Agustus 17, 2011

MELODY PART 12


Melody melepas pelukan itu. Masih dalam kondisi menangis. Entah kenapa airmatanya tidak bisa berhenti mengalir.
“ mau langsung pulang atau jalan jalan dulu … supaya kamu agak tenangan … “ Adit lalu mengusap lembut pipi yang basah itu. udah dong nangisnya … kok jadi cengeng gini sih … “
“ apaan sih lo dit, lo tanya ke mata gue kenapa airnya gak berhenti turun…” ucap Melody. Adit mengulum senyum menahan tawa. GAdis ini selalu membuatnya gemas.
“ Ya udah … jalan jalan dulu yuk … aku mau kasih liat tempat yang bagus…”
“ iya deh …”
“ naik motor ya … “
“ iya terserah … “
“ tunggu sini bentar, aku ambil kunci dulu …” Adit lalu kembali ke dalam. Mengambil kunci sekaligus jaket. Di dalam, Adit bertemu dengan Reza. Tanpa menatap kakak semata wayangnya itu, ekspresi Adit sudah bisa menunjukkan bagaimana ia sekarang.
“ Ini kali terakhirnya gue liat Melody nangis karena lo, terakhir kali !!! “ setelahnya, Adit berlalu begitu saja, meninggalkan Reza yang tercengang.
“ udah biarin aja Za, nanti juga Adit bisa ngerti … “ Ucap Cindy yang kala itu disebelahnya.
“ Iya … “
*****


Melody menunggu diluar, efek menangsi tadi membuat badannya sedikit demam dan lemas. Dan Adit sudah tiba tiba memakaikan jaket di tubuhnya dari belakang.
“ pake ini, kayaknya badan lo mulai demam tadi … “
“ makasih ya Dit … “ ucap Melody. Cowok itu lalu mengacak acak rambut Melody.
“ Iya .. ayo naik … “
Adit membawa Melody ke suatu tempat, tempat yang selalu menjadi persinggahannya untuk menenangkan dan menghibur diri. Melody tertidur selama perjalanan, lalu diraihlah tangan yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Adit menggengganya agar tangan itu tak terlepas ketika lemas tertidur. Kecepatan motornya ia kurangi, agar keseimbangannya tidak lengah.
Gadis ini sekarang bersamanya, akan ia buat gadis ini benar benar lupa dengan sosok yang selalu dipujanya sejak bertahun tahun yang lalu itu.
“ pacarnya sampai tidur gitu … habis diapain mas … “ tanya seorang ibu ketika mereka terjebak dalam lampu merah lalu lintas. Adit menoleh. Kemudian tersenyum.
“ dia sakit Bu … makanya saya bawa dia pulang … “
“ hm … akur banget …jadi inget pas muda …  awas lepas ya nanti bisa jatuh … “
“ Iya … “
Lampu hijau. Obrolan berhenti dan Adit berlalu lebih dulu. Meski kecepatan motornya sudah minim, tetap saja motor Adit berjalan di depan.
Sayang sekali Melody tertidur dan tidak bisa melihat bagaimana pemandangan selama perjalanan menuju tempat favorit Adit ini. Padahal Adit ingin menunjukkannya. Sungguh indah, ingin ia bangunkan putri tidur dibelakangnya ini, tapi tak tega jika melihat wajah kelelahan itu tertidur. Adit baru membangunkan Melody saat mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud. Kebun teh di puncak.
“ Bangun Mel udah nyampe … “ Ia gerakkan sedikit bahunya agar gadis itu terbangun. Dan dengan kesabaran penuh, akhirnya Adit bisa membangunkan putri tidur dibelakangnya itu.
“ Hm … udah nyampe ya dit … Hooooaaamm .. masih ngantuk … hehehe keenakan tidur …”
“ Dasar muka bantal, tidur melulu kamu … sulit banget dibangunin … “
“ hehehe … “ Melody hanya bisa nyengir. Ia lalu turun dari motornya Adit. Lalu menghirup udara segar puncak. Matanya tak berhenti mengitari sekeliling. “ Indah banget dit … “ komentar itu yang keluar dari mulut Melody. Kebun the yang berhampar luas, bukit hijau yang terlihat dari kejauhan, benar benar menyejukkan mata dan pikiran, udaranya sangat segar meskipun ini sudah siang hari. Panas di sini tidak seperti panas di kota yang menyengat.
“ disini … kalo aku nenangin diri, tenang, sejuk, dan biasanya ada anak anak kecil yang main layangan disini, gak tau kok sekarang belum muncul …” ucap Adit sambil duduk di salah satu gubuk kecil.
Melody membalikkan badan, menghampiri Adit. Adit dibuatnya tertawa melihat bagaimana wajah Melody sekarang. Buruk rupa. Hahaha, parah.
“ ngapain lo ketawa … “ tanya Melody, Adit bukan menjawab, masih larut dalam tawanya yang semakin menggila. “ Adit ngapain sih .. ketawa melulu … “ lama lama Melody jadi jengkel ditertawakan terus.
“ hahaha .. liat deh Mel .. mata kamu … kayak panda … kayak cece cece gitu … sipit tapi kantung atasnya besar … hahaha … “ ucapnya ditengah tawanya yang masih belum berhenti.
“ Ihhh Adit jahat deh … ngatain mataku kayak panda .. Ah tau deh … “
Melody ngambek, buru buru Adit melompat dari duduknya dan meraih lengan gadis itu.
“ kok ngambek sih … hahaha … bercanda … tapi emang bener mata kamu bengkak, nangisnya tadi keseriusan, eh malah tidur diperjalanan, gimana gak bengkak …”
“ ya tapi gak perlu lo ketawain kan … “ ucapnya masih cemberut. Duh, gadis ini, pikir Adit, rasanya ingin mencium pipi gadis didepannya ini sekarang saking gemasnya.
“ duilee cemberut … manyun …  udah ah cemberutnya … senyum dulu dong … “ ucap Adit sedikit menggoda. Melody jadi risih mendengarnya. Belum lagi tatapan itu.
“ Ah udah deh gak usah natap gue kayak gitu … iya udah gak manyun, gak usah ditatapin terus … “ ucap Melody buru buru, gugup. Adit semakin menahan tawanya yang hampir pecah saat itu juga melihat tingkah Melody. Dan Adit tidak berhenti disitu. Kali ini ia condongkan wajahnya dan menatap manik mata indah didepannya. Jarak antar keduanya kini bisa dihitung dengan penggaris. Melody semakin was was. Detak jantungnya sudah berdebar diluar batas.
Tak jauh berbeda dengan Melody, sebenarnya Adit lebih grogi daripada itu, tapi ia jauhi rasa itu, kalau ia sama seperti Melody berarti ia kalah.
“ kenapa sih, kalau aku tatapin … heboh gitu … “ pertanyaan itu malah membuat Melody tercengang, apalagi Adit malah tambah mendekat. Tapi kali ini Melody bisa menghindar, ia lepaskan genggaman itu dan melempar jaket yang ada ditangannya ke arah muka cowok itu.
“ apaan sih lo … “ ia langkahkan kaki menjauhi Adit yang menurutnya semakin gila itu. Tapi Adit tak diam, ia malah memiliki seribu akal lagi untuk membuat gadis ini benar benar keluar dari masa lalunya dan bisa masuk dalam dunianya. Ia tarik kembali lengan itu dari belakang, kali ini lebih kuat karena gadis ini juga berontak.
Sampai gadis ini kali ini menghadap ke arahnya, Refleks, Adit rengkuh gadis itu dalam pelukannya. Pelan ia peluk gadis itu, perlahan ia rasakan bagaimana rapuhnya gadis ini, berusaha menutup lubang perih yang gadis ini rasakan dengan pelukannya. Meski awalnya ia berontak, toh Melody akhirnya bisa menerima pelukan itu. Pelukan yang menenangkan bagi Melody.
“ janji, ini terakhir kalinya aku ngeliat kamu nangis … karena dia … “ ucap Adit, terdengar tulus, dan sungguh - sungguh. Melody luluh, dibalasnya pelukan yang sempat ia lawan itu.
*****
Karena cowok inilah, Melody kembali ke masa lalu, tapi sekarang, cowok inilah yang mati matian mengeluarkannya dari masa lalu. Perasaan bersalah Adit memang masih ada, baru akan hilang sampai gadis ini benar benar hilang dari kehidupan Reza. Cukup lama keduanya larut dalam pelukan itu. Senyap.
“ kalo lama lama lo peluk .. bisa bisa gue tidur lagi … “ ucap Melody menembus kesenyapan yang sempat terjadi. Tawa Adit pecah, ia lepaskan pelukan itu.
“ kenapa ?? pelukanku bikin tidur ya … hahaha … “
“ Ah udah deh dit .. pake aku kamu aku kamu .. gue elo kek … sok resmi tau gak lo … “
“ kenapa … ?? “ tanya Adit pura – pura bego.
“ ya gak enak aja … Adiiitt … “
“ ya udah, pertanyaan gue tadi belum lo jawab … pelukan gue bikin tidur ya … emang sedahsyat itu ya efek pelukan gue itu ?? “ ekspresi jail memang terlihat jelas di wajah Adit, belum lagi ekspresi matanya yang benar – benar ingin menggoda gadis ini. Ingin tahu seberapa kuat gadis ini bertahan dalam rayuannya.
Wajah Melody memerah dengan sendirinya. Malu abis. Apalagi muka konyol Adit ini semakin menggila menggodanya.  Melody lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“ Adit udah deh … malu tau … diliatin kayak gitu … “ ucapnya. Tawa Adit semakin pecah. Setelah  tawa itu berangsur berhenti. Diraihnya dua telapak tangan yang menutupi wajah Melody itu. Berusaha membukanya.
“ udah gak usah ditutupin … kenapa sih emangnya … ngapain malu … “ Tutupan itu akhirnya terbuka. Wajah itu masih memerah semu. Dan entah karena terbawa suasana, atau memang karena perasaan hatinya yang sudah tidak kuasa ia bendung lagi.
Adit lalu mendekatkan wajahnya, sementara Melody sibuk memejamkan mata, senyum Adit keluar lagi, ia tahu, gadis ini menanggapi dengan hal yang berbeda.Adit lalu  mencium pipi kiri Melody itu lembut dan lumayan lama. Wajah merah itu sekarang malah bertambah merah, meski demikian, Melody masih tenang tenang saja tidak berontak dengan aksi Adit barusan itu.
“ gue sayang lo … dan itu tulus … “ bisik Adit. Adit lalu mengembalikan posisinya seperti semula. Tinggallah Melody yang membeku.  “ Eh … sorry ya Mel .. kebawa suasana … yang tadi, lo gak usah mikirin … anggep aja gue gak pernah ngomong itu … “. Dan sekarang, gantian Adit yang salting tidak karuan. Membuat kebekuan Melody mencair seketika karena menemukan ide jail untuk membalas perlakuan Adit tadi padanya.
“ kenapa emangnya … gak papa kalo lo sayang gue … yang sayang ma gue kan banyak … hehehe … “ ucap Melody santai. Ia tahu maksud Adit, tapi kali ini ia akan membuat suasana tidak rusak. Laki laki di depannya sudah berusaha membuatnya senyum hari ini.
Adit tersenyum. Gadis ini selalu membuatnya gemas, ingin ia cium pipinya sekali lagi. Melody ini tidak sadar atau hanya pura – pura tidak tahu. Adit tak mengerti itu.
“ hahaha … pede banget sih lo … “ ucap Adit. Melody bersikap santai. Ia akan ikuti permainan cowok di depannya ini.
“ Gak PD… tapi emang iya kan … kalo banyak yang sayang ma gue .. lo marah gak kira kira … “ ucap Melody. Ekspresinya sungguh mengesankan jika ia seperti seorang pacar yang sedang bertanya akan kecemburuan pacarnya sendiri. Adit jadi geli melihat ekspresi itu. Akting yang sangat bagus. Adit memang kalah dengan ekspresi itu. Tapi usahanya untuk membentengi diri agar tidak terlihat kalah pun bisa ia lakukan.
“ apa sih anak kecil … udah deh … “ Ucap Adit cuek. Lalu berjalan kedepan. Aksi Adit kali ini benar benar membuat Melody gemas sendiri. Eh, wait kenapa Melody kayak gini sekarang.
No Mel … No … gak boleh … masa lo suka Adit sih … Aduuuh … “ seriusnya Melody melamun membuatnya lupa akan tekstur jalanan yang tidak rata. Kakinya tersandung batu yang lumaya besar. Membuatnya terjatuh sampai telungkup diatas tanah.
“ Adiiiittt … “ teriaknya. Adit yang sudah jauh didepan mendengar teriakan itu, tergopoh gopoh menghampiri Melody. Ia hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat Melody saat itu. Cerobohnya belum hilang.
“ Ya ampun Mel … ngelamunin apaan sih sampai jatoh kayak gini … tuh liat kaki lo berdarah … “
“ Adit darahnya keluar banyak … nanti kalau kurang darah gimana … aduh dit .. sakit banget ,,, “ Melody jadi parno sendiri. Gadis itu paling tidak tahan melihat darah walau hanya setetespun, apalagi kali ini darahnya sendiri yang keluar.
Adit lalu meluruskan kaki Melody, kemudian membenarkan posisi duduk gadis itu agar menyanggakan tubuhnya  di batang pohon. Adit bingung bagaimana menutupi luka Melody itu agar darah yang dikeluarkan bisa berhenti. teringat, ada slayer di motornya.
“ tunggu bentar ya … “ ia lalu beranjak dan mengambil slayer di jok motornya itu.
*****
Adit lalu merobek slayer itu menjadi dua bagian, satu ia gunakan untuk membersihkan luka Melody dengan air mineral, yang satu lagi digunakannya untuk menutupi luka yang sudah ia bersihkan tadi. Dengan telaten Adit membersihkan luka itu. Meski sesekali Melody selalu merintih karena perih, tapi Adit tetap telaten melakukannya. Melody takut darah, gadis itu pucat seketika saat melihat darah yang dikeluarkan dari luka itu banyak. Kulit Melody sobek, dan sobeknya lumayan parah.
“ sampai di Surabaya, kita ke rumah sakit atau ke klinik buat ngobatin luka lo itu. Biar gak infeksi … “ ucap Adit.
“ kan darahnya udah gak keluar Dit … berarti udah gak papa … lo kan udah jadi dokternya barusan… hehehe “ ucap Melody. Sungguh polos.
“ ya biar gak infeksi Mel, lo sih, tadi jatuhnya semangat amat sampe luka begini parah … nanti kalau darahnya keluar lagi gimana .. hayooo … “
“ ya Adiiit kok lo malah nakutin … “
“ bukannya nakutin, makanya nanti ke klinik … “
“ iya iya … gak pake disuntik ya … awas lo kalo pake disuntik … gue suntik balik lo … “ ucap Melody sambil cemberut. Adit hanya tertawa kecil. Yakin sekali kalau gadis didepannya ini mampu memegang suntik sebiji pun. Melihatnya saja ia sudah ngeri, apalagi memegang atau menyuntikkannya pada orang lain.
“ yakin berani megang suntikan, gue sih gak papa kalo disuntik … “ ucap Adit. Melody jadi mati kutu. Bagaimana ia memegang suntik jika melihat benda itu saja dia sudah jerat jerit ketakutan. Tawa Adit semakin pedah melihat ekspresi itu.
“ udah dong jangan ngambek lagi … pulang aja ya … ngobatin luka lo itu … sebelum infeksi, nanti tambah parah kan berabe urusannya …” ucap Adit sambil mengacak acak rambut Melody.
“ Yah Adit … kan belom liat anak main layangan … “
“ ntar lain waktu kan bisa … luka lo mesti cepet diobatin …Yuk … keburu malem …”. Adit lalu berjongkok membelakangi Melody.
“ Ngapain lo dit … ??? “ cowok itu menoleh kebelakang.
“ ayo buruan lo naik … lo kan belum bisa  jalan … motornya dibawah …”
“ kan gak mesti harus digendong … lo tuntun juga bisa kan … “ ucap Melody. Gadis ini, pikir Adit. Ia lalu berdiri dan menghampiri Melody yang tak jauh dari nya.
“ sayangnya pilihannya Cuma dua … digendong dibelakang, atau lo gue gendong dari depan … hayo pilih mana … ???”
Lama menunggu respon itu, Adit lalu mengambil alih tubuh gadis itu. Ia gendong gadis itu didepan layaknya seorang pangeran yang menolong putrinya yang sedang pingsan. Tatapan keduanya sempat bertubrukan.
“ ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu “ tanya Melody. Jadi grogi sendiri ditatap Adit terus menerus seperti itu.
“ gak papa … gue berasa kayak pangeran ya yang lagi ngegendong permaisurinya … iya gak … ??? “ ucap Adit. Kening Melody berkerut, pipinya bersemu merah, lagi. “ tangan lo …??? “
“ kenapa emangnya … ??? “
“ pegang leher gue supaya imbang … “
Ragu, tapi akhirnya dilakukan jua permintaan Adit itu. Kali ini Melody benar benar grogi, ia tau Adit pasti bisa merasakan tubuhnya yang dingin.
“ gak usah grogi gitu dong … “ tetap saja, Adit belum berhenti menggoda gadis ini.
“ apaan sih dit … “
“ hahaha … lo kalo grogi bikin gue ketawa melulu … “
“ gue loncat nih kalo gak berhenti ketawa … “
“ eh jangan, jangan … aneh aneh aja sih yang mau dilakuin … enggak ketawa lagi deh … “ ancaman itu berhasil, meskipun ancaman itu tidak akan pernah Melody reaLisasikan, gila aja, dalam kondisinya seperti ini nekat meompat itu malah nyari bahaya.
“ badan lo berat juga ya ternyata … “
“ Adiiiiiittt … “
“ hahaha iya enggak … tapi emang berat Mel … “
“ ya udah gue turunin kalo gitu … “
“ eits gak bisa … motornya udah didepan … tanggung … “
“ nah elo bilang gue berat … “
“ iya enggak jadi beratnya … “
Sampai didepan motor Adit, gadis itu lalu diturunkan perlahan.  Melody lalu naik motor Adit setelah cowok itu menaiki motornya terlebih dahulu.
“ tangan lo … ?”
“ ngapain … ??? “ tanya Melody. Tanpa menjawab karena ingin mempersingkat waktu. Adit lalu meraih dua tangan yang ada dibelakangnya dan menariknya. Lalu melingkarkan tangan itu di pinggangnya. Melody tercengang, tapi Adit tak peduli, tanpa berkomentar lagi, cowok itu lalu menghidupkan mesin dan melajukan motornya menyusuri jalan kembali ke  kota pahlawan.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger