Oktober 09, 2010

100 HARI UNTUKMU ( MODIFIED MODE )

Tet... tet... tet...
Bel istirahat berbunyi....


Semua siswa segera bergegas keluar dari kelas masing-masing. Tak lama kemudian, di tepi lapangan terdapat tiga anak cowok dan tiga anak cewek yang sedang bercanda bersama. Di antara enam anak-anak itu, yang empat sudah berstatus pacaran. Hanya Herli dan Ria yang belum mempunyai pasangan.

Herli dan Ria merasa iri terhadap teman-temannya. Mereka ingin sekali merasakan seperti anak-anak yang lain. Tetapi, di pikiran mereka berdua hanya belajar dan belajar. begitulah aktivitas mereka sehari - hari.
"Mereka kelihatannya mesra ya?" kata Ria mengomentari dua pasangan yang bercanda bersama dengan dia. "Iya, aku ingin sekali seperti mereka. Tetapi, aku terlalu sibuk dengan kegiatan sekolahku," kata Herli menanggapi Ria. "Gimana kalau kita pacaran seperti mereka? Tetapi, kita pacaran hanya seratus hari saja," kata Ria menawari Herli.
"Kalau kamu merasa tidak cocok dengan aku, kamu bisa mengakhiri pada seratus hari. Tetapi kalau kamu merasa cocok denganku, kamu bisa melanjutkan lebih dari seratus hari," jelas Ria.
"Okelah kalau begitu," Herli menyetujui penawaran Ria. "Kita hitung mulai hari ini ya?" tanya Ria. "Boleh, semoga seratus hari ke depan aku bisa mengerti arti pacaran," jawab Herli.
Akhirnya mereka berdua berstatus pacaran seperti teman-temannya yang lain. untuk pertama kalinya, setelah pulang sekolah mereka langsung jalan-jalan untuk mencari buku. Hari kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, mereka lalui dengan kebahagian. Sepertinya yang mereka pikirkan dulu mengenai rumitnya berpacaran telah terlupakan. Mereka sama sekali tidak terbebani dengan keadaan sekarang. Tak terasa satu bulan pun mereka lewati.
Hari ketiga puluh lima, pada saat itu adalah sabtu dan mereka merencanakan akan nonton bioskop berdua. Sebab, selama berpacaran mereka tidak menonton sama sekali. Pada saat pulang sekolah, mereka langsung pergi nonton. Setiba di mal tempat mereka nonton bioskop, Herli langsung mengantre untuk membeli tiket dan Ria membeli makanan untuk nanti pada saat nonton. Mereka menonton film komedi karena Ria tidak berani melihat film yang berbau horor.

"Gimana? Lucu filmnya?" tanya Herli setelah film yang ditonton selesai. "Lucu banget, kayak kamu pemain utamanya. Ha..ha..ha..." jawab Ria lantas tertawa terbahak-bahak. "Tidak apa-apa, jelek-jelek gini yang penting kan pacarmu," kata Herli.

Hati Ria langsung tersentuh, padahal status pacaran mereka hanya main-main. Akan tetapi, Herli melewatinya seperti pacaran betulan. Ria langsung menggandeng tangan Herli dan mengajaknya mencari tempat makan. Mereka melewati hari ini dengan keceriaan.
Dua minggu kemudian, mereka melihat konser band Ungu di mal. Namun, setiba di rumah Ria, ayah dan ibu Ria menunggu di teras rumah. Tiba-tiba ayah Ria memanggil Ria dan Herli. "Bagus ya, sekarang berani keluar malam-malam. Kamu tidak tahu, sekarang pukul berapa?" ucap ayah Ria marah-marah.
"Maaf Om, memang saya yang salah, saya mengajak Ria tanpa izin dahulu sama om dan tante sampai larut malam begini," kata Herli sambil menundukkan kepala. "Ria sudah besar Yah, Ria sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, Ria meminta kebebasan sama ayah dan mama," kata Ria kepada ayahnya dengan nada membantah.

"Sudah alasan saja kalian berdua, kamu, Ria cepat masuk rumah. Lalu kamu cepat pergi dari sini dan jangan coba-coba dekat-dekat dengan Ria!" kata ayah Ria sambil menunjuk Herli.
Herli pun pulang dengan perasaan sedih. Dia menyesal karena tidak izin kepada orang tua Ria sebelum mengajak Ria pergi. Setiba di rumah, Herli menuju kamar dan langsung tidur meninggalkan beban hari ini.
Hari-hari terlewati begitu cepat dan tak terasa. Mereka berdua sudah melewati hari kedelapan puluh, hari kesembilan puluh, dan seterusnya. Sampai pada hari kesembilan puluh sembilan, Ria mengajak Herli hanya jalan-jalan di taman kota. Di taman kota Ria mengajak Herli duduk karena mereka kecapekan setelah jalan-jalan berputar-putar taman.
"Kamu capek Sayang?" tanya Ria sambil mengusap keringat di kepala Herli dengan sapu tangan."Begitulah, tapi aku senang bisa jalan-jalan dengan kamu. Bikin capek ini hilang." kata Herli.
"Ah, kamu itu. Ya udah aku carikan minum dulu yah?" tawar Ria. "Nggak usah, biar nanti saja, cari sama-sama. Kamu juga kelihatannya capek gitu," ujar Herli sambil memegang tangan Ria. Udahlah, tidak apa-apa. Aku kasihan lihat kamu yang kecapekan seperti ini. Aku cari minum dulu ya?" kata Ria.
Dia bergegas meninggalkan Herli untuk mencari minum. Namun, Herli menunggu Ria sangat lama. Herli merasakan sesuatu yang tidak wajar. Herli cuma berpikiran bahwa itu hanya imajinasi. Sudah satu jam Ria meninggalkan Herli sendirian. Tiba-tiba orang-orang berlarian, ke arah Ria membeli minum tadi.

"Ada apa, Mas?" tanya Herli kebingungan. "Ada cewek tertabrak mobil," jawab seseorang sambil berla­rian. "Di mana, Mas ?" tanya Herli. "Di depan sana," jawab
seseorang.

Tak berpikir lama, Herli melihat kejadian itu. Dan, yang tertabrak itu adalah Ria, kekasihnya sendiri. Herli sangat menyesal. "Seharusnya aku saja yang seharusnya membeli air minum," kata Herli sambil menangisi Ria.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku cuma mau bilang bahwa selama seratus hari ini sudah kita lewati bersama. Aku juga jujur bahwa selama ini aku merasakan kecocokan sama kamu dan ingin selamanya kamu di sisiku!" ungkap Ria kepada Herli. "Aku juga senang bisa seratus hari jalan sama kamu dan aku juga sayang sama kamu. Aku mau jadi kekasihmu selamanya," jawab Herli.
Ria tersenyum senang, lalu Herli me­meluk Ria dengan rasa sayang hingga Herli tak menyadari bahwa Ria sudah mengembuskan napas yang terakhir pada saat dia me­meluknya. ***

based on story from my friend @sidoarjo .. he is EDDY YUDHA .Y. ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger