“ Loh Mel … mau kemana pagi – pagi gini … biasanya kalau weekend kamu tidur sampe nyaris siang … “ tanya papa Melody begitu melihat anaknya sudah berpakaian rapi pagi – pagi, lengkap dengan tas ungu favorit buah hatinya itu, hadiah pemberian darinya juga saat putri semata wayangnya itu ulang tahun tahun lalu. Apalagi tidak biasanya putrinya itu di hari minggu sangat semangat di pagi hari, plus ditambah apa yang ia lihat kemarin malam saat putrinya itu sampai dirumah, dan setelah pertemuannya dengan Nila dan Dimas, muram dan kusut.
“ Hm … Melody ada urusan Pa … harus dikerjain soalnya … “. Melody tidak bohong, memang ada urusan yang ia harus selesaikan, urusan yang semalaman mengganggu pikirannya sampai ia tidak bisa tidur, bahkan untuk sekedar memejamkan mata saja tidak mampu, bayangan akan kejadian yang ia alami kemarin masih mengganggu pikirannya.
“ Oo … ngerjain tugas … ???“ tanya papanya, sambil memberikan segelas susu coklat yang khusus ia buatkan untuk buah hatinya itu. Melody lalu menerimanya dan langsung menghabiskan satu gelas tanpa sisa.
“ Hm … enggak, Cuma pengen keluar aja … ada urusan dikit … papa ini … tumben tanya melulu … “ Ucap Melody, karena papanya tidak biasa sampai menanyainya sedetail ini.
“ Sama siapa … ??? Lisa ??? “ tanya papanya. Lagi, karena papanya sudah merasa ada sesuatu yang ganjal hari ini dengan Putrinya.
“ hehehe enggak kok Pa … aku berangkatnya sendirian kok … kenapa .. Papa mau ikutan … ??? “ tembak Melody, mulai kesal dengan pertanyaan ayahnya itu.
“ hahaha … kamu ini papa godain dikit aja langsung sensi … sama Mang Ucup aja ya diantarnya … “ ucap papa Melody akhirnya.
“ hehehe … lagian papa juga nanyanya banyak bener, kayak aku mau kabur aja … aku udah bilang sama Mang Ucup biar dianterin … ya udah … Melody berangkat dulu ya … Assalamualaikum … “
“ Walaikum salam, bilang sama Mang Ucup jangan ngebut ngebut … “
“ Loh memangnya mau kemana sih non, tumben tumbenan minggu – minggu gini minta dianterin … biasanya nyetir minta nyetir sendiri … itu pun juga sore hari … tumben pagi pagi udah keluar hayoooooo …. “. Ini lagi ikut – ikutan seperti papanya, batin Melody dalam hati.
“ hehehe … Melody lagi ada urusan Mang … pokoknya nanti Mang Ucup tinggal nemenin doang … oke … “
“ Oke deh … berangkat sekarang nih … “
“ Ya iya … masa tahun depan berangkatnya … “
“ ya ayo … lets go … “
“ Ceilaaa … udah bisa bahasa Inggris nih sekarang … “
“ hehehe … iya dong … meski masih yes no sama kata kata umum doang … kan abis dikasih kamus kecil sama Non, kemarin … “
“ Siiip ... mantap tuh Mang … belajar kan gak mandang umur … yang penting kemauannya … ya udah berangkat … “
Melody dan Mang Ucup lalu masuk mobil. Diikuti juragan keduanya itu.
“ Kemana ini Non … “ tanyanya sambil menghidupkan mesin, bersiap untuk menjalankan mobil.
“ Ke daerah ITATS mang … sebelum masuk Rumah Sakit Haji … “ jawab Melody. Mang Ucup diam sejenak. Aneh, ngapain juragannya itu pergi kesana, jauh sekali dari rumah, dari utara ke selatan.
“ Oke … capcuss … “ meski agak ragu, yasudahlah, diturutinya permintaan majikannya itu, ia tak berani bertanya lebih jauh, karena juragannya yang satu ini bukan tipe orang yang akan memberi tahu seandainya ia bertanya nanti.
*****
Ditengah jalan, Melody tak jadi menyetir sendiri seperti permintaannya pada mang Ucup saat mereka akan berangkat tadi, tapi sebagai gantinya, saat mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud
“ Mang Ucup pulang dulu deh, Melody agak lama soalnya … “ ucap Melody saat ia turun dari mobil. Ia sudah sampai ditempat itu. Dan ia tk mau kebebasannya terhalang dengan mang ucup yang menungguinya, karena bisa dipastikan jika Mang Ucup menungguinya, waktu yang ia miliki juga terbatas.
“ Loh nanti kalau ditanyain Tuan mang Ucup harus jawab apa … ??? “
“ Ya bilang aja Melody yang minta gitu, nanti kalau ditanyain macem macem bilang Melody maksa gitu aja … nanti biar Melody yang ngejelasin ke papa … “. Mang Ucup diam, berfikir, mempertimbangkan apa yang diminta majikannya satu ini.
“ Ya udah kalau gitu … hati-hati ya Non, kalau nanti gak nemu taksi, Non telfon mang Ucup aja biar mang Ucup yang jemput … “
“ Iya … makasih ya mang … “
Begitu mobilnya sudah hilang di ujung jalan. Melody langsung mencari sosok yang ia rasa Reza itu di tikungan. Tempat yang sama ia menemukan bayangan itu. Ia tak mau menunggu dan mengulur waktu lagi.
“ ada warung … gue tanya dulu kali ya … siapa tau mereka pernah ngeliat … “ ucapnya sendiri. Melody lalu berjalan kearah pemilik warung yang sedang mengobrol dengan seseorang itu.
“ Hm … permisi … mau numpang tanya … “. Ucap Melody. Si penjaga warung tidak mengindahkan, malah yang menoleh orang yang diajaknya ngobrol tadi.
Melody terbelalak, kaget luar biasa. Seketika darahnya eperti berhenti mengalir meski jantungnya berdegup kencang. Kakinya kaku, matanya tak berkedip, menatap tak percaya siapa sosok yang ada di depannya kini. Dalam ketersimaan yang luar biasa kini, Melody sungguh tak percaya bisa menemukan apa yang ia cari secepat ini. Sang pangeran kecilnya kini sudah ada didepannya, berdiri dan menatapnya dengan heran.
“ Reza … ??? “ ucap Melody tertahan, pelan, tapi cukup jelas didengar. Kalimat itu sarat akan kerinduan yang begitu dalam, tapi juga ad akelegaan yang sempurna didalamnya.
“ Hm … sorry … tadi lo manggil gue apa … ??? “ ucap “Reza” itu dengan bingung, wajahnya menampakkan kebingungan akan ucapan yang baru saja ia dengar dari gadis didepannya itu.
“ Reza … iya lo pasti Reza … gue gak bakalan salah liat … “
“ Reza …. ??? “ kembali “Reza” itu bertanya, masih heran “ nama gue bukan Reza … nama gue Ryan … “
JDAAAR!! Petir itu menyambarnya dipagi hari, di pagi hari yang cerah tanpa ada mendung yang membuat langit itu sedikit gelap.
“ enggak … gue pasti gak salah orang … lo pasti Reza kan … “ Ucap Melody panik. Ia lalu meraih lengan kanan “Reza”, kemudian menarik lengan jaket yang dikenakan cowok itu. Luka itu ! luka itu masih ada, dan Melody tidak salah melihatnya, ia tidak katarak, apalagi buta, luka itu masih sama seperti yang ia lihat kemarin sekilas.
“luka ini … ‘ gumamnya pelan.
“ hei gadis manis … gue bukan Reza … nama gue Ryan … kenapa sih lo … pake narik narik lengan gue segala lagi … “
“ enggak pasti kamu Reza … aku yakin … aku gak mungkin salah … Reza ini Melody … masa Reza lupa sama Melody … dulu Reza kan janji bakal balik buat nemuin Melody … “
“ Meeel … “ sapaan itu, yang entah dari mana, terhenti kala ia melihat sosok didepannya. Sama seperti Melody, sosok itu juga sama mematung, kaget, tak percaya dengan sosok yang kini oleh Melody dipengangi kedua lengannya. “ kak Reza … “ . Melody menoleh. Ternyata Adit. Ngapain dia disini. Dari mana ia tau kalau dirinya ada disini.
“ Apa lo bilang barusan … kok bisa sama ma yang cewek ini bilang ke gue … sama sama manggil gue Reza … emang Reza itu siapa sih … nama gue Ryan … bukan Reza “ Cowok yang mengaku dirinya Ryan itu terlihat mulai kesal. Ia lalu melepaskan genggaman Melody di kedua lengannya. “ ini lagi … apaan sih pake narik narik gue segala … “
“ Tapi muka Lo … muka lo mirip sama Reza … kakak gue … “ ucap Adit. Melody terbelalak. Kaget, tak percaya. Adit adiknya Reza. Sempit sekali dunia ini.
“ Apa ??? lo adiknya Reza … ??? Adit lo harus jelasin ke gue … “
“ sorry Mel, kalo gue gak bilang ke lo yang sebenernya … gue bisa jelasin nanti … “
“ hei kalian berdua … “
“ oh … sorry sorry … nih gue ada foto lo … emang itu foto diambil sekitar 3 tahun yang lalu di Aussie pas kita liburan … tapi gue gak mungkin lupa ama kakak sendiri … “. Adit lalu mengeluarkan dompetnya. Di dalam dompet itu ada foto Reza bersama dirinya kala mereka liburan di Aussie 3 tahun yang lalu. Dan begitu melihat foto itu, Ryan tampak kaget, foto itu tidak hanya mirip dengan dirinya, tapi memang seperti dirinya.
“ gak salah lagi, lo pasti Reza, Reza belum meninggal … “ Melody masih bersikukuh dengan pendapatnya itu. “ apalagi luka di tangan lo itu, itu bekas luka gak akan bisa ilang sampai kapanpun … “
Ryan terdiam, masih kaget dengan apa yang ia dapati sekarang. ia lalu melihat luka yang ada ditangannya, luka itu memang ada sejak dulu, entah sejak kapan, Ryan lupa.
“ Gue gak tau nih luka sejak kapan, yang gue tau Cuma katanya ini luka kena airpanas … “
“ maksud lo … ??? “ Ucap Adit dan Melody bebarengan.
“ Ryan … !!! “ Teriak seseorang dari kejauhan. Seorang cewek, sepertinya memang seumuran dengan Reza, rambutnya dikuncir kuda dan memakai kaos dan celana jeans. Cewek itu lantas menghampiri Melody, Ryan dan Adit. “ Lo kemana aja sih gue cariin juga … “ ucap cewek itu. “ mereka ini siapa … “
“ Oh kenalin gue Adit dan ini temen gue Melody … “ ucap Adit.
“ Oh gue Cindy … ada urusan apa lo sama Ryan … “ ucap cewek itu ketus. Melody jadi keki dan tersinggung, kesannya kok seperti Melody mengganggu Ryan atau apalah.
“ Kok lo ngomongnya jutek banget sih … kita kesini juga baik baik … “ Melody akhirnya protes juga. Tapi aksinya itu berhasil langsung diredam oleh Adit.
“ Hm … oke sorry … mungkin kalian terganggu, tapi gue ma temen gue juga gak sengaja ketemu sama Reza … hm .. maksud gue Ryan … emang dia siapa lo … sodara ??? “ tanya Adit.
“ gue … gue … gue ceweknya dia … mau apa emangnya kalian … “ jawab Cindy. Melody terperangah, Adit apalagi. Tapi Ryan sama kagetnya.
“ Cindy … “ ucap Ryan.
“ Ryan … aku dari tadi nyariin kamu tau, ayo pergi dari sini … lagian mereka siapa sih … kamu gak kenal kan sama mereka … “
“ Iya … tapi kan … “
“ udah yuk … “ Cindy keburu menarik Ryan sebelum Melody mencegah. Sialan tuh cewek. Batin Melody. Melody ingin mengejar, niatnya untuk berbicara dengan “Reza” harus bisa terwujud. Tapi Adit malah menghentikan langkahnya.
“ Mel … udah … dia bukan Reza … “
“ Adit lo kok ngomong gitu sih … sekarang jelasin ke gue soal lo adiknya Reza !!!” lo pasti udah tau ini lama kan ... iya kan ???!!! “ Adit malah bergeming. “ Adit jawab !!! “
Tapi Adit masih bergeming, memang sejak ia menemukan kalung Melody yang diberikan oleh pembantunya, Adit jadi tau jika Melody yang ia hadapi adalah Melody yang selama ini dia cari. Melodynya Reza. Tapi entah kenapa, Adit memilih untuk diam, sulit baginya untuk menjawab pertanyaan Melody itu.
“ Gue kira lo itu udah baik dit, UDAH BERUBAH, tapi apa … lo Cuma pura pura dan lo Cuma pura – pura baik sama gue, dan kemarin gue yakin lo juga liat Reza kan, tapi kenapa lo ikut – ikutan semua orang kalo Reza udah meninggal … “
“ Mel !!!! cukup !!! Reza itu kakak gue… kakak kesayangan gue … dan asal lo tau, kemarin, iya emang gue liat sosok Reza itu sebelum lo liat dia … gue ancur Mel, gue bingung, semaleman gue gak bisa tidur mikirin kemaren … lo pikir gue gak shock, gue kaget, terus sekarang yang ada dipikiran gue , siapa yang gue kubur 3 tahun yang lalu bareng keluarga gue … oke, gue emang salah gak ngasih tau ke lo siapa gue, tapi gue udah perbaikin diri, gue udah ngerubah sikap gue, dan perubahan itu bukan karena Lo adalah cewek yang bener – bener udah bikin kakak gue terhipnotis, tapi tulus … tulus Mel, bisa lo liat itu ???!!! sekarang terserah lo … terserah … kalo lo masih mau nyari Reza, lo cari sepuas lo … gue mau pergi, nenangin diri … “
“ Okeh !!! lagian siapa juga yang nyuruh lo kesini, gak ada kan, awalnya gue juga niat sendirian, tapi gak tau deh kenapa tiba tiba lo nongol … “ setelah berucap itu, Melody lalu pergi. Tinggal Adit yang menatapnya melongo, niatnya mau pergi duluan, eh kenapa dia yang ditinggal dulu.
*****
Ternyata Melody kembali mencari Reza, sosok yang sekarang ia tau namanya Ryan. Setengah berlari Melody benar benar mengejar langkah Ryan dan Cindy. Membuahkan hasil, meskipun cukup lama ia mencari mereka.
“ Ryan … “ teriaknya, berharap “Reza” bisa mendengarnya dan berhenti. Melody sudah tidak kuat lagi berlari. Gayung pun bersambut. Ryan menghentikan langkahnya bersama Cindy. Ia lalu menghampiri Melody.
“ Aduuh … nih anak kecil mau apa lagi sih lo … !!! “ ucap Cindy sengit. Cewek itu rupanya sangat terganggu dengan kehadiran Melody.
“ ada yang mau gue tanyain Za… oh sorry maksud gue Ryan … “
“ memangnya kamu mau nanya apa lagi sih … kan tadi aku udah bilang kalo aku bukan Reza… “
Melody lalu melepaskan kalungnya.
“ kamu ingat kalung ini … ??? “ tanyanya. Suaranya terdengar serak. Ingin menangis. “ dulu kamu yang ngasihin ini ke aku, katanya hadiah dari eyang kamu … dan dulu kamu juga janji bakal balik ke Indonesia demi kalung ini … karena dulu kamu ikut orang tua kamu keluar negeri dan tinggal di Aussie … “
“ Maaf aku gak tau siapa kamu … apalagi kalung itu … “ ucapan Ryan kali ini benar – benar membuat Melody lemas, lelahnya ia berlari semakin lelah saat mendengar ucapan itu.
“ udah gue bilang kan … percuma … lagian dia gak kenal ma lo … yuk Yan … kita pergi ... nih anak sinting kali ditinggal ma pacarnya … “
Melody mematung, jawaban itu benar – benar membuatnya drop total. Apa dia Cuma mirip. Tapi kenapa terlihat begitu nyata.
Sementara Adit, entah kenapa ia menyesal membiarkan Melody pergi sendirian. Apa itu anak nyari Reza lagi. Aduuuuh bikin repot deh.
“ eits .. tunggu dulu dit, kalo emang lo ngerasa direpotin yaudah lo gak usah susul dia …oke … eh tapi kasian juga kalo dia sampe ditolak kayak tadi lagi … gue susul aja deh … kemana ya tadi arahnya … hm … situ deh kayaknya … “
Dan setelah berputar bolak balik jalan itu itu aja akhirnya Adit bisa menemukan sosok gadis itu. Tapi kondisinya, membuat satu bagian dari hatinya hancur, yang entah karena sebab apa. Gadis itu kali ini terduduk lesu di batu jalan. Dan ia menangis. Buru – buru dihampirinya Melody.
“ mel … “ sapanya, begitu hati – hati. Melody tersentak. Ia lalu buru buru mengusap air matanya, tapi tangan Adit lebih dulu mencegahnya. Adit lalu duduk disamping Melody. “ kalo lo emang mau pengen nangis … nangis aja, gak usah dipendem … “ ucap Adit. Tak nyana, Melody lalu memeluknya. Erat. Dan menangis lagi. Adit bingung, ia tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
“ tadi gue nanya ke Reza Dit, apa dia ingat kalungnya … dia jawab gak tau soal kalung itu … gue ancur dit ngedenger itu … “
Tangan Aditpun akhirnya terulur setelah mengalami perdebatan hati antara menyentuh anak rambut kepala Melody atau tidak dalam pelukannya itu.
“ Kita kan bisa cari tau lagi nanti … gak harus semuanya hari ini kan … semua butuh proses Mel… gak instant … dan gue sekarang jadi punya harapan kalo Reza itu masih hidup, karena lo … lo segitu ngototnya kalau itu Reza bukan tanpa alasan … lo punya alasan itu … bahkan sekarang yang ada dipikiran gue … mungkin aja Reza hilang ingatan atau apa … sampe dia ganti nama jadi Ryan … sama cewek itu lagi … “
Melody melepaskan pelukannya.
“ Lo percaya Reza belum meninggal … ???“ tanya Melody.
“ fifty fifty sih … gue juga gak gampang Mel buat yakin, gue dulu juga ikut makamin kakak gue … “
“ oke gak papa … yang penting lo percaya Reza masih hidup … paling enggak gue punya pengikut … hehehe … “
“ Nyengir aja lo kalau kayak gini … “
“ hahaha … iya dong … “
“ pulang sekarang ya … “
“ hm .. gak ah … males … jalan – jalan aja dit, ganti yang kemaren … kan gue dah janji … kemana gitu … “
Adit tak menjawab, ia hanya menarik tangan Melody dan menaiki motornya.
“ gak usah banyak nanya ya … kalo belum sampe ditempatnya … “ hanya itu yang diucapkan oleh Adit. Dan Melody tidak bertanya apa apa lagi.
*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar