Juni 09, 2011

SATU NAMA PART VIII “ HOT NEWS “

Aku tiba disekolah, masih nyaris hampir bel. Tapi kali ini kesalahan bukan terletak pada aku yang terlambat bangun tidur. Tapi karena Reza yang mengantarku bangun kesianga. Sial bener di pagi hari. Satpam sekolahku saja sampe menyindir.
“ Tumben mbak akhir akhir ini datengnya nyaris bel … biasanya balapan sama saya datengnya … lagi ada masalah ma cowoknya ya … “
“ ih ... pak satpam apaan sih … ini tadi kaka saya bangun kesiangan, makanya saya datengnya hampir terlambat … “
Aku lalu bergegas ke kelasku, yang letaknya sangat terisolir, sudah di ujung, di lantai dua dan letaknya jauh pula, arrghh rasanya malas sekali naik keatas.
Saat naik tangga, Adhi sudah berjalan menghampiriku.
“ Tuz … ada HOT NEWS … dan aku rasa lebih HOT NEWS dari berita band pujaanmu si ungu itu di tv … “
“ apaan sih pi ... bilang aja mau minjem pr ku … “
“ sialan lo … eh tapi nanti ku pinjam pr kau ya ... aku belum ngerjain soalnya … hehehe … “
“ dasar … udah minggir ... aku mau nyocokin dulu sama punyanya Ratna … “
“ eh dibilangi tunggu dulu … ada hot news Fhatus … “
“ iya apaan …?? “ tanyaku dengan gemas. “ dari tadi ngomong hot news hot news melulu … “
“ Putra JADIAN ma Stella … “ Adhi mengucapkannya semangat sekali. Deg. Jantungku berhenti berdetak. Berita itu benar benar sungguh dahsyat. Mampu menghentikan detak jantungku, menutup akses nadiku untuk mengalirkan darah di dalam tubuhku, dan mampu mengehentikan duniaku meski dalam sekian detik lamanya. Aku membeku. Ketergesahanku kekelas berhenti disana.

Apa – apaan ini, baru kemarin ia berjalan bersama cowok itu, baru kemarin malam, masih bisa dihitung sekitar 10 jam yang lalu, tapi sekarang apa yang didengarnya sungguh diluar nalarnya. Logika memang sudah menunjukkan, bagaimana sisi malaikat dari Putra kemarin, dan sekarang, cowok itu kembali membuat duri diatas jalan yang aku lalui. Sungguh sakit rasanya duri itu. Begitu menusuk.
Tetap tenang Fhatus. Jangan perlihatkan kekecewaan. Stay cool. Aku berusaha setenang mungkin di depan Adhi, seperti tidak terlalu kaget karena Putra sudah berkali kali gonta ganti pacar.
“ trus … kenapa kayaknya heboh banget Pi … “ ucapku setenang mungkin, meski rasanya aku sudah hancur setelah di bom oleh Amerika. Adhi tampak kaget, heran mungkin karena aku bisa setenang itu.
“ Loh … “ Adhi  melongo , heran. “ reaksimu kok biasa aja … kayak gak kaget sama sekali … padahal kamu kan …”
“ apa ... kamu mau bilang kalo aku ini terlalu dekat dengan Putra terus suka sama anak itu … iya … mau maunya kamu dibohongin ma Putra ... kayak gak tau sikap Putra ke aku dari dulu itu gimana aja … “
Aku berusaha menghindar dan kembali berjalan ke kekelas.
“ eh tunggu dulu Tus … serius kamu gak papa … soalnya menurutku, ini diluar pengamatan orang – orang selama ini atas hubungan kamu  ma Putra … tapi yang aku  liad … kamu itu begitu comfort sama dia, meskipun kamu selalu dipermainkan ma dia sengan diperlakuin kayak biasanya itu … tapi aku bisa baca … Kamu  itu suka ma dia … serius ini kamu gak papa … “
“ ya enggaklah … udah ke kelas … katanya mau pinjem PR … “
Aku mendahului Adhi yang masih tampak heran itu. Dan begitu masuk kelas, kurasa cuaca dikelas sudah berubah. Entah menjadi musim apa. Aneh rasanya kalau melihat gelagat teman – temanku pagi ini. Dan entah bagaimana caranya, aku tidak tau, kenapa tiba – tiba pandanganku tertuju pada Putra yang saat itu sedang duduk bersama Stella.
Aku langsung cepat – cepat mengalihkan pandanganku ke arah lain begitu Putra sadar akan tatapanku. Aku tak mau lagi dia bisa membaca apa yang aku rasakan sekarang, tidak mau.
*****
Dan tenyata berita itu bukan hanya sensasi. Stella benar – benar jadian dengan Putra. Dan aku harus bisa menerimanya. Cowok bukan dia saja Fhatus. Come on. Tapi rasanya sulit sekali menampik kalau aku sedang jealous. Dua kali ini Putra jadian dengan teman sekelasku, dan ini menurutku yang paling parah. Kenapa aku harus mendengar kabar ini setelah hari kemarin yang kulewati seperti itu, begitu menyenangkan sampai aku tak mampu mengutarakan kebahagiaan waktu itu.
Adhi menghampiriku saat istirahat, aku duduk di tangga biasanya, yang juga merupakan tempat favorit Putra.
“ mau … “ Adhi menyodorkan snack di depanku, sedikit kaget karena dia juga membuyarkan konsentrasiku yang sudah kususun sedemikian rupa untuk membaca novel pinjaman dari teman sekelasku, Febi.
“ nggak deh… dah kenyang … tadi habis makan nasi goreng di kantin … “ ucapku sambil menutup novel yang kubaca.
“ Putra yang bikin kamu kayak gini … “
“ Apaan … “
“ gak perlu aku ulangi … jelas tadi kamu dengar kok … dan aku yakin … kamu tau maksudku … “
Aku diam, tak bisa berkomentar, karena yang dikatakan Adhi memang benar. Ini gara – gara Putra.
“ enggak kok … kemarin aku kurang tidur aja makanya aku lemes disekolah … “
“ ya udah ... sangkal aja terus … kamu itu kok nyiksa diri … biarin aja ngapa mereka pacaran … toh Putra gak bagus bagus amat  jadi cowok … ngomongnya selangit … gak sama kayak kenyataan … aku aja kadang bingung kenapa kamu bisa tertarik ma dia … “
“ aku gak tertarik ma dia Pi … “
“ okelah … percuma kamu nyangkal … gak akan bisa … “ ucap Adhi yang lagi lagi benar. Aku hanya bisa diam. Tak ingin berkomentar dan tak tahu mau berkomentar apa.
*****
Hari ini aku jarang bercakap dengan Putra, bisa dikata tidak mengobrol sama sekali, jangankan ngobrol, lihat mukanya aja enggak. Jadi gak semangat nih.
Sampai bel pulang sekolah berbunyi pun, aku masih tak bisa menatapnya. Tatapan itu hanya akan menambah kekecewaanku yang tak beralasan ini. Biasanya, sepulang sekolah aku masih menyempatkan diri duduk – duduk di tangga, kali ini tidak. Selain karena aku sedang malas duduk – duduk di tangga, juga karena sudah ada sesorang yang menduduki tempat yang biasa aku duduki.
Stella, ya dia, gadis yang sekarang menjadi pacar Putra, kulihat mereka sedari tadi duduk di anak tangga itu dan kelihatannya belum berniat untuk berdiri dan pergi. Hal itu membuat aku harus menahan diri dikelas untuk sementara sampai mereka pergi dari tempat itu. Aku belum siap lewat di depan mereka.
Dari pada menunggu sambil ngelamun tidak jelas, aku mampir ke lab bahasa yang terletak disamping kelas, disana sudah ada Mrs Ata.
“ Tumben … belum pulang kamu … “
“ lagi malaes aja Miss … gak papa ya aku disini bentar … ya paling gak sampe ada jam pelajarannya Miss Ata disini … “
“ Boleh … lagipula baru jam ke 10 nanti ada kelas disini … kamu bantuin Ibu ngecek tugas temen – temen kamu aja ya … dari pada nganggur … “
“ Iya deh … mana Miss … “ daripada nganggur, gak papa deh bantuin ngecek tugas temen – temen dan kebetulan kelas yang dicek tugasnya adalah kelasku. Dan kertas yang kupegang sekarang adalah kertas punya Putra, aduh Miss Ata ini sengaja ya.
“ coba kamu periksa punya dia … yang Miss denger nih  kamu deket ma dia … nanti kalo salah banyak … kamu marahin dia biar gak salah lagi ngerjainnya … kayaknya kalo sama kamu dia nurut … “
“ ya tapi bukan berarti dia jadi kayak peliharaan saya kan Miss … “ protesku halus. Miss Ata tertawa pelan.
“ tadi Miss sempat ketemu dia di tangga, tapi sama Stella … tumben gak sama kamu … “
“ mereka kan pacaran … ya mana mungkin Putra sama saya sekarang … “
“ wah ... kayaknya Miss nanyanya salah deh … “
“ maksudnya … “ tanyaku
“ Ya keliatannya kamu cemburu tuh … yasudah kenapa jadi ngegosip begini … cek lagi tugas temen – temenmu … keburu nanti ada kelas … “
Aku lalu melanjutkan  memeriksa tugas tugas teman – teman dan mencocokkan jawaban mereka dengan jawaban yang diberi Miss Ata padaku. Banyak yang salah. Beginilah kalo kita dulunya tidak dijajah Inggris, pelajaran ginian rasanya berat banget. Nagalahin Matematika, itu bagi yang tidak tahu seperti kau misalnya, lain lagi dengan anak yang sudah menguasainya.
Fiuh, akhirnya selesai juga mengecek satu per satu tugas teman temanku. Aktivitas ini berhasil membuat punggungku keram.
“ Miss tinggal dulu ya … dipanggil wakil kepsek … kalo kamu pulang duluan gak papa … jangan lupa pintu labnya ditutup oke … terima kasih loh atas bantuannya tadi … “
“ Iya Miss, bentar lagi aku juga niat pulang kok, abis ini kan ada kelas di lab … “ ucapku. Miss Ata tersenyum lalu pergi meninggalkan Lab. Aku lalu merapikan kertas kertas tugas itu, gak mungkin kan aku biarin berantakan. Aku lalu mengambil tasku dan keluar ruang Lab, saat akan menutup pintu Lab, tiba tiba ada sodoran gelas minuman didepanku. Kontan aku langsung mendongak dan menoleh ke samping.
“ Buat kamu nih … pasti capek dan haus … kan  tadi bantu Miss Ata … “ itu Putra, jadi dia belum pulang, ngapain lagi tuh anak.
“ gak usah … aku masih sanggup beli minuman sendiri di kantin … “ aku lalu menutup pintu dan pergi begitu saja. Putra masih bengong dengan sikapku. Tapi detik berikut sepertinya dia menyusulku, setengah berlari.
“ Hei … tunggu dulu … aku udah beliin ini buat kamu masa kamu gak mau  minum  sih … “ ucapnya lagi saat berhasil mendahuluiku dan sekarang dia berada di depanku, bisa dipastikan aku tidak bisa pergi lagi, karena Putra selalu bisa menghadangku agar tidak pergi dari arah manapun.
“ Putra aku capek … aku mau pulang … “
“ aku barengin pulang … kamu pulang kerumah sepupu kamu kan … aku juga belum bawa sepeda … “
“ gak usah … nanti Reza jemput aku … “ Reza memang akan menjemputku, tapi kenapa mendadak feelingku jadi gak enak begini, jangan – jangan …
Suara kodok dari hpku berbunyi,  ada sms . dari Reza
Fha … sorry lagi … gue gak bisa jemput lo … bokap nyuruh gue ke kantornya … gue kira Cuma bentar … tapi ternyata lama banget karena nungu bokap selesai meeting … sorri ya …
Sial ! kenapa Reza selalu gak bisa saat aku tak ingin bersama Putra. Reza masih bisa jadi alasan aku bisa kabur dari Putra, tapi kalo gini, sama aja aku bunuh diri. Tubuhku langsung lemas, kali ini ia harus pulang lagi dengan Putra, karena meski naik angkot pun Putra akan menguntitinya.
“ kenapa … ?? “ tanyanya lembut, seakan sudah bisa menebak apa yang terjadi dari raut wajahku.
“ gak papa … aku mau langsung pulang ...!!!” aku langsung pergi, tak peduli mau Putra mengikutinya atau tidak.
“ Eh tunggu dulu … “ Putra meraih pergelangan tangan kananku. “ kayaknya aku perlu ngomong ma kamu … “
“ soal apa … aku harus cepat pulang Putra … “
“ oke gak masalah … ngomong sambil jalan … gak dosa kan … “ jawabnya enteng. Iya emang gak dosa, tapi aku yang tersiksa. Ya sudah, kali ini aku kalah lagi.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger