Agustus 17, 2011

MELODY PART 10


Melody menatap heran pada keduanya, terlebih pada Adit, cowok yang sekarang berdiri persis didepannya. Pandangan keduanya beradu, ada sesuatu dalam perang tatap itu, ada rasa kangen, ada rasa ingin marah, ada rasa ingin memeluk, dan ada rasa ingin menjelaskan satu sama lain.
“ Jadi elo namanya Reza … ya ampun Mel … ini sih temen kampus gue … beda jurusan sih … tapi satu fakultas … “ Ucap Evan kaget. Tidak menyangka bahwa Ryan ini adalah yang dimaksud Melody.
“ Maksud lo … Ryan ini temen sekampus lo … “ tanya Melody untuk memperjelas.
“ Iyaa … biasanya sih sama cewek dia kekampus … kalo gak salah namanya itu …. Hm …. Cindy … iya kan .. cewek lo Cindy kan … yang jadi sekertariat BEM ??? “ Tanya Evan.
“ Iya … “ ucap Evan. Melody langsung runtuh, jadi Cindy itu pacarnya Ryan. Tapi sudahlah, Melody lalu menatap Adit sengit.
“ kapan lo keluar sekolah … perasaan gue duluan yang keluar … “
“ itu urusan gue … lo gak perlu tau … “
“ iyalah, kalau seandainya nih, Adit keluar setelah kita, nah dia bisa jadi sampai duluan, orang tadi kita ngobrol ditengah jalan gak sebentar … “ Sela Lisa menanggapi. Melody jadi diam, tak berkomentar lagi. Lisa benar.




“ Ayok berangkat … “ Tiba tiba Cindy keluar dari dalam rumah. “ Ada lo ternyata … “ lanjutnya lagi begitu melihat ada Melody disana. Ucapannya terdengar sangat sinis, pandangannya apalagi, menampakkan kejelasan ketidaksukaannya pada Melody.
“ Cindy … oh ternyata …. Aduh dunia ini sempit banget ya … “
“ Evan … jadi … Si Melody ini cewek lo … ??? “ tanya Cindy. Tak menyangka bisa bertemu dengan Evan disini, dalam situasi seperti ini.
“ Loh … emangnya kalian mau kemana … “ Sela Melody sebelum Evan menjawab pertanyaan Cindy itu.
“ Kerumah gue … “ jawab Adit. Melody kaget. Secepat itu Adit membawa Ryan ke rumahnya. Padahal tadi pagi Adit sudah menyatakan ketidak sukaannya pada Ryan. Melody bingung, rencana apa yang kali ini disusun oleh cowok itu. Untuk Ryan, untuknya, dan juga untuk Adit sendiri. “ mau gue temuin ma ortu gue … kenapa ??? ada masalah … “ tanya Adit, masih dengan nada sinis, nada angkuh tapi hanya sedikit yang bisa mengerti apa arti ucapan itu sebenarnya.
“ lo sinis banget ma gue dit … gue kan nanya baik baik … “
“ dia ikut juga … ??? “ tanya Cindy. Ucapannyatidak kalah sengit dari ucapan Adit barusan. Semuanya diam, begitu juga Ryan. Sampai ketika Ryan sudah menyadari ekspresi Melody yang berubah.
“ udah gak papa … kamu ikut ya … ??? “ tawar Ryan pada Melody, sejenak Melody melempar senyum kesenangan. Hanya sejenak, karena Melody rupanya bisa membaca situasi Adit dan Cindy yang menginginkan ia tidak ikut. Mata Melody pedih, hatinya sakit.
“ gak usah … makasih …. Kayaknya itu timing buat lo deh supaya bisa ketemu orang tua lo … gak enak kalo gue ikutan … “ ucapnya Melody lesu. Sarat akan kekecewaan yang teramat besar. Melody berbalik. Berusaha menahan setengah mati agar air matanya tidak jatuh.
“ loh…. Mau kemana Mel … “ tanya Evan.
“ lo anter Lisa pulang ya … gue mau keluar dulu bentar … “
“ Loh Mel … Naik apa ??? “ Ucapan Evan tak digubris, Melody sudah lebih dulu pergi sambil berlari, mau dikejar juga percuma, Evan hafal betul bagaimana Melody. Gadis itu kini butuh sendiri. Tatapan Evan beralih pada Adit, menatap sengit seakan ingin melayangkan satu tinju di muka cowok itu. Baru saja akan melayangkan satu bogem tepat di muka Adit, Lisa sudah mencegahnya.
“ Kak udah jangan, tenang dulu … “
“ gimana bisa tenang Lis, Melody sekarang sakit hati, dia kayak tadi itu karena pengen sendiri makanya gak gue kejar … “
“ ya kan gak mesti nyelesainnya kayak gini kan, harus berantem segala … “ Ucap Lisa. Evan berusaha tenang sejenak. Tapi semenit setelahnya pandangannya kembali pada Adit.
“ Lo brengsek ya … !!! lo tau … Melody sakit hati nerima ini semua … mikir dong lo … “
“ lo bilang gue brengsek … apa hubungannya … lo tuh yang gak mikir !!! cewek lo pergi gitu bukan malah disusul atau apa, lo malah stak disini !!! cowok macem apa lo … “
“ cowok ??? maksud lo … gue gitu cowoknya dia … “
“ pura – pura bego lagi lo … “ ucap Adit.
“ Kak Evan ini bukan cowoknya Melody tau … sotoy banget sih lo … “
That should be me … holding your hand …  ringtone handphone Adit berbunyi. Ada telfon, dari Rendy.
“ Halo … “ Ucap Adit.
“ Sob, gue udah cari tau soal Evan … “ ucap Rendy begitu antusias.
“ pelanin dikit suara lo … “ ucap Adit.
“ Oh .. oke oke .. emang lo ada dimana sih … “
“ gak penting .. gimana tadi … “
“ tarik nafas lo biar gak kaget … “
“ buruan Ren, gue gak ada waktu nunggu … “ ucap Adit gemas, sahabatnya ini memang terkadang suka bertele tele.
“ Si Evan itu ternyata sepupuan ma Melody, mereka sering bareng karena mereka emang deket dari kecil … juga karena Melody kadang terlibat di Bandnya Evan “ Ucap Rendy. Telfon langsung ditutup oleh Adit. Adit mematung. Evan dan Melody sepupu ???.
“ Dit ??? kenapa lo … “ tanya Ryan. Adit tak menjawab.
“ perlu lo tau ya dit, lo bisa ketemu ma Ryan, karena siapa, karna Melody, disaat semua orang nganggep Reza udah gak ada, Cuma dia … CUMA MELODY yang masih nganggep dia ada dan masih hidup !!! dan sekarang, lo nyampakin dia gitu aja, kayak dia gak pernah terlibat sama sekali, tega lo … keterlaluan … !!! “ Ucap Evan.
“ dan lo Za, setau gue, dulu lo itu deket banget ma Melody, udah kayak pengantin kemana mana bareng … okelah, mungkin sekarang lo ilang ingatan atau apalah yang bikin lo lupa ma Melody, fine, gak papa … tapi paling enggak lo bisa hargai sedikit gimana perjuangannya dia mertahanin lo masih hidup ke semua orang, bahkan dia sampai sempet sakit gara gara mikirin lo … !!!” Evan lalu menoleh pada Lisa. “ Pulang sekarang Lis… udah gak urusan kan kita … Melody juga udah pergi gak tau kemana … udah lo gue anter pulang … “ ucap Evan. Lisa mengangguk. Merekapun meninggalkan tempat itu.
“ kurang ajar tuh cowok … liat aja .. kalo sampe gue liat dia gangguin Melody lagi, gue patahin kakinya … !!! “ ucap Evan di dalam mobil. Lisa tak berkomentar. Hanya diam. Mobil Evan lalu melesat meninggalkan kompleks perumahan itu.
*****
“ jadi gimana … mau diterusin kerumah lo apa enggak nih … ?? “ tanya Cindy. Adit diam, tak menghiraukan pertanyaan dari Cindy barusan, pikirannya kini sudah melayang layang pada gadis itu, gadis yang sudah ia buat hancur hatinya dalam waktu sekejap.
“ Dit … lo gak papa … “ kali ini Ryan yang bertanya sambil memegang pundak cowok itu.
“ Oh .. iya iya … jadi kok … ya udah berangkat sekarang … “
“ beneran lo gak papa … bisa di cancel kok … “
“ nggak usah … soalnya bokap ma nyokap bakal keluar kota besok, jadi mesti ditemuin hari ini … ya udah yuk berangkat … “
Mereka lalu berjalan ke arah mobil Adit yang terparkir tak jauh dari rumah Ryan. Didalam mobilpun Adit benar benar tidak tenang, pikirannya kacau, bayangan Melody tetap saja tidak bisa ia enyahkan begitu saja. Konsen dit, fokus dulu untuk sementara, ilangin tuh cewek sekarang, ucapnya dalam batin. Berusaha berperang namun ia akhirnya memenangkan, meskipun tak memenangkan sepenuhnya, tapi paling tidak, ia harus bisa menghilangkan Melody sejenak. Adit lalu menghidupkan mesin mobil dan mengendarai mobil itu menuju rumahnya.
Tidak lama, hanya butuh waktu 15 menit, mereka sudah sampai di rumah Adit. Ryan dan Cindy sempat takjub pada rumah itu. Pagar depan rumah itu sudah berhiaskan ornamen kuda putih yang melekat pada tiap batang pagar yang berwarna biru tua. Dan begitu memasuki kawasan rumah, mereka sudah disuguhkan lagi keindahan lain sisi rumah yang didominasi oleh warna biru dan putih itu. Taman mini yang hanya ditumbuhi oleh satu bunga yaitu mawar putih, juga air mancur dengan maskot kuda putih dan lampu air berwarna biru tua juga memberikan nilai estetika tersendiri. Semua serba putih dan biru, karena warna putih adalah warna favorit Adit dan mamanya, sedangkan warna biru adalah warna favorit Reza dan papanya. Dan kuda adalah olahraga favorit papa Adit, tapi tidak begitu juga dengan Reza dan Adit, keduanya malah tidak menyukai olahraga itu.
Belum lagi saat memasuki bagian depan rumah itu, masih tetap sama, kuda putih masih mendominasi aksesoris yang melekat pada istana milik keluarga Adit ini. Dan begitu pintu dibuka, foto keluarga Adit yang lengkap, saat Reza dan Adit masih bersama terpampang dengan jelas dan sempurna. Foto itu benar benar menunjukkan potret satu keluarga yang sederhana tapi banyak memiliki kebersamaan dalam setiap hal.
Dinding - dinding rumah itu didominasi dengan warna putih dan biru muda. Warna kalem yang bisa menunjukkan ketenangan dalam keluarga ini. Setiap dinding rumah itu tidak akan luput dari benda benda klasik yang membuat setiap ruangan akan terasa nyaman disinggahi.
Kini mereka berada diruang tamu. Ruangan itu cukup luas, seluas rumah kontrakan Ryan bila dijadikan satu. Ada pigora foto Adit dan Reza waktu kecil. Ryan mendekati foto itu, mengambilnya dan memperhatikan lagi apa yang terpampang dalam pigora berukuran 5x7 inci itu.
Didalam foto itu Reza sudah mengenakan kalung yang sama dengan Melody, kalung yang ada dalam foto itu berwarna emas, sama seperti yang ditunjukkan oleh Adit padanya tadi.
“ gue panggilin bokap nyokap dulu ya … “ ucap Adit. Cindy dan Ryan mengangguk. “ Biii … bikin minuman ya .. buat dua orang … “ teriaknya
“ iya den … “ teriak bibi dari arah dapur.
“ bentar ya … “ Adit lalu meninggalkan Cindy dan Ryan. Ryan masih sibuk melihat lihat foto foto yang terpampang di ruang itu sedangkan Cindy hanya memilih duduk di sofa sambil membaca beberapa majalah yang sudah ada di bawah meja didepannya.
*****
“ ma .. pa … itu Ryan … yang waktu itu sempat Melody ceritain … “ ucapan Adit itu mengagetkan Ryan dan Cindy, keduanya lalu menoleh, Ryan berbalik, Cindy mendongak lalu berdiri. Mama dan papa Adit terbelalak, kaget tak percaya, ekspresi yang sama dengan ekspresi Adit dan Melody ketika petama kali melihat Ryan.
Mama Adit langsung berhambur memeluk Ryan. Ia peluk cowok itu dengan lembut, dengan penuh rasa kangen, dengan haru dan dengan tangis bahagia.
“ ini bener Reza sayang, … mama kangen sama kamu … mama kangen …” ucapnya disela sela isak tangis saat memeluk Ryan. Ryan menoleh pada Adit. Adit tersenyum dan mengangguk. Melihatnya, Ryan pun lalu membalas pelukan itu. Ada hal lain yang dirasakan Ryan, begitu hangat saat berada dalam pelukan ini. Begitu menenangkan.
“ maaf tante kalau saya masih tidak ingat… “ ucap Ryan. Seketika itu pelukan mama Adit terlepas. Lalu menatap Ryan dengan heran.
“ maksud kamu apa nak ??? “ tanya mama Adit kala itu. Adit lalu menghampiri keduanya bersama sang ayah. “ panggil aku mama ya “
“ ma … Adit bawa Ryan kesini buat ditemuin sama mama sama papa juga … feeling Adit, Ryan ini Reza, tapi dia hilang ingatan … soalnya yang nemuin Reza gadis itu … namanya Cindy … “ Adit lalu menunjuk Cindy, kedua orang tuanya lalu menoleh pada Cindy secara bersamaan.
“ Om .. tante … “ ucap Cindy sambil tersenyum, lalu mencium tangan kedua orangtua Adit.
“ Ohh … kamu yang nemuin Reza dulu … “ Tanya papa Adit
“ Hm … begitulah Om … “
“ Hm .. kok pada berdiri sih … duduk dong … kan gak enak kalo cerita sambil berdiri …”
Semuanya lalu duduk di sofa. Wajah wajah di ruangan itu benar benar bahagia, tapi tidak untuk Adit sendiri. Cowok itu memang bahagia, tapi sebenarnya ia juga merasakan sebaliknya. Dia hancur secara perlahan.
Cindy mulai menceritakan bagaimana awal mula ia bertemu dengan Ryan. Saat gadis itu menemukan tubuh Ryan terbaring tak berdaya penuh dengan lumuran darah di tubuh dan bajunya. Cindy lalu memanggil warga sekitar untuk dimintai tolong. Ia lalu membawa Ryan ke Rumah sakit terdekat. Setelah sadar Ryan tak ingat apapun termasuk tidak ingat namanya sendiri.
Cindy berusaha menghubungi pihak polisi, tapi tidak ada yang tau tentang Ryan, karena dmpet Ryan juga tidak ditemukan di dalam saku celananya saat itu. Jadi sulit untuk melacak keberadaan keluarga Ryan. Karena tidak tahu siapa nama Ryan saat tu, Cindy lalu menamai Reza dengan nama Ryan, nama almarhum kakaknya yang telah lama meninggal dunia.
Dan sejak saat itulah Ryan selalu bersama Cindy kemanapun. Karena Ryan tidak tau apa apa di kota ini. Sampai ketika Melody menemukan Ryan di tempat itu. Kejadian itu sudah lama, bahkan nyaris tak terfikir oleh Cindy bisa menemukan kembali keluarga Ryan.
“ mama seneng banget … bersyukur sama Allah … gak nyangka bisa ditemuin lagi sama kamu … soalnya waktu itu ada jasad yang seperti kamu Za … disebelah jasad itu ada kalung kamu yang mirip sama Melody yang pernah dikasih kakek kamu dulu … jadi kami kira itu kamu … maafin mama ya … seharusnya mama bisa seperti Melody yang begitu yakin kamu belum meninggal … Cuma dia yang terus bersikeras bilang kamu belum meninggal … “ ucap mamanya. Muka Cindy seketika itu langsung berubah, menunjukkan ketidaksenangannya pada saat nama Melody disebut sebut.
“ oh ya … ngomong ngomong soal Melody, dia tau kamu disini … pasti dia seneng banget kamu ada disini Za … “ Ucap papanya.
“ Hm .. pa ma … Za .. Cin … aku pergi dulu ya … ada urusan … kalian kangen kangenan aja dulu … oke .. assalamualaikum … “
“ Eh dit mau kemana ??? “ pertanyaan papanya itu tak dihiraukan, Adit sudah lebih dulu berlari keluar rumah. “ anak itu selalu seperti itu … “
“ mungkin dia mau nemuin Melody pa … “
“ oh iya … kenapa Melody gak ikut, bukannya dia yang lebih dulu tau kamu … “
“ hm .. kalo itu aku kurang tau … “ Reza berbohong.
“ Ah yasudahlah … biarkan saja … Melody sekarang sudah urusan Adit … iya kan Mam … ???“ Ucap Papanya
“ jangan marah loh Za … “ ucap Mamanya “ soalnya dulu kalo Adit mau nemuin Melody aja, gak kamu kasih ijin … hahaha … mama jadi inget itu sampe sekarang … “
“ iya ma … aku udah tau kok soal itu, Adit udah cerita semua … “
“ haha .. ya begitulah waktu kalian kecil … oh iya … Cindy disini tinggal sendirian … “
“ Iya om .. orang tua Cindy Ada di Makassar … Cindy disini karena Sekolah ma Kuliah aja … “
“ Ooo … Za … seumuran kamu kan seharusnya udah kuliah sama kayak Cindy … “
“ Ryan … eh Reza udah kuliah kok Om … satu kampus sama Cindy tapi beda jurusan … yang biayain orang tua Cindy “
“ Cindy terima kasihya sudah menjaga Reza … kalau kamu gak keberatan mulai hari ini Reza tinggal bersama kami … “ Ucap Mama Reza.
Kedua saling tatap.
“ soal pakaian gak usah khawatir, nanti biar dipindahin sama suruhan Om .. bagaimana … Om dan tante berharap sih kamu ngijinin Reza kembali tinggal disini … “
“ kenapa enggak Om … justru Cindy seneng kalau Reza udah ketemu sama keluarganya … “
“ pa... ma … Reza mau ngajak Cindy ngomong bentar ya … berdua … “ Reza lalu membawa Cindy keluar dari ruangan itu ke teras samping rumah.
“ Cindy lo kok malah ngijinin secepet itu sih … “
“ Za … ini keluarga kamu … gak mungkin lah aku ngelarang ngelarang … “
“ terus kamu ??? gimana … ???”
“ aku gak papa … asal kamu bisa ngejaga kepercayaanku sih gak papa … aku gak masalah … lagian kita juga sama sama di Surabaya, kita bisa ketemu dikampus atau jalan bareng … “
“ soal Melody kan aku udah bilang ke kamu … “
“ tapi tetep aja Za … aku juga punya rasa khawatir … Melody itu berarti dalam hidup kamu … iya sekarang ingatan kamu belum pulih … kalau udah pulih … aku takut kamu lupa sama aku … “
Reza lalu memeluk Cindy. Erat. Karena Reza tidak mau kehilangan gadis ini, gadis yang sudah benar benar mengerti bagaimana Reza sekarang.
“ Aku sayang kamu … dan aku gak bakalan lupa ma kamu … sekalipun nantinya ingatan aku bakal balik … insya Allah aku gak lupa sama kamu … kalau lupa ya kamu ingetin sayang … “
Pelukannya terurai.
“ loh kok nangis sih … Cindy kan gak cengeng … “ ucap Reza lalu mengusap air mata di pipi gadis itu.
“ Apaan sih Za … “
“ ya udah kedalam lagi yuk … biar kamu bisa akrab sama orang tua aku…“
Mereka kembali ke ruang tamu. Berbincang bincang tentang selama Reza tidak ada di rumah. Selama Reza masih bersama Cindy. Dan segala hal. Dan sekarang Reza kembali dalam wujud yang berbeda. Reza kali ini tanpa dunia akan Melody, Reza kali ini adalah Reza yang baru dengan sejuta cerita yang ia alami selama semua orang telah menganggapnya tiada.
*****
Sementara Melody, gadis itu kini hanya bisa menerima kenyataan. Reza kali ini bukan lagi Reza-nya dulu. Berbeda. Bahkan meskipun nanti ingatannya sudah pulih pun, Melody yakin, namanya sudah dicoret dalam sejarah hidupnya. Kini gadis itu hanya bisa menatap pohon tempat ukiran namanya dan nama Reza dibuat oleh keduanya 9 tahun silam, disini juga kalung yang ia terima atas pemberian Reza pun dikenakan pertama kali.
Gadis itu menangis, ia harus bisa merelakan seseorang yang berarti dalam hidupya. Ia genggam kalung itu. Berusaha merasakan kenangan manis yang ia lewati dulu bersama dengan pangeran kecilnya. Hanya kenangan.
“ Melody harus bisa menghapus kamu … gimanapun caranya … karena kamu bukan Reza yang Melody kenal dulu … “
Dan semua itu jelas disaksikan oleh dua mata elang yang selalu mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Dengan rasa sakit hati yang nyaris sama, bahkan ketika melihat kepedihan gadis itu tepat didepan matanya sendiri, sosok itu menderita sakit dua kali lipat, karenanya dan karena gadis itu.
Jiwa dan batinnya kini bertarung, apa yang harus ia lakukan sekarang, kepedihan gadis itu adalah hasil dari rencana yang ia lakukan dan ia reaLisasikan sekarang.
Sosok itu akhirnya menyerah, ia menghampiri gadis yang sedang duduk dengan kepala ditelungkupkan membelakangi posisinya berdiri sekarang. Dan kini untuk memegang pundak gadis itupun, rasanya sulit. Apa masih pantas ia hibur gadis ini setelah apa yang ia lakukan.
Dan gadis itu rupanya menyadari ada sesosok yang ada dibelakangnya. Ia menoleh, mendapati sosok itu tengah berdiri dan kini menatapnya dengan tatapan yang tidak kalah hancur. Gadis itu menatap tak percaya.Heran. Takjub dengan apa yang ia lihat.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger