi … !!! “ Riska Menoleh pada teman temannya. “ Kunciin dia disini, dan gue rasa hari ini anak kelas 1 gak ada pelajaran … “ perintahnya kemudian pergi dari gudang itu. Tubuh Melody lemas sekali. Dia takut gelap. Pintu gudang itu sudah ditutup dan dikunci dari luar. Ingin sekali berteriak tapi ia tak mampu. Mulutnya sakit jika dibuka.
“ Dasar cewek barbar ... lo liat pembalesan gue … “ Melody berusaha berdiri tapi gak mampu. Ketakutannya semakin menjadi kala gudang itu tertutup pintunya. Gelap sekali. Ia sangat takut sekali dengan gelap. Melody lalu meraih HP di dalam saku roknya lalu mencari cari nama Lisa dan menekan tombol call.
“ Lis … tolong gue … gue takut gelap … “ ucapnya lemas sambil menangis itu. Tubuhnya sakit semua akibat yang dilakukan Riska cs terhadapnya.
“ Lo dimana … ??? mereka ngeboyong lo kemana … ??? “ Lisa bertanya, sangat cemas dan takut. Tapi tak dijawab. Hp Melody terlepas dari tangannya sendiri, ia begitu takut, tubuhnya tak mampu melakukan apapun sekarang. Ia berteriak tolong, tapi percuma suaranya tidak bisa keras lagi mulutnya terlalu sakit akibat tamparan Riska tadi. Melody ketakutan, ia memojok dan menelungkupkan wajahnya sambil menutup telinga. Ia benar – benar takut gelap.
“ tolong gue … keluarin gue dari sini … “
Dilain tempat, Lisa kebingungan mencari Melody, dihubunginya lagi hp Melody hasilnya nomor hp sahabatnya itu tidak aktif, kecemasan malah semakin merajainya. Sampai – sampai ia tak sadar menabrak seseorang. Dan seseorang itu adalah Adit yang sedang berjalan bersama dengan sekutunya.
“ Kenapa lo Lis … “ tanya Rendy. Kaget juga Lisa kala Rendy tau namanya. “ kenapa lo, bingung gue tau nama lo dari mana … secara lo sohibnya Melody … satu sekolah juga tau lo … muka lo kenapa ... panik banget … “
“ itu … “
“ itu apa lis … sohib lo kemana tumben gak berdua … “ Adit mulai ikut bertanya.
“ Melody tadi … “ diurungkannya niat untuk melanjutkan ucapannya itu, takut akan ancaman kuntilanak tadi. Muka Lisa memucat, ia sendiri tak tau Melody dimana.
“ Gue gak tau dimana dia… barusan dia Cuma nelfon gue ngomong minta tolong … dia takut gelap … kira kira disini tempat gelap dimana … Gue takut dia kenapa napa … Melody itu phobia banget ma gelap …  kali ini gue minta tolong ma kalian … gue tau kalian berdua ada masalah ma Melody ... tapi tolong gue nemuin dia ... gue belum hafal bener tempat tempat disekolah ini … “
Entah kenapa Lisa melihat air muka Adit yang tadinya biasa saja jadi khawatir tingkat tinggi, Lisa tau khawatir itu bukan dibuat – buat … tapi betulan.
“ Lo cari bareng Rendy … gue bakal cari dia … “ setelah berkata demikian, Adit langsung hengkang. Lisa terpaksa harus berurusan dengan Rendy. Sekarang Adit jadi mengerti arti pembicaraan gerombolan Riska, Adit juga jadi bingung sendiri kenapa ia sebegitu khawatir dengan gadis itu. Ia lalu menghentikan langkahnya.
“ kenapa gue jadi sepanik ini sih … harusnya gue seneng dong … “ ucapnya sendiri. Namun ada sesuatu dari hati yang membuatnya seperti ini, membuatnya harus menolong gadis itu meski gadis itu telah bersikap kelewatan bahkan kurang ajar padanya.
Hampir putus asa ia mencarinya. Seperti musnah. Kembali teringat apa yang dikatakan Lisa tadi, dia takut gelap … lo tau gak di sekolah ini tempat tempat yang gelap itu mana ... mungkin dia disitu …. Dan kalau di tempat gelap sendirian semenitpun, dia gak akan bisa tahan karena ketakutannya… Satu tempat muncul di otaknya, Gudang Sekolah. Kembali berlari Adit mencari gadis itu, tapi ditengah ia bertemu dengan Riska dan kroninya. Riska lalu menegang begitu melihat Adit berjalan kearahnya.
“ Mau kemana , Dit … buru – buru banget kayaknya … “ tanya Riska. Dan Adit tak mungkin menjawab bahwa ia sedang mencari Melody.
“ Gue nyari Rendy … ada hal penting … lo tau dia dimana gak … “ jawab Adit ngasal. Kening Riska mengkerut.
“ Lo nyari Rendy kok malah ke arah Gudang … “ tanya Riska sambil lagi – lagi berusaha menyembunyikan ketegangannya. Kalau sampai Adit tau Lisa menyekap Melody di Gudang, urusannya bisa runyam, pasti cowok itu tidak tinggal diam jika ada yang melakukan kejahatan itu, sekalipun jika yang mengalami hal itu adalah musuhnya sendiri.
“ Lo kenapa sih Lis ... tegang banget … ya udah gue pergi duluan … “ Adit melangkah. Tapi Lisa mencegahnya.” Ada apaan lagi sih … ??? “ Adit mulai geram, waktunya terbuang sia – sia hanya untuk cewek ini.
“ Eee…. Gue tadi liat Rendy di lapangan ... jadi mending lo kelapangan aja deh Dit … “ ucap Riska. Adit lalu berfikir sejenak, ia harus pura – pura kelapangan, paling tidak sampai Lisa pergi dari sini.
“ Oo... gitu yaudah gue ke lapangan dulu deh … “ Adit lalu pergi, seketika nafas panjang dihembuskan Riska, nafas lega.
“ Kita harus pergi dari sini … biarin aja tuh anak gak bakalan ada yang nolong … keburu nanti kita dipergoki kayak tadi … masih untung Adit nyari Rendy ... kalo emang sengaja ke gudang mau ambil peralatan apa gitu … kita bisa gawat … “ Riska lalu berjalan terlebih dahulu, pengikut setianya mengekor dari belakang.
Setelah melihat Riska cs sudah enyah dari tempat itu, barulah Adit keluar dari persembunyiannya. Sinting, kenapa ia bisa seperti ini hanya karena gadis itu takut gelap dan terkurung di gudang, Adit jadi tak habis pikir.
Sementara itu, Melody sudah tak sanggup menahan ketakutannya, tetes keringat sebiji jagung belum berhenti mengalir diwajahnya, diruangan ini, ruangan yang gelap tanpa cahaya apapun. Melody tiba tiba ingat dengan Reza, cowok itu pernah memberi pesan padanya sebelum ia pergi dari Indonesia.
Kalo kamu ada di tempat gelap dan aku gak bisa nolong kamu … kamu angkat kalungnya ,,, kalung itu bakal ngasih sinar meskipun Cuma dikit … paling tidak supaya kamu gak terlalu takut …
Melody lalu mengeluarkan kalungnya yang tertutup oleh kemeja seragamnya itu, diraihnya kalung itu dan digenggamnya kuat kuat karena begitu lemas tangannya sehingga ia harus mengeluarkan tenaganya yang tersisa. Ternyata benar, kalung itu mengeluarkan cahaya berwarna ungu, cantik sekali. Melody merasa sedikit tenang meski dirinya berkecamuk hebat, paling tidak, sekarang ada sinar yang menyinarinya. Berusaha untuk dinikmatinya cahaya itu ditengah ketakutan yang begitu hebat dalam dirinya. Airmatanya belum berhenti mengalir.
*****
Sampai ketika pintu gudang itu terbuka, cahayanya begitu menyilaukan mata, seketika itu Melody terkesiap, entah siapa yang sedang memasuki gudang dan membukanya, Melody lega ada yang menolongnya, tubuhnya sudah tidak kuat lagi dan Melody sudah tidak sadar, ia pingsan.
Adit menghampiri Melody yang sudah didapatinya pingsan itu. Direngkuhnya gadis itu.
“ Mel ... lo baik baik aja kan … Mel … sadar Mel… “ Ucapan Adit begitu cemas, entah apa yang membuatnya secemas itu. Menyadari Melody pingsan, Adit lalu buru – buru menggendongnya, dan membawanya keluar dari gudang.  Baru sadar saat diluar gudang, begitu cahaya itu menyinari mereka, dilihatnya wajah Melody, sebegitu takutnya Melody sampai tubuhnya sedingin mayat, wajahnya pucat pasi. Ia gendong Melody sampai ke UKS sekolah yang untungnya tidak jauh dari gudang. Banyak anak yang berseliweran memandangi Adit yang sedang menggendong Melody, tapi tak satupun dari mereka yang berani berkomentar apalagi bertanya.
“ Lo … “ panggil Adit pada salah satu anak yang memandang mereka, sepertinya masih kelas 1, Adit sedikit hafal beberapa adik kelasnya saat MOS.
“ Saya kak, … “
“ Iya Lo … Lo pasti tau Rendy kan ... yang nge MC waktu Penutupan MOS … Lo cari dia dan bilang gue di UKS … “ perintah Adit pada anak itu. Tanpa pikir panjang, entah karena takut pada Adit atau hal lainnya, anak tadi langsung berlari mencari Rendy.
Tak banyak menunggu lagi, Adit lalu berjalan lagi ke UKS. Sesampainya disana, ternyata tak ada siswa ekskul PMR yang bertugas, hanya seorang petugas UKS saja, yang oleh siswa SMA Adi Buana, Mbak Dian, tak apalah, buat Adit itu sudah cukup menolong.
“ Ya ampun … ini siapa, Dit …. “ tanya mbak Dian begitu melihat Adit membopong seorang siswi perempuan, bukan kaget karena ada yang sakit, tapi kaget karena dalam sejarah Adit bersekolah, belum pernah ia membawa gadis ke UKS apalagi dengat raut muka secemas itu.
“ Anak baru mbak … kelas satu … kayaknya tadi dia dikerjain ma anak – anak … dikunci digudang sekolah … “
“ tapi kenapa sampe kayak gini … “
“ denger – denger dari sahabatnya sih … dia phobia banget ma gelap … makanya jadinya kayak gini … tolongin mbak ... takut kenapa napa … “ ucap Adit yang terlihat begitu mengenal mbak Dian, terang saja, selain mbak Dian petugas UKS, mbak Dian juga mengurus ekskul basket disekolahnya, ekskul yang dinaungi Adit.
“ akhirnya kamu punya gebetan juga … cantik anaknya Dit … waaah …bisa jadi headline mading dan majalah sekolah ini Dit … “ goda mbak Dian sambil memeriksa tensi darah Melody dan mengompres keningnya untuk menurunkan demam gadis itu.
“ bukan mbak … dia Cuma adik kelas yang kebetulan jadi langganan hukuman saya waktu MOS … “
“ Oooo … langganan hukuman atau langganan perhatian kamu waktu MOS … hehehe … mbak aja kaget kamu bawa cewek kesini … selama ini kan mau ada cewek secantik apapun pingsan didepan mata kamu juga kamu gak bakalan bawa dia ke UKS … “ ucap mbak Dian. Adit hanya tersenyum tipis, geli sekaligus tak percaya. Benar kata mbak Dian, selama ini tak pernah Adit merasa secemas ini meskipun Ratu ELisabeth yang pingsan didepannya. Tapi kenapa justru gadis yang sedang terbaring di kasur UKS sekarang ini yang membuatnya cemas total, yang membuatnya langsung mencari setelah diberi tahu bahwa gadis ini menghilang dan ketakutan disuatu tempat yang tidak ia ketahui. Benar benar belum ia mengerti kondisi yang ia alami sekarang ini. Entahlah, nanti saja ia mencari tahu.
*****
Sementara itu, Rendy dan Lisa yang begitu mendengar dari seorang siswa bahwa Adit sedang di UKS langsung terbelalak.
“ di UKS … ??? ama siapa dia … ??? “ tanya Rendy.
“ Gak tau … pokoknya cewek ... dia Cuma pesen gue suruh nyari lo … trus disuruh bilang dia ada di UKS itu doang … “
“ cewek itu mungkin Melody Ren … “
“ mungkin ... kalo gue tadi liat mukanya dikit, itu kayak cewek yang ngritik Kak Adit abis – abisan di penutupan MOS kemarin itu … “
“ tuh kan bener … oke Thanks ya … “ ucap Lisa, ditariknya Rendy, tak peduli itu kakak kelasnya dan sekaligus mantan senior yang pernah menghukumnya semasa MOS itu.
Rendy Lisa terbelalak begitu melihat kondisi Melody di UKS, seperti mayat, pucat pasi, tak menyangka sebegitu takutnya gadis itu akan gelap. Benar benar tak menyangka.
“ Ya ampun Mel ... 3 tahun gue kenal ama lo ... baru kali ini gue ngeliat lo kayak begini … gue Cuma ngira lo sekedar takut gelap … gak lebih ... tapi ternyata … “ belum sempat Lisa melanjutkan ucapannya, Melody sudah bergerak, ia sadar. Melody membuka matanya itu perlahan.
Begitu membuka mata, dilihatnya orang – orang yang sudah sedari tadi menunggunya di UKS itu satu persatu, dan pandangannya berhenti pada satu orang, bukan Lisa, sahabatnya, tapi Adit, heran melihat cowok yang begitu menyebalkan itu yang duduk disamping kasurnya. Adit terlihat begitu lega, semua orang bisa membaca air muka itu, termasuk Rendy dan Lisa.
“ jangan marah – marah dulu … gue tadi nemuin lo di gudang ... emang ngapain lo kesana … udah tau gudang itu gelap dan udah tau lo phobia gelap ... malah nekat kesana … “ Adit serta merta langsung sedikit memarahi Melody.
“ Kok lo jadi marah – marah ma gue … gue gak sukarela ke gudang tau … ada yang nyulik gue tadi … “ ucap Melody kesal, baru sadar udah dimarah – marahin. Ucapan Melody barusan mengagetkan Adit, wajahnya membeku.
“ Siapa ,,, ??? “ tanya Adit tegas. Melody masih bergeing, ia lalu memegang kepalanya yang masih terasa pusing itu. “ Siapa yang udah ngerjain lo sampe kayak gini … “ tanya Adit lagi.
“ penting ya buat lo tau siapa orang itu … “
“ jelas gue perlu tau … karena gue udah ngantongin orang yang udah gue curigain yang nyebikin lo kayak gini … “
“ apa peduli lo sih … ??? “ tanya Melody. “ kayaknya itu gak penting buat lo … “
Adit lalu sadar, ia mengutuk dirinya sendiri kenapa ia begitu kesal dan begitu ingin membalas apa yang telah orang itu lakukan pada Melody. Wajahnya yang tadi begitu tampak seperti ingin menerkam langsung drop, seperti ada sesuatu yang menghantam keberanian dan kecemasannya itu. Suatu penolakan yang membuat apa yang ia lakukan, sia – sia.
“ lo bener ... itu juga bukan urusan gue … “ nada bicara Adit begitu lemas. “ ya udah gue balik dulu ke kelas … “ tanpa menunggu lagi, Adit lalu berdiri dan berbalik lalu berjalan keluar UKS.
“ dia yang udah nyelametin lo tadi Mel ... seharusnya lo jangan ngomong kayak gitu ke sohib gue … “ ucap Rendy yang langsung ikut berbalik. Mendengarnya Melody jadi merasa bersalah.
“ Riska yang ngelakuin semua itu … “ Melody bersuara dan ucapannya itu menghentikan langkah Adit dan Rendy seketika itu juga. Keduanya lalu berbalik dan kembali menghampiri Melody.
“ Apa … ???? yang bikin lo kayak gini si Riska…???  “ tanya Adit sambil menatap lurus Melody, lurus langsung ke manik mata cantik gadis itu.
“ jadi tuh Mak lampir yang bikin lo kayak gini … ??? “ Rendy mengulangi.
“ Iya … tadi gue takut ngomong soalnya si Riska ngancem bakal ngapa ngapain gue kalo gue ngadu … “ ucap Lisa lemas.
“ gue tadi gak mau ngomong bukan karena takut ... tapi karena nanti gue sendiri yang bakal ngebales tuh anak … “ ucap Melody.
“ ini urusan biar gue ma Rendy yang nyelesain … tuh anak udah kelewatan… “ Adit lalu kemudian berbalik lagi dan bersiap pergi. Tapi Melody mencegahnya. Ditariknya lengan kanan cowok itu hingga membatalkan niatnya untuk pergi.
“ jangan … ini biar jadi urusan gue ma dia … kecuali nanti kalo gue udah gak sanggup ngadepin sendirian …. “ ucap Melody. “ lagian gue juga heran … sebegitu cemasnya sih lo ama gue … “ ucap Melody lagi dan kata – kata itu lagi yang ditujukan pada Adit.
Adit tak menjawab. Ia lalu berlalu begitu saja. Kini tatapan kedua gadis itu beralih pada Rendy.
“ Gue juga kagak tau … selama gue temenan ma Adit … gue belum pernah liat dia ama cewek … jangankan deket … ngobrol akrab aja gak pernah … jadi jangan tanya gue … oke gue pergi dulu, ada meeting di OSIS … cepet sembuh buat lo Mel … “
Dan Rendypun pergi dengan sama seperti Adit, meninggalkan sejuta pertanyaan di otak Melody dan Lisa.
“ Kira kira si Adit itu apa mungkin kena penyakit amnesia … jadi dia lupa gitu Mel pernah ada hubungan musuh antara lo berdua … “ ucap Lisa yang sama sekali tak digubris oleh Melody. Melody tiba - tiba ingat ucapan Adit di Aula.
karna lo udah jual … gue beli … dan lo gak bakalan bisa lari gitu aja … the war is begin … lo yang mulai … gue bisa pastiin lo juga yang ngakhirin bocah kecil …!!!!”
Apa ini salah satu rencana Adit untuk membalas kekalahannya waktu itu. Tapi meski bagaimanapun, Adit sudah menolongnya, dan Melody baru sadar, ia belum mengucapkan terima kasih.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger