Juni 09, 2011

SATU NAMA PART X “ STILL … “

Tapi sepandai pandainya aku menyembunyikan kecemburuanku  itu, tetap saja akhirnya ketauan. Kata Adhi sih, sudah jadi rahasia umum.
“ Fhatus … bisa nanti sepulang sekolah aku ngomong sama kamu … “ ucap Stella suatu ketika saat istirahat. Aktivitas ngobrolku dengan Indah dan Ruda langsung berhenti. Ada apa ya Stella ngajak aku ngomong, soal Putra, opsi dugaan pertama.
Hari ini aku sama sekali tak ada waktu bersapa dengan Putra, aku dikelas, dia dikantin, aku ke kantin, dia di lapangan, mau keperpus juga Cuma bisa lihat Putra yang bermain futsal dari jauh.
Sepulang sekolah, sesuai dengan prediksiku, Stella mengajakku bicara soal … jeng jeng jeng ... Putra. Heuh … rasanya aku sangat malas membahas sosok itu di depan Stella. Kasihan.
“ Mau ngomongin apa Stel ... aku gak bisa lama lama loh … soalnya aku ada acara dirumah … “
“ Hm … gak kok … aku Cuma mau nanya sedikit aja tentang Putra … “ Tuh kan bener.
“ Mau nanya apaan emangnya … kan kamu udah jadi ceweknya … tanya dia aja langsung … biar lebih jelas … “
“ kalo aku nanya langsung … aku yakin gak bakalan dijawab … “
“ loh emang nanya apaan sih … “ aduuh aku jadi grogi gini ya. Telapak tanganku berkeringat.
“ aku pengen kayak kamu … “ ucapnya. Aku tersentak.
“ Kok … ?? “
“ Iya … kamu bisa segitu dekatnya apa Putra … gak ada jarak, bebas mau ngelakuin ini itu … aku pengen kayak kamu biar Putra gak canggung … “
“ Heeee… sejak kapan Putra jadi canggung ma cewek … dia itu kan playboy … eh okelah mantan mungkin … “
“ maksud aku … dia kayak jaga jarak sama aku … emang kita pacaran, tapi tetep aja … aku ngerasa ada jarak diantara kami … kayak ada sesuatu yang bikin Putra gak bisa akrab ma aku ... seakrab kamu ma dia … “
“ eh wait , wait, kamu gak lagi cemburu kan ma aku … kami hanya berteman … gak lebih … “
“ oke emang kalian berteman … tapi jujur Fha … aku iri dengan kedekatan kalian, bahkan saat aku ma dia udah jadian pun dia masih gak risih sama sekali deket deket ma kamu … “ ucapnya lagi. Wah, Stella nyindir aku dengan halus nih kayaknya.
“ jadi maksud kamu apa … langsung aja … tau kan kalau aku rada susah mengerti hal hal yang belibet … “
“ bisa kamu jauhin Putra dikiiit aja … untuk saat ini … aku mohon … “ pintanya. Dieng. Stella sampai segitunya memintaku menjauhi Putra. Apa dia udah bener bener kecantol ma anak itu ya. Kasihan, seandainya Stella tau yang sebenarnya, pasti dia kecewa banget.
“ kenapa mintanya gitu sih Stel, itu sama aja kamu kayak kamu gak suka ma aku terang – terangan … aku ma Putra Cuma teman, gak lebih … “
“ aku minta maaf Fha  … aku tau seharusnya aku gak bersikap kayak gini ke kamu … jujur aku cemburu ma kamu …kamu bisa sedekat itu dengan Putra sedangkan aku tidak … “ nada suaranya mulai meninggi, terlihat sekali dia sebenarnya sedang marah dan kesal. Suaranya tadi membuat anak anak yang berdiri tidak jauh dari kami duduk menoleh ke arah kami, sial. Posisi ini membuat aku sulit.

“ bisa kasih aku waktu … dia pasti gak akan nerima gitu aja aku ngejauhin dia … dulu aku ngejauhin dia pas jadian ma kamu aja dia marah marah … “ ya, aku perlu waktu, bisa dibayangkan ketika pacar orang yang dekat denganmu itu memintamu menjauhinya, tidak mungkin bisa secepat itu. “ aku pulang dulu …bye … “
Aku lalu berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu. Apa apan Stela itu, menyuruhkuk menjauhi Putra. Cemburu yang berlebihan.
“ hei … jalan jangan ngelamun nona … “ Putra. Hampir saja aku menabraknya. Dia juga sih, berdiri pas didepanku saat aku berjalan. Masih dengan gayanya yang menurutku konyol tapi cool itu “ Nanti kalau  nabrak gimana ... aku ditabrak sih fine fine aja ... kalo orang lain … bisa gawat … “ ucapnya, tentu saja iseng. Disaat seperti ini, Putra masih sempat sempatnya bicara seperti itu. “ pulang bareng lagi yuk … “ tawarnya tulus, raut wajahnya sepertinya sangat semangat sekali.
“ hm … gak usah … aku udah dijemput didepan … “ tolakku saat itu, karena memang hari ini bisa dipastikan Aku akan pulang dengan Reza.
“ siapa … cowok kamu … mana aku mau ketemu … “
“ bukan…!!!! Si Reza … “
“ Ooo … lega deh … yaudah aku anter sampe Reza deh … “
“ lega ?? kenapa  … ?? “
“ itu pertanyaan retoris tau … seharusnya kamu udah tau jawabannya …  “ ucapnya. Aku mengibaskan telapak tanganku.
“ sudah … berhenti bercanda … “
“ Stella tadi ngomong apa … “ Deg. Putra tau. Aku harus jawab apa. Aku terdiam sejenak, berfikir apa yang harus kukatakan “ aku mau jawaban jujur … “
“ Cuma bilang dia iri sama aku yang bisa deket ma kamu … udah itu aja … gak usah dibahas lagi … “ aku mengalihkan pandangan ku ke lain arah, agar Putra tak bisa melihat air mukaku yang sebenarnya gelisah dan campur aduk antara bingung, kesal, bodoh, dan tak tau harus mengambil sikap apa.
“ dia pantas kok iri sama kamu … “  ucapannya berhasil membuatku menoleh lagi padanya.
“ loh … ?? “ heran. Putra hanya tersenyum geli.
“ udah pulang sana … si Reza udah kayag orang ilang tuh … kepanasan dari tadi … “ ucapnya sambil melihat kearah Reza yang duduk doatas motornya, menungguku.
“ Fha ... cepetan … panas banget nih … “ teriak Reza kala itu saat melihat kami berdiri di depan gerbang.
“ Aku pulang duluan, Put … kamu mending samperin Stella sana … kasihan dia … “
“ tunggu dulu … “ Putra mencegah  langkahku. “ Stella gak ngomong macem macem kan ma kamu … gak nyuruh kamu ngejauhin aku kan … “ Mati aku. Kok dia bisa tau sih.
“ E … enggak kok … dia Cuma bilang iri ma aku aja … “
“ Bagus deh kalau gitu … dia ngomong iri ma kamu masih wajar dan bisa aku terima … tapi kalo sampai nyuruh kamu ngejauhin aku … aku bakal langsung putusin dia … “
“ Haaaaah … jangan … “
“ Kenapa … kamu tau, dia kemarin bilang kalau aku harus ngejauhin kamu … jelas aku gak mau dan aku gak bisa … “
“ dia udah mulai beneran sayang ma kamu Put … yang aku prediksiin terjadi  juga kan … jangan sampe kamu ambil keputusan yang salah … gak hanya buat kamu … buat Stella dan juga …. “ aku tak bisa melanjutkan perkataanku, sulit, dan rasanya seperti ada ganjalan ditenggorokan untuk tidak melanjutkannya.
“ dan juga buat kamu … iya kan … kamu mau ngomong itu kan … “ lagi – lagi tatapan itu yang aku dapatkan. Dengan kondisi ramai di sekitar kami, tentu saja semakin membuatku ketar ketir.
“ gak … aku gak ngomong gitu … “ elakku.
“ terus lanjutannya tadi apa … “ tanyanya polos.
“ gak ada … udah aku pulang dulu … dagh … “ tapi lagi – lagi Putra mencegah langkahku.
I'm still same as before … gak akan berubah … jadi please … jangan rubah sikap kamu Cuma gara – gara omongannya Stella tadi … “ setelahnya, aku tak bicara lagi, lalu berjalan ke arah Reza yang sudah pasang tampang kusut bak pakaianku yang belum disetrika.
 “ Bro … pulang duluan yah … mampir mampir ke rumah gue … “ pamit Reza dengan berteriak ke arah Putra. Saat itu aku menoleh pada Putra, aku tau raut itu penuh tanda tanya besar. Wajah itu juga akan mengalami dilema.
Ini resiko terbesarnya, meneruskan misinya atau berhenti dari permainan yang sudah ia susun rapi kapan mulai dan kapan ia akan mengakhiri. Rencana memang sudah dibuat, tapi dalam perjalanan, kemungkinan kerikil untuk membuat jatuh tetap saja ada, dan kali ini Putra kena batunya.
Batu itu hampir membuatnya jatuh bahkan nyaris membuatnya tersungkur. Karena jika bicara soal hati, bukan lagi logika yang berbicara, tapi nalar yang akan menguasai segalanya. Tetapi untungnya, Putra masih bisa mengendalikan semuanya sesuai rancana awalnya.
*****
Malamnya, aku mencoba mengerti semua, mengingat ingat rencana Putra dan permintaan Stella. Semua membuatku berfikir, baru juga cinta SMP sudah serumit ini, atau aku yang malah membutanya rumit sendiri.
Dddrrttt dddrrrttt … hpku bergetar. Sms masuk. Kubuka, dari Putra.
“ Gak usah dipikirin … Stella jangan sampe ngebuat kamu ngerasa salah udah deket ma aku … kalau kamu mikir gini terus sampe duduk diteras kayak gitu …. Aku bakal putusin dia sekarang dan ngomong sebenarnya … cepet masuk kamar dan tidur. “
Aku mendelik membacanya, langsung berdiri dan toleh kanan kiri, celingukan ke depan rumah sampe membuka pagar rumah. Putra ada disekitar sini, tapi dimana, kalau dia tidak disini, gak mungkin dia tau kalau aku duduk didepan teras.
Dddrrttt dddrrrttt … hpku bergetar, lagi. Sms dari Putra
“ Gak usah celigukan gitu, kamu gak bakalan bisa liat aku, mending masuk rumah dan tidur, selama kamu belum masuk rumah dan lampu ruang tamunya masih nyala, aku gak akan pulang “
Pake ngancem lagi. Emang dia siapa.
Dddrrttt dddrrrttt
“ malah diem disitu … cepet masuk rumah ... udah malem … “
“ kamu juga ... udah malem masih ada keluyuran …. Iya aku masuk… puas … !!! “ aku jadi mengomel didepan hpku, biar saja, aku yakin Putra bisa mendengarnya.
Aku lalu mausk rumah dan mematikan lampu ruang tamu. Setelahnya masuk kamar dan mematikan lampu utama kamar, hanya lampu meja saja yang masih menyala redup.
Dddrrttt dddrrrttt
“ gitu dong … selamat tidur … nice dreams … aku pulang dulu … see you @ skul besok …inget gak usah dipikirin lagi … “ tersenyum geli juga melihat smsnya Putra. Malam malam dia kerumahnya Reza – maksudku, disekitar Rumah Reza yang entah di bagian mananya – dan marah – marah ngeliat aku duduk berfikir termenung. Putra baik, setidaknya didepanku.
*****

Hari ini aku terlambat bangun, jelas saja , kemarin aku baru bisa tidur lewat jam 12 malam.
“ besok besok kalau tidur jangan kemaleman, untung lo dirumah gue, jadi gue bisa nganterin lo pake motor, kalau lo dirumah lo sendiri, bisa bisa lo terlambat nona … “ ucap Reza saat kami sudah sampai di depan sekolahku.
“ iya iya sorry … kira kira lo nanti telat gak ?? “ tanyaku, aku rasa Reza juga akan terlambat karena juga mengantarku. Reza melihat arloji jamnya.
“ enggak kok …. Masih jam 6.15 … gue bisa ngebut … udah masuk sana … bel bentar lagi bunyi … “
“ thanks ya Za … “
you’re welcome dear …
“ gue masuk dulu … “ pamitku. Reza tersenyum, dan aku langsung berlari kekelasku yang berada dilantai dua dan di bagian paling sudut sekolah ini.
Begitu akan sampai kelas, aku melihat Putra sudah berdiri didepan pintu sambil melipat tangannya diatas dada. Sadar akan suara sepatuku saat lari menaiki tangga tadi, Putra menoleh kearahku, kalau boleh aku tebak, raut wajahnya sedikit lega saat melihatku sampai didepan kelas.

Begitu aku memasuki kelas, Stella sudah menatapku, tatapan itu menungguku ku, menunggu realisasi permintaannya kemarin. Sungguh aku menatap tatapan itu sayu. Aku tidak tega. Stela memintaku menjauhi Putra, sedangkan Putra memintaku agar tidak menjauhinya atau jika tidak dia akan berkata yang sebearnya dan memutuskan hubungannya dengan Stella saat itu juga. Ini sama saja dengan makan simalakama.
Aku turutin Stella salah, aku turutin Putra juga tambah salah lagi. Aku harus bagaimana. Aku membanting bolpoin yang ada ditangaku, mungkin cukup keras aku membantingnya sampai seisi kelas yang tadinya ribut sekarang jadi diam seribu bahasa melihat aksiku.
“ Tus … ada apa … ?? “ tanya Adhi yang sedang mengerjakan PR disebelahku.
“ Heeeh ... emangnya aku ngapain … kok semua jadi natap aku kayak gitu … “ tanyaku bingung.
“ hadddeee … tadi kamu membanting bolpoin kenceng banget … tuh bolpoin sampe amburadul gitu … “
“ oh yaa… masa … “
“ ya emang iya … tuh bolpoinmu dilantai sana … “ adhi menunjuk ke arah baris depan bangku, jauh banget aku membantingnya. Kondisinya mengenaskan, pecah total “ nanti aja waktu pulang sekolah aja ceritanya … oke … “. Rupanya Adhi sudah tau apa yang menjadi latar semua ini. Aku mungkin butuh teman curhat, bukan sekedar berbagi cerita tapi juga mencari solusi.
Aku melirik kearah Putra, tak sangka, Putra dari tadi menatapku. Tatapannya tajam kea arah manik mataku saat tatapan kami bertemu. Tatapan itu juga meminta penjelasan atas sikapku barusan. Aduuuuh, semua membuatku pusing.
*****
 “ aku perlu ngomong sama anak ini Stel, sorry aku gak bisa nemenin kamu ke kantin … “ Ucap Putra kala Stella memintanya untuk menemani ke kantin, dan ucapan itu mampu membuat hati Stella pupus, jelas saja, Putra bersikap seperti itu didepannya, seolah ia tak dianggap sama sekali. Putra lalu membawaku ditempat biasa, tangga sekolah, kali ini bukan tangga yang ada didekat kelas, tapi tangga di gedung seberang yang masih dalam tahap renovasi itu.
“ tadi kamu kenapa … “ ucapnya saat kami duduk, ia lalu memberiku segelas pop ice, sejenis minuman es instant yang sedang termashur kala itu. Aku lalu meminum minuman yang diberikan Putra barusan.
“ gak papa … aku aja tadi juga bingung … “
“ gak mungkin kalau gak papa … “
“ Putra … udahlah … jangan membuat posisi aku semakin sulit, mending kamu jauhin aku dikit deh sekarang, aku gak enak ma Stella juga anak – anak yang lain … kesannya aku gak tau malu banget deket ma cowok orang … “
“ hei … semua juga udah tau kan bahkan sebelum aku jadian ma Stella, bahkan sebelum aku jadian sama Ani … ya meski Ani … “
“ Meski Ani juga mutusin kamu dengan alasan yang sama kan … deket dengan aku … “
“ enggak … ya emang sih itu termasuk … tapi buka itu poin utamanya … Ani mutusin aku karena emang aku ma dia udah gak cocok aja … “
“ Putra dengerin aku … kali ini aja … untuk saat ini … kamu mending nurutin permintaannya Stella … “
“ permintaan apa … dia gak pernah ngomong ke aku … atau bener lagi dugaanku kemarin … Stella minta kamu buat jauhin aku terang – terangan … iya … ?? “
“ Put … kalau aku ada di posisinya Stella … aku juga bakalan  ngelakuin hal yang sama … aku juga pasti cemburu ngeliat pacar aku sendiri dekat banget ama cewek lain … “

“ oke … tapi dia juga harus ngerti dong … aku deket ma kamu juga bukan apa apa … iya kan … jangan kayak anak kecil gitu … kalau sikapnya kayak gitu, sama aja dia gak percaya kalau aku ini pacar dia … “
Bukan apa – apa … kata kata itu telak menusuk hatiku, aku merasa dipermainkan, seharusnya aku sudah sadar, Putra hanya menganggapku teman, mungkin paling jauh teman dekatnya yang nothing special. karena memang dia ngerasa aneh ma kamu Put, seorang pacar bakal deket sama ceweknya … sedangkan kamu … contohnya aja tadi … kamu  lebih milih ngomong sama aku ketimbang nemenin dia kekantin … “
“ Adduhhh Fhatuuss … semua itu ada prioritasnya … aku ngomong sama kamu tentang ini gak bisa diundur besok … tapi kalau kekantin ma dia … bisa nanti pulang sekolah, bisa besok, bisa besoknya lagi … “
“ tapi tetap aja … Stella bakal kecewa ma kamu Put … dia ngerasa jadi yang kedua … “
“ prioritas aku saat ini … bukan pacar Fha … tapi teman dan sampai aku bisa nemuin seorang cewek yang bisa membuat aku membalikkan prioritasku … “
“ ya tapi tetap aja … “
“ udaaah … gak usah dibahas lagi … kalo ngebahas ini bisa bisa kita berdebat terus … gak bakalan selesai “
“ kamu yang mulai … “
“ kok malah nyalahin aku sih … “
“ Iya … kalau gak karna ide konyol kamu buat macari Stella itu … semua gak bakal jadi kayak gini kan … “
Putra ini lebih gila dari orang yang sudah terdaftar di Rumah Sakit Jiwa. Ulahnya yang gak pernah bisa ditebak, sikapnya yang blak – blakan tapi tetap tidak bisa membuka sisi kemisteriusan cowok ini. Tapi diluar semua kegaduhan dan kejailan yang selalu dilakukan, cowok itulah yang selalu ada ketika aku membutuhkannya, kedatangannya sangat tepat waktu, benar – benar saat yang tepat.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger