Wajah sesal itu kini terlihat jelas didepan Melody, sedikit luluh. Tapi tidak untuk kali ini. Sosok didepannya sudah benar benar membuat dirinya hancur dalam satu waktu.
“ ngapain lo disini … percuma mau masang tampang semelas apapun juga gak bakalan gue luluh … “. Si objek tidak berkomentar. Tetap diam. Hanya menatap tanpa ekspresi namun sarat akan rasa sesal yang teramat dalam. Ia mungkin bisa menutupi semuanya dari orang lain, tapi tidak untuk gadis ni, Adit tidak bisa menutupi semuanya dari Melody, apapun itu situasi dan kondisinya. “ gak usah sok natap gue kayak gitu … !!!” ucap Melody ketus. Risih juga ditatap Adit seperti itu. Adit tetap bergeming, masih tetap diam, tak bereaksi. “ Muak tau gue ama lo … “.
Hanya dalam hitungan detik, Adit sudah memeluk Melody erat sebelum gadis itu bisa menghindar dari pelukannya. Ia peluk gadis itu kini, dengan segala sesal yang telah menyelimutinya sedari tadi, dengan penuh rasa bersalah yang teramat dalam, dan dengan segala permohonan maaf yang ia punya.
“ demi apapun Mel … aku minta maaf … “ Ucap Adit saat Melody masih dalam pelukannya. “ aku tau aku salah, gak ngomong ke kamu dulu pas mau nemuin Ryan … tapi aku ngelakuin itu karena emang ada sesuatu … “ Ucap Adit lagi. Melody bergeming, tak berkomentar sedikitpun, bahkan berontak atas pelukan Adit pun tidak ia lakukan. Ia sudah letih, lelah menghadapi semua ini, tanganya sudah habis tak tersisa.
Merasa Melody tak memberi respon apapun, Adit melepaskan pelukannya. Nanar. Melody yang ada dihadapan Adit kali ini lebih hancur dari sebelumnya.
“ sadar gak sih Dit, lo nyakitin gue banget, lo gak mau bantu nyari Reza bahkan kekeuh Reza meninggal, tapi kali ini … gue gak masalah lo nemuin ke orang tua lo, karena itu juga yang gue pinginin … Cuma lo itu ngelakuin semuanya seolah olah gue gak pernah terlibat … “
“ Mel … “
“ Reza udah gak nganggep gue Dit, bahkan ingat secuil kenangan dulu aja enggak … yang ada sekarang dia sama cewek itu … emang lo ngomong apa aja ma dia sampe dia bener bener nganggep gue nothing didepannya … “
“ segitu berartinya dia buat kamu … “ kali ini nada Adit bertanya sungguh memelas, mengharap ada secuil celah yang ia bisa masuki antara Melody dan Reza.
“ gak usah nanya, lo udah tau jawabannya … “ Melody melirik leher Adit, matanya membelalak, kalung sakral itu kini tersemat manis di leher cowok itu. “ lepasin itu kalung … lo gak punya hak sama sekali make kalung itu … “ ucap Melody tertahan.
“ ini Reza yang ngasih Mel … kalo bukan dia yang ngasih, aku gak bakalan berani pake … “
“ Ooh … Reza yang ngasih … tanpa ada penjelasan … “
“ Ada … dan kamu mending nanya orangnya langsung … kalau bukan karna dia yang ngasih, aku gak berani make … “ ucapnya. Adit lalu mengusap sisa air mata gadis didepannya itu, merapikan poni poni yang berantakan. Begitu lembut. Jika melihat dari sisi Reza, gadis ini bisa dipastikan tak akan lari darinya, tapi jika dilihat dari sisi gadis ini sendiri, Adit masih was was, karena kapanpun waktunya, gadis ini bisa lepas begitu saja tanpa ia ketahui.
Melody lalu melangkah menjauh dari Adit, membelakanginya kali ini, menatap danau yang menjadi satu simbol dimana ia dan Reza selalu bermain bersama, atau bahkan dua anak itu pernah belajar di tempat ini, menangis, tertawa, atau hal lainnya.
Melody menghirup nafas panjang, mencoba merasakan tiap detil udara yang masuk melalui hidungnya. Mencoba measakan kembali saat saat yang dulu terlewatkan.
Sekarang semua hancur, harapannya bisa menjdi pendamping Reza luluh lantak saat ini. Entah bagaimana nanti ia bisa menata kembali seperti sedia kala.
“ kalau aku … ??? “ Adit berucap lagi. Akhirnya ia bisa pertanyakan pertanyaan itu sekarang. Melody kembali menoleh padanya.
“ Maksud lo apaan … “
“ apa aku gak ada kesempatan buat ngegantiin Reza di hidup kamu … ??? “ ucapnya lagi. Kali ini benar benar membuat Melody tercengang. Kaget.
“ jadi lo ngelakuin ini semua karena ini … “ Ucap Melody. Melody geleng geleng kepala. Tak percaya seegois itu Adit padanya. “ Egois tau gak lo … !!!” Melody lalu pergi dari tempat itu. Sedikit berlari. Adit sama sekali tak menyangka seperti itu reaksi Melody. Diluar dugaannya. Apa yang menjadikan Melody semarah itu dan menganggapnya egois.
Adit lalu menyusul Melody. Ditariknya lengan kiri gadis itu begitu ia bisa menyamai langkah.
“ Mel … ??? denger dulu … “ Ucap Adit lembut. Ia tatap gadis itu sarat akan benar benar menyesal, benar benar ingin ada kata maaf untuknya kali ini.
“ Mau denger apalagi sih Dit, mau lo itu apa … ??? “
“ Aku minta maaf … Aku harus gimana supaya Kamu maafin aku … “
“ maafin apa sih … “ ucap Melody. Rasa bersalah Adit bertambah.
“ Udahlah Mel … kamu pasti tau maksud aku apaan … Aku tau, mungkin aku Cuma mentingin perasaan aku sendiri … tapi jujur, kali ini aku udah gak sanggup lagi nutupin itu semua … Selama ini mungkin aku bersalah, udah sempet sayang sama kamu, sampai sekarang Mel, tapi jujur, aku gak boong, aku sayang sama kamu … “
Melody tak menjawab, bungkam, bukan maksud untuk semakin menyiksa Adit, tapi semata karena dia tidak tau akan menjawab apa. Ia lalu melepaskan genggaman Adit dilengannya itu, lalu berlari meninggalkan cowok itu dalam ketercengangan akut. Percuma, ia kejar gadis itu sekarang, tidak akan merubah keadaan. Dibiarkannya gadis itu terlepas dari genggamannya.
Ini yang menjadi momoknya selama ini, kehilangan seorang gadis, yang sebenarnya ia tidak memiliki hak akan gadis itu. Gadis itu milik Reza, sampai kapanpun. Tapi Tuhan sudah menanam rasa ini dalam dirinya, jatuh bangun ia menghapus, saat itulah rasa itu semakin tebal, semakin mencoba untuk menghindar, tapi hasilnya tetap saja bertahan.
Entah kenapa, bayangan kebersamaannya dengan Melody muncul begitu saja, saat pertama bertemu gadis itu pada waktu MOS, saat ia pertama kali tau ia adalah Melody yang ia cari, saat pertama kali ia melihat begitu takutnya gadis itu di dalam gelap, saat pertama kali melihat gadis itu bermain alat musik dan bernyanyi, masih banyak lagi. Sedikit tawa muncul begitu saja saat mengingatnya. Kebersamaan itu ingin ia ulang.
*****
Melodi kerumah Reza. Tanpa sepengetahuan Adit, gadis itu pergi dengan sendirinya.
“ Eh .. Melody .. wah kebetulan kamu datang, Ada Reza didalam … kamu pasti kangen kan sama dia … “ Mama Reza yang membukakan pintu untuknya. Melody tersenyum mendengar ucapan Tante Nila. Senyum getir sebenarnya, mendengar nama Reza disebut seperti memberi paku di atas kulitnya.
“ Iya tante … “
“ Ayo masuk … Reza ada di ruang tamu … “
Melody lalu berjalan ke arah ruang tamu bersama tante Nila. Jantung Melody berdebar hebat, telapak tangannya berkeringat. Gugup itu pasti yang ia alami sekarang.
“ Reza .. coba liat siapa yang datang … ada Melody … “ tante Nila begitu senang mengucapkannya. Reza, Cindy dan Om Dimas menoleh bersamaan.
“ Melody … sini sini dduk disebelah Om .. wah kamu masih ingat rumah ini ya … “ ucap Om Dimas. Melody hanya tersenyum. Air muka Cindy sudah berubah keruh, tak sebening tadi.
“ Hm . yasudah … Om dan tante tinggal dulu ya … biar enak ngobrolnya … “. Tante Nila dan Om dimas pun meninggalkan ketiganya diruang itu.
Merasa ada yang ingin dibicarakan ecara privat karena sedasri tadi Melody hanya diam, Cindy lalu berinisiatif untuk keluar dari tempat itu juga.
“ kayaknya kalian perlu ngomong … gue keluar aja ... “
“ Cin .. “ ucap Reza.
“ Udah Za … kamu butuh ngobrol ma dia … udah lama gak ngobrol kan … “ Cindy lalu keluar dari ruangan itu. Sepeninggalannya. Ruangan itu sunyi senyap. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Lidah Melody kaku, bingung, apa yang ingin ia bicarakan pertama kali. Reza yang ada didepannya kini, bukan Reza yang ia temui 7 tahun yang lalu.
Melody tak tau, Reza juga tersiksa kali ini, ia mulai mengerti jika gadis didepannya ini sangat membutuhkannya sebagai sosok yang sama dengan yang dulu ia temui, tapi Reza tak mau, Reza tak ingin Melody bergantung padanya lagi. Selain karena Cindy, juga karena sudah ada orang lain yang lebih bisa menemaninya sekarang, melebihi dirinya. Reza jadi serba salah, ia ingin Melody bisa melepas dirinya, tanpa menyakiti hati gadis itu.
“ kalo gak ada yang diomongin mending gue keluar … “ Ucap Reza akhirnya sambil berdiri bersiap pergi. Melody terlonjak dari duduknya.
“ Eh jangan … “ ucap Melody. Ia lalu menghampiri Reza, menatapnya sungguh sungguh. Ia ingin memeluk sosok didepannya ini, ia kangen sekali. Benar benar kangen.
Adit yang baru saja datang, tak menyangka jika Melody sekarang ada dirumahnya.
“ Dimana dia … “ tanyanya pada sang mama kala itu.
“ itu ada di ruang tamu sama Reza … “ mendengar jawaban itu, Adit yang tadinya senang, mimk wajahnya langsung berubah drastis, murung, dan rasa bersalah itu kembali muncul, juga amarah dan kecewa.. tak banyak berkomentar, Adit lalu bergegas ke arah ruang tamu, ia hanya berdiri diambang pintu, tak ingin masuk, karena dari menatap dari sini saja, ia sudah tau apa yang terjadi didepannya.
Ia tatap Melody, gadis itu kini tengah menatap Reza, Penuh harap, terlihat sekali gadis itu sangat kangen dengan sosok didepannya. Ingin memeluk, namun Melody tak mampu melakukan itu. Hanya bisa menunggu, karena Reza sudah ingin pergi dari kehidupannya.
“ Aku kangen sama kamu Za … kangen banget … “
“ Mel … tapi … “
“ Iya aku tau, aku sadar, kamu gak mungkin jadi Reza yang dulu lagi … aku tau itu … makanya aku minta maaf karena udah ganggu hubungan kamu sama Cindy … “ Melody lalu melepas kalung yang pernah Reza berikan padanya. Liontin itu sudah tak sanggup ia kenakan lagi di lehernya. Terlalu berat menanggung semua beban yang harus ia terima karena memakai kalung itu.
Meody meraih tangan Reza, lalu membuka telapak tangannya. Ia taruh kalung itu diatas telapak tangan Reza yang terbuka itu. Berat rasanya, tapi ini harus ia lakukan, supaya kenangan itu hilang.
“ kenapa dikembaliin … ???” tanya Reza. Melody diam sejenak, menghela nafas panjang.
“ Aku udah gak sanggup make kalung itu … “ setelahnya Melody lalu pergi. Kaget, didapatinya Adit berdiri diambang pintu menatapnya. Sayu tatapan itu tertuju padanya. Tatapan itu melihatnya menagis, lagi, kali ini. Berusaha tak menghiraukan, Melody berjalan melewati Adit tanpa sepatah katapun.
Kini hanya ada Adit dan Reza. Adit lalu menghampiri kakaknya itu.
“ Lo bisa liat gak sih, tadi Melody itu pengen apa … ??? “ tanya Adit, suaranya tertahan. Emosinya sudah memuncak, tapi diredam emosi itu mengingat Reza adalah kakak yang paling ia sayang.
“ maksud lo … “
“ dia Cuma pengen lo meluk dia Za … dia kangen sama lo … bisa lo liat itu tadi … “ ucap Adit. Reza tau, maksud Melody tadi, tapi sekali lagi, Reza tak mau lagi memberi harapan pada gadis itu. Sudah cukup Melody menderita karena hilangnya Reza dulu, kali ini cowok itu tak mau lagi menjadi beban gadis itu lagi. Reza hanya diam, tak berkomentar. Ia hanya menunjukkan kalung yang tadi diberikan Melody padanya, pasangan kalung yang sekarang dikenakan Adit.
Adit mengambil kalung itu, menatap dan mencoba mengerti makna benda itu bagi hidup gadis yang sekarang amat disayanginya, pemilik kalung itu sedang rapuh, dan Adit tak mampu mengobati kerapuhan itu.
Adit lalu meninggalkan Reza, yang masih menatapnya dengan rasa bersalah. Bersalah, karena dengan adanya dirinya, masalah ini ada.
*****
Kembali ia kejar Melody yang masih ada di sekitar rumahnya.
“ Mel … “
“ Apa lagi sih Dit … “ Pemberontakan itu lagi yang Adit alami. Penolakan itu lagi yang ia terima. Ia hapus air mata yang sudah mengalir dipipi Melody. Perlahan, lembut dan penuh kasih.
“ berhenti nangisnya … gak akan nyelesaiin masalah kan kalo kamu nangis … “ ucapnya lembut.
Dan entah karena sebab apa, Melody begitu saja lalu memeluk Adit. Pelukan ingin melampiaskan kemarahan, kekecewaan, Adit tau itu, dibiarkannya Melody menangis dalam pelukannya itu sampai gadis itu benar benar bisa menghilangkan sedihnya.
“ gue sayang dia Dit … “
Adit tak menjawab, hanya diam, setiap kata itu diucapkan, setiap itu pula hatinya serasa digurat perlahan. Sakit yang perlahan namun mampu membuatnya kehilangan daya untuk melawan. Dan kini sumber dari segala rasa sakit yang ada dalam dirinya ada di dalam pelukannya, ikut serta merasakan kepedihan gadis ini, juga merupakan salah satu cara untuk menebus semua kesalahan yang ia buat. Paling tidak, berada disamping gadis ini saat gadis ini membutuhkan sandaran, itu sudah cukup membantu menghilangkan semua sesal yang ada dalam dirinya.
Adit akhirnya membalas pelukan itu meski ragu. Ia rengkuh gadis itu sungguh sungguh penuh kasih dan sayang. Dengan seluruh sisa ruang hatinya yang hampa karena gadis ini. Dan bagaimanapun caranya nanti, ruang hampa itu harus diisi. Dan oleh gadis inilah ruang itu harus terisi.
*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar