Agustus 17, 2011

MELODY PART 13


Ada yang berubah, dia hadir dalam kesemuan, dalam bayangan yang tanpa diharapkan, namun kehadirannya nyata dan mengubah segalanya, bahkan takdir yang tercipta pun diubahnya dengan sempurna.

Esoknya, Melody bangun kesiangan, sampai disekolah pun nyaris bebarengan dengan bel masuk berbunyi. Ada sesuatu yang aneh pagi ini, tiap gerak gerik Melody sepertinya perlu untuk dilihat, semua pasang mata yang dilewatinya dikoridor sekolah pun, tidak luput untuk melirik gadis itu, seperti ada sesuatu yang perlu diamati secara lebih dari gadis itu. Geram karena merasa menjadi pusat perhatian mendadak, Melody menghentikan langkahnya.
Tak nyana, Riska muncul dalam situasi itu, bersama 2 orang teman sejawatnya.
“ mau apa lo bertiga … “ tanya Melody saat itu, masih dengan nada yang sama seperti sebelum sebelumnya mereka bertemu, tetap jutek dan terkesan melawan.
“ ckckck … belagu ya lo sekarang, udah ngerasa famous ya bisa ngedapetin Adit … “ ucap Riska dengan segala keirian yang ia miliki pada gadis ini. Kening Melody berkerut.
“ Hah …??? Maksudnya ??? “
“ Pura pura bego lagi lo …”
“ gue gak bego, karena emang gue gak tau … lo kali yang bego, orang gue nanya maksudnya apaan, malah bilang gue bego lagi … “



Tanpa menjawab lagi, Riska lalu menunjukkan foto foto Melody dan Adit, berdua ! dan itu saat mereka di kebun teh kemarin ! tapi masih ada lagi, saat ia bersama Evan. Mau apa Riska ini.
“ Sini mana fotonya … lancang banget sih ngambil foto foto kayak gitu … “ Melody berusaha meraih foto foto itu, tapi tak bisa, tangan Riska jauh lebih cepat menghindar.
“ Eits … mau apa lo … dulu aja ngakunya najis sama Adit … tapi sekarang diembat juga … dan gak hanya itu … lo juga jalan sama Evan … ckckck … gak tau diri lo … “
“ Bukan urusan lo !!” Melody geram, tapi tak tau apa yang harus ia lakukan, siswa siswa banyak yang berkerumun melihat mereka.
Lisa yang baru saja datang memang tidak langsung membantu Melody, ia malah menghindari kerumunan itu. Cepat cepat ia mencari Adit di lapangan basket belakang. Di koridor ia bertemu dengan Rendy.
“ Ngapain lo lari lari … ??? “ tanya Rendy saat menemukan Lisa dalam keadaan tergopoh gopoh berlari.
“ Adit mana Adit mana ??? “
“ tuh di lapangan ... lagi ngelatih anak baru … kenapa sih … “
Tak menjawab.  Lisa langsung berlari lagi kelapangan.
“ hei tunggu … “ Rendy pun ikut ikutan menyusul Lisa menemui Adit.
Sampai di lapangan dengan tidak peduli dengan kondisi lapangan yang ramai dengan hanya anak cowok saja, Lisa menyeruak didalamnya.
“ Adit … “ teriaknya saat itu. Adit menoleh. Tembakan ke ring basket pun ia hentikan. Adit lalu menghampiri gadis itu.
“ Nekat banget lo kesini … gak tau kalo gue lagi ngelatih anak baru … gak enak tau sama mereka … seangkatan ma lo “
“ tau nih anak, mau gue cegah tadi … tapi dia udah keburu lari … larinya cepet juga … “ Rendy pun ikut mengomentari ucapan Adit.
“ sorry dit … tapi kalau gak gawat gak mungkin gue kesini … gue gak tau minta tolong ma siapa lagi … “. Mendengar penjelasan itu, Adit jadi mendadak cemas, ada apa sampai Lisa nekat ke lapangan sendirian.
“ emang ada apa ??? soal Melody … kenapa dia … “  suara Adit terdengar panik
“ Sama Riska di koridor utama … “ Lisa belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Adit sudah membanting Bola basket ditangannya.
“ Lo urus basket dulu … gue kesana bentar … “ ucapnya pada Rendy.
“ Dit … gue belum selesai jelasin … “ percuma, ucapan Lisa tidak memberi efek apapun. Ia lalu buru – buru mengejar Adit yang sudah berlari jauh. Sedangkan Rendy, hanya bisa bengong, sampai detik berikutnya ia lalu mengambil alih tugas Adit melatih basket.
*****
Adit menyeruak dalam kerumunan siswa dikoridor itu. Karena hari ini hari Sabtu yang notabene adalah hari ekstrakurikuler sehingga semua siswa dibebaskan dari jam pelajaran, koridor yang biasanya sepi dengan hanya lalu lalang siswa yang lewat sekarang seperti penonton yag sedang menyaksikan pertunjukan .
“ Minggir … minggir … “ ucapnya sambil menerobos kerumunan siswa itu diikuti oleh Lisa dibelakangnya. Sampai ketika ia berada didepan kedua gadis yang sedang bertatap muka benci itu.
“ Ada apaan sih !!! Ribut amat … “ ucapnya kala itu. Pandangannya lalu beralih pada Riska.  “ Bikin ulah apa lagi lo … “ Riska melengos tak menghiraukan apa yang Adit bicarakan. Cukup sudah kesabarannya selama ini menanti cintanya dibalas oleh Adit, sampai ia beralih pada Evan pun, dua orang yang menjadi target utamanya selalu ada hubungannya dengan Melody.
“ lo liat nih … “ Riska lalu menunjukkan beberapa foto saat Evan dan Melody bersama. Adit melihatnya sekilas. Tidak terlalu ambil pusing karena dia sudah tau yang sebenarnya.
“ Terus kenapa emangnya ma foto itu ?? “ Adit malah berbalik bertanya. Membuat Melody sontak kaget dengan reaksinya. Selama ini tidak ada yang tau hubungan Evan dengannya adalah saudara kecuali Lisa, dan Lisapun tidak akan berani membuka mulut hanya untuk cowok satu ini.
Tidak hanya Melody, Riska pun tidak ada bedanya. Ia mengira Adit akan berterima kasih padanya karena telah menunjukkan bagaimana tingkah Melody diluar.
“ Lo gak marah gitu sama Melody karena dia jalan ma orang lain … “ tanya Riska penasaran. Adit ini sudah buta karena Melody atau apa.
“ buat apa gue marah …Melody bukan cewek gue … jadi, dia bebas buat jalan ma siapa aja … “ Adit lalu menoleh pada Melody “ Iya kan Mel … ??? “ ragu, tapi Melody juga mengangguk juga. Bingung dengan sikap Adit, jika melihat sikap Adit kemarin, seharusnya Adit marah karena Adit tidak tau siapa Evan sebenarnya. Tapi ini, apa yang terjadi dimatanya kini, membuatnya membuka mata ntuk tidak keGRan lagi dengan sikap baik Adit padanya. “ dan buat lo … lo mending urus diri lo sendiri aja deh, ngurus diri aja belum bener, ini malah ikut campur urusan orang … “
Adit lalu melihat sekeliling, masih ramai.
“ ngapain kalian ngumpul disini, udah bubar bubar bubar!!! “ Teriakan Adit itu seperti sihir yang sangat manjur. Semua siswa yang tadinya berkerumun lalu membubarkan diri masing – masing.
“ Lis … lo bawa Melody ke basecamp basket, tunggu gue disana … “ Perintahnya. Lisa lalu menuruti, dibawanya Melody ke base camp ekskul yang dikuasai oleh Adit itu. Sepeninggalan Lisa dan Melody, tatapan Adit kembali pada Riska, kali ini tatapannya lebih sadis mengingat cewek dihadapannya kini memang harus di hadapi dengan kekerasan.
“ ini terakhir kalinya gue mringatin lo … LO JANGAN GANGGU LAGI MELODY … kalau sampai gue tau … lo berurusan sama gue !!! NGERTI !!! “ ucap Adit tegas. Membuat cewek didepannya ini manut manut saja. Riska mengangguk. “ bagus … “ Adit lalu berbalik dan berlalu dengan santai tanpa memperdulikan kondisi Riska yang masih tercengang itu.
*****
Lapangan masih ramai dengan anak basket baru, Rendy memegang kendali kali ini. Adit hanya mengacungkan dua jempolnya dari jauh untuk sahabat karibnya itu. Dia benar – benar sangat membantunya. Dan Rendy membalas jempolan itu dengan senyuman.
Adit lalu menghampiri Melody yang duduk di bawah pohon bersama Lisa. Begitu Adit datang, Lisa lalu berdiri bersiap untuk hengkang. Karena tugasnya selesai, di saat ada Adit, Lisa memilih mundur, karena Adit bisa membuat Melody lebih baik. Lisa memahami itu, selama ia kenal dengan Melody, Cuma Adit yang bisa menembus pertahanan gadis itu. Menembus segala kerahasiaan yang bisa gadis itu tutupi dari orang lain.
“ gue ke ruang OSIS dulu ya Mel, ada yang mau diurus soalnya … Gue duluan dit … “
“ Oke … thanks ya … “
“ sama sama … “
Adit masih saja berdiri, didepan gadis yang duduk tertunduk itu. Menunggu gadis itu sampai mendongak untuknya. Terlalu lama, ia lupa sifat Melody yang akan mampu bertahan selama apapun.
“ mau nunggu berapa lama lo nunduk kayak gitu … udah, ucapan Riska gak usah dipikirin … gue tau lo kok, dan gue juga tau siapa Evan … “ ucap Adit. Melody mendongak. Heran.
“ Maksudnya … ??? “
“ Evan sepupu lo kan … ??? “ lama berfikir, akhirnya Melody mengangguk, masih tertunduk, tak berani melihat ke wajah Adit. Karena Adit sudah tidak tahan dengan sikap Melody, diangkatnya dagu gadis itu sampa terdongak dengan lembut. Lalu ditatapnya gadis itu sungguh – sungguh. “ Lo kenapa sih, ngadepin gue kayak ngadepin setan, takut gitu kayaknya … tenang aja gue gak bakalan gigit … “
“ Apaan sih lo … “ ia lepaskan telapak tangan Adit yang memegang dagunya. Muka Melody memerah, mereka sekarang jadi pusat perhatian, lagi, di lapangan. Adit sudah tak kuasa lagi menahan tawanya, Melody ini terlalu polos untuk hal seperti ini. Mungkin yang ada di pikiran Melody saat ini Adit akan marah padanya setelah tau foto – foto yang diberikan Riska tadi.
“ Lo beneran naksir gue … ??? “
“ Adiiit !!!”
“ Apa siiih … orang aku disini, gak usah teriak teriak … nanti didenger sama anak basket lain loh … “ nada ucapan Adit terkesan menggoda, semakin membuat Melody salah tingkah menghadapinya.
“ Lo tuh nyebelin banget tau gak … “ ucap Melody. Ia bingung, harus bagaimana ia menghadapi makhluk didepannya itu. Terlalu semu. Sifat cowok itu sulit ditebak. Apappun perbuatan yang akan ia lakukan tidak bisa Melody prediksi dengan tepat. Adit lalu mengambil duduk disamping Melody.
“ kalo gak karena Rendy, mungkin sampai sekarang gue gak tau kalo Evan itu sepupuan sama lo … gue pasti masih nganggep kalo dia itu cowok lo atau gebetan lo … awalnya sih gue emang benci, gak suka, karena gue nganggep lo udah punya dia tapi kenapa masih mau naggepin gue … sorry soal yang di kostnya Reza dulu, gue sebenernya Cuma marah aja ada Evan disitu… “ Melody santai santai saja mendengarkan, padahal tak satupun perkataan Adit yang bisa ia tangkap, dipikirannya sudah lebih dulu terisi kemisteriusan Adit dimatanya.
“ Mel lo dengerin gue gak sih … “ Ucapnya gemas sambil memegang pundak gadis itu.
“ Hah … dengerin apaan … ??? “
“ Ah tau deh … gue balik maen basket dulu … “ ucapnya sambil berdiri lalu berjalan ke arah lapangan.
“ Lo jadi cowok ngambekan banget sih … “ ucapan Melody menghentikan langkah Adit. Cowok itu lalu berbalik dan kembali menghampiri gadis itu. Melody benar benar menguji kesabarannya.
“ siapa yang ngambekan … ???” tanyanya begitu berada tepat didepan Melody.
“ Elo lah … lo kira gue lagi ngebahas siapa … “
“ Gue kayak gini juga karna lo … aduuuh, kapan sih lo nyadarnya Mel …”
“ Nyadar apaan sih Aditya … “
“ Nyadar kalo gue suka sama lo … !!! “ Adit setengah berteriak, tidak peduli jika perkataannya itu bisa didengar seisi lapangan. Nyatanay detik berikutnya rasa sesal itu ada. Tidak dalam kondisi seperti ini seharusnya ia mengatakan.
“ Hah … lo suka ma gue … beneran ??!! “ Tanya Melody lagi, hanya untuk memastikan jika yang Adit katakan bukan lagi lelucon. Raut wajahnya sudah sangat bersinar kali ini.
“ Kagak … gue tadi Cuma bercanda … !! “ Ucap Adit datar. Melody langsung lesu. Ternyata bercanda lagi. Kapan sih Adit bisa ngomong serius dikit.
“ Bercanda ya … ??? “ Tanya Melody lagi. Berharap jawaban kali ini tidak membuatnya kecewa. Dan Adit salah menanggapi.
“ Iya bercanda … udah gak usah dipikirin … “ ucapnya santai, tidak sadar, bom didepannya ini akan bersiap meledak.
“ lain kali … kalo lo bercanda … JANGAN KETERLALUAN !!! “ Melody berlalu. Adit tercengang bukan main. Tak menyangka respon itu yang ia hadapi. Melody marah saat ia mengatakan ucapannay tadi adalah lelucon. Apa suasana hati Melody sudah berubah, atau ini hanya semata karena ingin membalas kebaikannya saja selama ini.
Apa yang ia lakukan tadi salah, shit
“ seharusnya gue tadi gak ngomong kalo itu lelucon “ amuk Adit pada dirinya sendiri, kini ia kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan pada gadis itu untuk yang kedua kali.
Ia kejar Melody, sampai ia bisa meraih kembali lengan itu dalam genggaman tangannya.
“ Mel … tunggu dulu … gue belum selesai ngomong … “
“ Apaan sih Dit, lo denger ya … lo gak usah deket deket ama gue lagi, lo gak usah nemuin gue lagi apalagi nyapa gue lagi … gue muak ama lo … “ dilepaskannya genggaman tagan Adit di lengannya dengan kasar lalu berlari meninggalkan Adit dalam kondisi yang masih dalam rasa bersalah.
Sekarang bagaimana lagi ia harus menghadapi gadis ini, dua kali ia mengatakan hal yang ia ungkapkan adalah lelucon.
“ udahlah, mungkin lo tadi grogi sampai salah ngomong, lagian, lo gak mikir mikir kalo mau nembak cewek, gak ada prepare sama sekali pula … “ Rendy muncul begitus aja dibelakang Adit saat itu.
“ dan kali ini dia gak bakalan dengerin gue lagi … “
“ dia marah tadi, berarti dia juga suka ma lo ... nangkep itu gak sih … “ ucap Rendy. Kali ini disimak lagi ucapan Rendy itu. Bener juga, kalau emang Melody tidak mempunyai perasaan padanya, buat apa Melody  semarah itu saat ia mengatakan itu hanya lelucon, kalau memang Melody tidak mempunyai perasaan apapun, seharusnya Melody menanggapinya pun juga tidak serius. Great.
“ Iya ya … pinter lo … gue aja gak kepikiran … hahaha … “
“ dasar lo, kalo urusan cewek aja langsung eror deh … terus rencana lo apaan … “.
Raut wajah Adit berfikir jail. Rencananya kali ini akan benar benar memaksa gadis itu kembali mendengarkannya lagi, meskipun nanti akan menyakiti gadis ini, tapi toh pada akhirnya jika gadis ini memang benar benar membalasnya, ia akan tau seberapa berarti dirinya untuk gadis ini.
Adit lalu melirik ke arah Rendy.
“ Lo mikir kayak gue gak sih Ren … “
“ kayaknya sih gitu, kita kan sama sama gila … “
“ ya udah … kita langsung ke orangnya … “ Ucap Adit semangat. Kali ini ia yakin rencananya akan berhasil.
“ eh tunggu tunggu … orang mana yang lo maksud, nanti beda gimana …” ucap Rendy sedikit ragu.
“ emang yang ada dipikiran lo kira kira siapa … “
“ si Lisa … “
“ Pas … tuh anak juga yang gue pikirin, soal rencana nanti bisa langsung diomongin pas ketemu Lisanya langsung … gimana … “
“ Oke dah … gue sih ngikuuuuut … “
“ Siip … “
Keduanya lalu berjalan lagi beriringan mencari Lisa. Lisa harus bisa menyediakan diri dalam rencana Adit. Karena Cuma gadis itu yang bisa dimintai tolong.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger