Hari ini pelajaran olahraga, tidak di sekolah, tapi di salah satu lapangan umum tentara di kawasan dekat Stadion Gelora Pancasila Surabaya, namanya lapangan Bogowonto. Aku naik angkutan umum kesana. Setelah turun dari angkot, aku masih harus berjalan sekitar 500 meter untuk sampai ke lapangan.
Aku mungkin agak terlambat datang, tetapi beruntung sekali diriku, guru olahragaku belum datang. Aku menghampiri Indah yang bersama dengan Ratna, Wiwin, dan Ruda.
“ Tumben Telat…???” Tanya Indah padaku, memang aku tidak pernah telat sebelumnya, karena biasanya akulah yang datang paling awal.” Semalem tidur malam gara – gara liad konser Ungu.. biasa….hehehe..” jawabku sambil meringis.
“ Meringis aja bisanya.. untung Pak Pri datangnya agak telat.. kalo enggak bisa kena hukuman kamu nta…” ucap Ratna yang ikut – ikutan menceramahiku. Pak Pri adalah guru olahragaku, nama lengkapnya Supriyadi.
Tiba – tiba Adi, salah seorang teman laki – laki yang paling dekat dengan siswi perempuan dikelas menyenggol bahuku.
“ Aduh.. apaan sih Pi…” ucapku, Papi adalah panggilan untuk Adhi.
“ Tuh.. gebetanmu lagi mesra – mesraan ama pacarnya… really that..gak cemburu…????” Aku hanya menatap mereka, Putra dan Ani, aneh banget, kemarin bilangnya bertengkar, eh sekarang udah balikan, cepet banget,batinku.
“ Waduw… pagi – pagi kok kayaknya panasnya minta ampun ya…” celetuk adhi. Aku lalu menoleh padanya. Ingin rasanya ku ktuk kepalanya, kurang ajar memanfaatkan kesempatan untuk mengejekku. Aku hanya meliriknya saja.
“ Apaan sih.. udah ah.” Aku lalu berjalan mendahului di depan mereka. Kesal rasanya diperlakukan seperti itu, gara – gara Putra sih. Dan tak bisa akku tidak untuk tidak melihat Putra sedikit saja. Miris sekali aku menatapnya.
Pelajaran olahraga hari ini adalah lari jarak jauh, well .. aku sangat tidak suka itu, membuat capek.
Tak nyana saat giliranku lari, karena nomor absenku 22 dan nomor absen Putra 21, alhasil aku berlari baren dia dan juga Ani yang mendapat nomor absen 24, sungguh rasanya aku ingin ganti nomor absen. Kenapa juga nomor absenku berada diantara dua sejoli ini. Huft.. menyebalkan sekali.
“ fhatus …” teriak seseorang dari belakang. Aku menoleh, dan ternyata orang yang memanggilku adalah, Putra. Jdeerr ..!!! ada apa lagi ini…aku tak berhenti malah mempercepat lariku. Dan sepertinya Putra juga mempercepat larinya agar bisa menyamaiku. Tapi sayang sekali, kami lebih dulu sampai di finish sebelum dia menyapaku saat lari tadi.
Akupun berjalan kearah Indah yang sedari tadi sudah duduk setelah berlari. Dan entah sadar atau tidak diriku ini, aku malah melewati Putra yang duduk tak jauh dari Indah duduk. Alhasil, tangan kananku ditarik sampai aku duduk, disampingnya. Dua kali sudah aku mengalami hal ini, pantatku rasanya sakit sekali.
“ Aduuh.. apaan sih, Put..!!!” ucapku kesal
“ kamu kenapa sih… dari tadi tampangnya butek amat…” tanyanya kala itu, dengan masih memegang tanganku. Sedikitpun ia seperti tidak peduli ada Ani disana, jantungku malah dag dig dug duer gak karuan.
“ Butek..??? emang aku kayak air selokan. Butek..” aku masih ketus padanya
“ Ya enggak.. kamu sama sekali gak kayak air selokan… tadi kenapa sih.. aku panggil panggil gak berhenti larinnya..jangankan berhenti, noleh aja enggak….” Ucapnya. “ aku marah nih..” tambahnya bernada ngambek.
“ Emangnya aku peduli gitu..???” ucapku. Ia menggangguk.” Sama sekali enggak…!” tambahku.
“ Kok gitu ..beneran nih gak peduli…”
“ Enggak.. ngapain pake peduli…!!”
“ Pake nanya lagi.. Aku kan sayang kamu.. jadi kamu harus peduli ma aku…” ucapnya.
“ Bodo amat…” akupun lalu berdir untuk berpindah tempat, tak enak hati rasanya dengan Ani. Putra ini gila, sedikitpun ia tak risih meski ada Ani didekatnya.
“ Eeeeh.. mau kemana..” ditariknya lagi tanganku. Sakit.
“ Aduuhh… sakiit tau..!!”
“ Ya maaf, makanya disini aja…” ucapnya sambil, lagi – lagi menatapku, sungguh tatapan yang tak bias aku hindari. “ Temenin aku …”
“ Idiiih…sapa lo… ogah.. tuh minta si Ani aja yang temenin.. lagian itu kamu pacarannya sama Ani bukan ma aku…” aku lalu mencoba berdiri lagi. Tapi percuma ia menarik tanganku lagi sampai aku terduduk disampingnya.
“ Dibilangin duduk disini aja kenapa sih,, kayaknya anti banget ma aku..” ucapnya
Lagi – lagi aku harus duduk disampingnya. Ya ampun aku aku dengan anak anak yang lainnya, termasuk dengan Ani. Malah kali ini lebih parah, Putra tak mau melepaskan genggaman tangannya itu.
“ Gak bakalan aku lepasin sampe olahraga selesai, ntar kamu kabur lagi kayak tadi…” jawabnya ketika aku meminta ia melepaskan genggamannya itu. Teman – temanku lainnya yang duduk disebelah Putra hanya tertawa, tentu saja bermaksud mengejek.
Alhasil, aku hanya duduk dengan Putra selama pelajaran olahraga sampai selesai. Bahkan, saat Indah memanggilku saja, aku tidak diperbolehkan untuk menghampirinya. Kadangkala aku merasaa Putra seperti anak kecil berumur 5 tahun yang semua kemauannya harus diikuti. Seperti keponakanku yang sangat menyebalkan.
“kalau naik angkot ati ati ya cinta…” ucap Putra didepan teman – temanku. Ya ampun, betapa malunya aku ini.
“ Cieee… iya pasti ati – ati kok….” Seru semua teman – temanku seperti Indah, Ratna dan Adhi tentu saja meraka yang berteriak seperti itu. Aku hanya menghela nafas panjang. Setelah ini kami kembali kesekolah ntuk melanjutkan pelajaran. Aduuuh, aku pengen pulang, batinku. Sementara Putra hanya meringis saja.
“ ya udah aku duluan ya semuanya…”
“ Dagh cinta.. sampe ketemu disekolah nanti…” pamitnya, padaku. Lalu ia pergi. Addduuuh.. aku malu setengah hidup.
“ Kok gak disalamin si Putra nya…” ucap indah ikutan nyeletuk
“ Ih… apaan sih.. udah yuk ah . balik kesekolah…”
“ Cie……ntar dikelas ngapain lagi tuh..” tambah Ratna.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang menahan rasa malu terhadap teman – temanku.
*****
Setelah ganti baju di toilet sekolah, aku pergi kekantin terlebih dahulu sebelum masuk kelas, niatnya sih ingin membeli sesuatu. Tetapi kuurungkan niatku, ada Putra disan, aku tidak mau malu lagi gara – gara dia. Aku lalu berbalik dan kembali ke kelas.
Dan apa yang terjadi setelahnya, seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Putra merangkul pundakku.
“ Ngapain tadi gak jadi ke kantin.?? ” Tanyanya.
“ Males… “ jawabku singkat.
“ Kok gitu sih jawabnya…sewot amat…” ucapnya “ Ndah .. tanggung jawab…!!!” ucapnya pada Indah yang berjalan disebelahku. Indah yang tadinya cuek – cuek saja sekarang jadi menoleh lantaran harus membela diri.
“ What..!!! tanggung jawab apaan…??” Indah bertanya balik pada Putra.
“ Lha ini Fhatus sampe kayak gini ke aku, juteknya setengah idup…”
“ Malah nyalahin aku lagi, mana aku tau .. Tanya aja sendiri dia kenapa, jangan – jangan gara – gara kamu lagi…udah ya Tus.. aku ke kelas dulu ada PR yang belum selesai disini malah bikin emosi…” Indah pun lalu pergi, meninggalkan aku sendiri, tentu saja bersama Putra. Aduh kenapa anak itu pake pergi segala sih…, batinku.
“ Ih.. Indah kok gitu sih.. ditanya malah sewot…” Putra malah ikutan protes. Aku diam saja membiarkan dia bicara sendiri.
“ Putra, udah ya.. aku lagi capek habis olahraga dan lagi gak mood buat bercandaan ma kamu.. oke, aku balik duluke kelas…” aku lalu meninggalkannya duluan. Biarkan saja, saat itu aku benar – benar capek setelah olahraga, meladeni Putra, sama saja dengan aku membuat capek diriku sendiri, belum lagi rasa malu pada teman – teman yang lainnya.
“ Loh… loh kok aku ditinggal sayang…” Putra masih bisa saja menyamai langkahku. Aduh, anak ini membuatku sedikit emosi.
“ Putra.. jangan membuat aku emosi ya ..oke.. don’t disturb me now…”
“ Eh, eh, eh tunggu dulu… “
“ Apaan lagi sih… aduuuh…” ucapku gemas.
“ Ee.. yang tadi itu artinya apaan say… aku gak ngerti…” Tanya Putra dengan begonya. Aku menghela nafas panjang. Aku lupa siapa Putra ini barusan. Lemah dalam pelajaran Bahasa Inggris.
“ Jangan ganggu aku sekarang.. itu tadi artinya .. udah ngerti kan.. sekarang aku mau ke kelas dulu… “
“ Eh eh eh.. sabar kenapa sih…” ucapnya sambil mencegahku lagi.
“ Addoooowww.. Udah deh jangan kayak anak kecil yang semuanya harus diturutin… udah jangan ganggu aku dulu…!!!” ucapku sangat ketus. Aku lalu pergi dan kali ini Putra tak lagi menyusulku. Lega rasanya.
*****
Sampainya dikelas, aku langsung ke bangkuku, sudah duduk disana ada Indah, dia teman sejawatku. Rupanya dia belum mengerjakan PR, tumben sekali dia tak mengerjakan PR, biasanya aku yang selalu menyontek tugas Prnya, sekarang giliran dia yang mencontekku. Meskipun itu pertama kali, tapi merupakan sejarah dalam perjalanan belajarku dikelas.
“ Pengawalmu gimana Tus…????” tanyanya. Bingung aku, pengawal…???
“ Pengawal apaan… kayak presiden aja… mana sanggup aku bayar pengawal …???” tanyaku balik
“ Ya siapa lagi kalau bukan si Putra itu… “
“ Oooh… gak tau tuh tadi aku tinggalin… tau deh sekarang dimana …”
“ Tumben dia gak nguntitin kamu … biasanya kemana – mana nguntitin melulu kayak pengawal…” Indah masih saja terus berucap sambil menulis.
“ Gak tau… biarin aja… tumben kamu gak ngerjain PR..hahaha… biasanya aku yang mencontek sekarang kamu yang nyonyek aku..hahaha..”
“ ha… sudahlah … aku lupa kalau ada PR… baru sekali saja bangga sekali kau..”
“ Loh iya harus dong.. karena untuk yang pertama kalinya seorang Indah Kurniawati menyontek PR punya seorang Fhatus..hahaha… lucu sekali …”
“ Berlebihan..”
“ Hahahaha… biarkan saja… “ Aku tetap saja merasa senang.” Aduh!!” aku ditabrak seseorang, entah aku yang kebanyakan tingkah sehingga menabrak orang itu atau memang orang itu yang sengaja menabrakku. Ternyata Putra, aduuh, kenapa selalu anak itu sih. Tak ada yang lainkah.
“ Ada apaan Tuz..” tanya Indah yang juga kaget dan menghentikan aksi menulis PRnya.
Kali ini beda, biasanya kalau Putra ketemu aku atau hanya tak sengaja melihatku saja dia langsung menyaba ala lebainya dia. Tapi kali ini sama sekali ia tak berkomentar apapun. Hanya berkata “ maaf “dan menatapku sedetik lalu berjalan lagi kearah bangkunya. Dan dia pindah bangku, bangkunya sebenarnya dibelakangku, tapi sekarang dia pindah dibelakang sendiri. Aneh, ada apa dengan dia.
“ Tumben banget pengawalmu gak alay…” tanya Indah. Rupanya dia juga ikut mengamati. Aku tetap tak menghiraukan ucapan Indah, terlalu sibuk melamun. “ FAATTUUUUUUSSS…” ucapnya dengan nada yang agak keras, membuatkusadar dari lamunanku.
“ Apaan ndah…??” tanyaku. Indah menatapku sedikit kesal.
“ Kamu itu ngelamunin apaan..?? aku tadi tanya kok tumben si Putra gak alay ke kamu..??? tadi kamu berantem ma dia..???” tanya Indah lagi. Aku lalu duduk di bangkuku. Mencoba mencerna apa yang terjadi dengan Putra. Apa tadi dia marah ya. Apa tadi aku keterlaluan..soalnya gak biasanya Putra kayak gini. Batinku
“ FHATUS…!!!!”
“ Apaan sih..”
“ heuh… udahlah gak jadi tanya.. percuma… situ sibuk ngelamun dari tadi aku dikacangin…” Indahpun meneruskan menulisnya. Heran dari tadi menulis PR saja belum selesai selesai juga.
Putra kenapa ya… apa dia marah gara – gara tadi. Atau dia emang sengaja bersikap seperti itu…Lamunanku seketika langsung buyar saat mendengar suara gaduh teman – temanku yang mengomentari Putra yang duduk di bangku Ani. Aku jadi ikutan menoleh pada sumber kegaduhan itu. Ku tatap Putra, entah sadar atau tidak ia kutatap.
Tapi tiba – tiba ia menoleh padaku sedetik, lalu kembali sibuk dengan Ani. Yasudahlah, memang Ani pacarnya, wajar saja kalau dia duduk dengan Ani. Tapi kenapa hatiku rasanya marah sekali. Entah kenapa, mataku langsung pedih. Kukedip – kedipkan mataku agar tak pedih lagi, kurasa ada debu yang masuk ke mataku.
Aku lalu menyibukkan diri dengan buku ceritaku. Kutulis saja seenak pikiranku berimajinasi. Aku menulisnya kali ini dengan suasana hati yang kacau. Putra telah berhasil mebuatku bingung dan kacau hari ini, hanya karena satu peristiwa tadi, menyenggolku tanpa berkomentar banyak. Karena biasanya dia tidak seperti itu.
Bahkan saat pulang sekolah yang biasanya dia pamit padaku, kali ini tidak meskipun aku berpapasan dengannya di tempat parkir. Hal itu malah membuat aku semakin kacau dan bingung. Apa semarah itu dia padaku, padahal tadi aku hanya minta dia untuk tidak menggangguku kali ini saja, apa itu terlalu berlebihan. Menurutku tidak, entahlah menurut dia bagaimana. Aku sudah sangat letih hari ini, ditambah lagi aku tak bisa tidur. Alhasil aku tidur terlalu larut melewati tengah malam. Sebegini hebatkah pengaruh Putra bagi hidupku.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar