Agustus 17, 2011

MELODY PART 6


Melody kaget, hampir 3 Jam perjalanannya dan ternyata Adit membawanya ke sebuah pemakaman, pemakaman itu sepertinya pemakaman orang berada, karena tata letak setiap makam sangat bagus dan tertata apik. Begitu ia lihat gapura makam itu, tertulis alamat pemakaman itu.
“ Kota Batu, Malang … “ gumamnya “ Adit, lo mau ngapain bawa gue ke Malang … ke makam pula … “ tanyanya saat itu.
“ Ikut gue dulu … nanti kalo udah sampe … baru lo nanya … “
Adit lalu menarik Melody ke arah suatu makam, tepat di ujung baris kedua dari kawasan pemakaman yang tertata apik itu. Tak dipungkiri, Melody gemetar, bulu kuduk di tangannya berdiri semua, sungguh ia takut dipemakaman.  Ia lalu menggenggam lengan Adit erat. Tangan Melody dingin, Adit apalagi. Cowok itu sama gemetarnya dengan Melody, bahkan ia lebih parah, mungkin sekarang, nalar dan logikanya sedang bertarung, tapi tetap, apa yang menjadi niatnya ini harus tereaLisasi. Meskipun ia harus merelakan satu bagian dari dirinya terluka parah akan hal ini, meskipun nantinya ia akan melihat apa yang sebenarnya ia tak ingin perbuat pada gadis disamping ini.

Sekarang mereka sudah berada tepat didepan makam seseorang yang sungguh berarti bagi mereka. Awalnya Melody tak menyadari, apa maksud Adit mengajaknya ke tempat ini. Sampai saat ini mencoba meneliti apa yang ada di makam itu. Dan betapa Melody kaget, terbelalak tak percaya saat membaca ukiran nama di batu nisan itu. Reza Putra Pratama. Itu nama Reza. Melody terdiam. Cukup lama. Tubuhnya kaku. Kaget. Tak percaya. Bingung. Dan masih banyak lagi rasa yang sekarang berperang dalam hatinya.  Nanar, ia pandangi makam itu. Hatinya hancur, keyakinannya selama ini beku sekarang menjadi cair.
“ Mel … “ ucap Adit. Melody tersentak. Kaget. “ kenapa … ???” tanya Adit.
“ Ini beneran Reza dit ??? apa lo yakin … ??? “ tanyanya, suaranya gemetar, begitu juga tubuhnya. Melody lunglai, tulangnya kini tak bisa menyangganya lagi, ia terduduk lesu disamping makam itu, makam yang masih terawat dengan baik, masih bertaburan bunga segar, sepertinya sebelum mereka datang,   ada yang datang ke makam  ini. Ia sentuh makam itu, ukiran nama diatas batu nisan itu. Air matanya akhirnya jatuh, inikah yang harus ia terima, haruskah ia mempercayai semua ini dan mengubur harapan tinnginya bahwa Ryan adalah Reza yang selama ini orang bilang sudah meninggal.
Melody tak tau, Adit sama hancurnya, bahkan melebihi dari hancur, sekarang ia harus menunjukkan kepahitan pada seorang gadis yang tak ingin ia buat menangis, tapi kali ini ia melakukannya, tiga kehancuran sekaligus yang ia alami saat ini, sesuatu dari sang kakak, kehancuran Melody, dan kehancuran hatinya melihat semua ini. Ia lawan semua kehancurannya itu dengan kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Mengeluarkan suatu benda yang sakral dimata gadis ini pun, Adit harus berfikir berkali – kali sampai sekarang. Tapi peraduan hati dan otaknya akhirnya memilih, ia haus menyerahkannya
“ di dekat jasad itu ada ini … “ ucap Adit sambil meyerahkan sebuah kalung yang sama dengan yang dikenakan oleh Melody. Bedanya, kalung itu berwarna emas, sedangkan  milik Melody berwarna perak. Ada inisial nama Reza di kalung itu.
Melody semakin membeku, air matanya mengalir lagi. Ia lalu meraih kalung itu, memegangnya dengan gemetar.
“ ini kalung Reza dit … “ ucap Melody. Mencoba meykinkan diri jika ini kenyataan, bukan mimpi yang sedang ia alami dan akan berakhir nanti jika ia bangun.
“ iya … dan … “ Adit berhenti sejenak, menarik nafas panjang, mencoba melawan ketakutannya sendiri untuk mengatakan yang sebenarnya akan lebih menyakiti gadis ini, tapi tidak ada pilihan lain, ia harus mengatakannya, gadis ini memang tak ikut campur dalam kematian sang kakak, namun ia turut andil dalam kecelakaan itu, secara tidak langsung, dan Adit tidak pernah menyalahkannya. Semua sudah takdir. “ dia kecelakaan dalam perjalanan mau nemuin lo di Surabaya, karena waktu itu kami masih di Malang, dirumah nenek … mau menginap dulu, tapi Reza kayaknya udah gak sabar ketemu ma lo, dia akhirnya mutusin buat pergi sendirian … “
“ Reza … ??? mau nemuin gue … ??? “
“ Iya Mel … dia pengen banget ketemu sama lo … waktu di Aussie aja, dia gak berhenti nyeritain tentang lo ke gue ma temen – temennya disana … and you know what “ kali ini nada bicaranya ia buat setenang mungkin, menciptakan sedikit canda didalam kekalutan keadaan yang sedari tadi mencekam keduanya. Adit berusaha menyisahkan ruang tenang sekecil apapun itu.
“ apaan … ?”
“ lo bikin cewek cewek disana penasaran ma bentuk muka lo … termasuk gue … hahaha … “ disaat seperti ini, Adit masih bisa saja bercanda. Apalagi tertawa, batin Melody. Tapi sebenarnya, tawa Adit kali ini hambar, tanpa rasa, hanya terlihat diluar saja, tidak didalam. Tapi Adit jujur, tidak berbohong, memang itu yang terjadi, kakaknya itu benar – benar membuat dirinya juga ikut penasaran dengan Melody, karena gadis itulah yang membuat kakaknya terhipnotis, sampai akan melakukan apapun agar bisa bertemu dengan gadis itu.
“ Hah ….??? “ heran Melody dengan ucapan Adit barusan.
“ Iya … si Reza itu gak bosen bosennya cerita tentang lo melulu … tiap hari pasti ada yang dia ceritain … kayak pacarnya aja tau gak “. Melody tersenyum tipis, pipinya merona, terharu, tak menyangka Reza sebegitunya terhadap dirinya. Tapi Melody menangis lagi, tertunduk. Adit jadi bingung bagaimana membuat Melody tersenyum lagi. Melihat Melody seperti ini, tak dipungkiri, satu bagian dari dirinya hancur tanpa sebab yang ia tak mengerti.
 “ ya udah kita pulang aja … disini lo malah nangis gini … “ Adit ngambek. Melody tersentak.
“ kok gitu sih … gue belum puas disini kenapa lo mau pulang … jahat banget sih dit .. kalo gini mah nanggung … “
“ tapi lo disini nangis terus …” ia lalu mendekatkan diri pada Melody “ Gue gak tega liat lo sedih kayak gini Mel … bisa lo ngerti … ? “ ucap Adit, sambil mengusap air mata di pipi Melody. Kali ini sungguh sungguh, tulus.
“ Dit … apa mungkin Ryan itu Reza … mereka terlalu mirip dan seperti  nyata…“ pertanyaan itu lagi yang harus diterima Adit. Pertanyaan yang sebenarnya menghancurkan Melody perlahan juga mengahncurkan dirinya dengan cara yang sama.
“ Gue gak tau Mel, itu rahasia Tuhan … kita cari tau nanti … pulang sekarang ya … besok kan sekolah … lagian nanti keburu malem nyampe Surabaya… “ ucap Adit lembut. Melody mengangguk. Adit lalu memapah Melody untuk berdiri.
“ Reza … Melody balik dulu ya … Melody janji bakal sering – sering kesini … “ Ucap Melody sambil memandangi makam itu, masih nanar ia menatapnya, pedih karena harus menerima kenyataan ini begitu cepat, juga menyesal, kenapa ia bersikeras untuk melihat makam ini. Seharusnya ia tau, jika keluarganya dan keluarga Adit melarangnya untuk mengunjungi makam ini adalah agar dirinya tidak menjadi seperti ini.
Tapi Adit yang membuat ini terjadi, ucapan ayahnya saat itu yang menceritakan bagaimana Melody saat mereka bertemu dengan gadis itu langsung membuatnya berfikir untuk membawa Melody ke tempat ini, meskipun hal itu harus akan menyakiti. Keduanya.
Setelah pamit, mereka lalu meninggalkan pemakaman itu. Melody tak henti menoleh kebelakang, ke makam Reza. Masih setengah hati ia menerima semua ini, tapi sayatan yang tergores dalam hati dan dirinya sudah melebihi apa yang ia terima, jauh lebih menyakitkan.
*****
Melody dan Adit baru sampai rumah sekitar jam 7 malam, itu berarti seharian penuh dia keluar. Papa marah gak ya ? Batin Melody.
“ Gue anter ke dalem ya … biar gue jelasin ke bokap lo … “ Ucap Adit, ia jadi ikut khawatir, jika papanya Melody akan marah. Adit sudah “menculik” bauh hatinya ini seharian tanpa ada pemberitahuan.
“ Hm … papa marah gak ya dit kira kira … eh tapi kayaknya enggak deh … “
“ Melody Anastasya Octavia … “ . Terlambat.  itu suara, papanya. Melody dan Adit menoleh, bersamaan.” Jam berapa ini Mel … tadi katanya sebentar … “
Adit lalu turun dari motornya. Lalu mengantar Melody kedepan papanya.
“ maaf om, tadi yang ngajak saya, maaf pulangnya kemaleman … maaf tidak ijin sama om sebelumnya.  “ Adit yang menjawab pertanyaan itu, Melody sepertinya sudah terlalu letih untuk menjawab pertanyaan itu.
“ Oh sama kamu Dit, kalau sama kamu sih om tenang tenang aja … ‘
“ Melody masuk dulu ya pa, capek … “ ucap Melody, lesu, Adit jadi merasa bersalah karena membawa Melody ke makam itu, senyum itu tak lagi ia temukan di wajah yang akhir – akhir ini menghantuinya sebelum ia tidur. “ Adit makasih ya … “ Melody lalu berjalan ke dalam rumah, tak lama, lampu kamarnya yang menyala sudah gelap karena dipadamkan oleh sang pemilik kamar.
“ Melody kenapa dit … “
“ maaf om … Adit udah bikin Melody kayak ini, seharusnya tadi Adit gak ngajak Melody kemakamnya Reza … “
“ o ... jadi kalian tadi ke Malang … “ tanya papanya Melody, Adit mengangguk. “ yasudah, biarkan saja, dia perlu waktu juga dit, besok juga mungkin udah baikan … udah kamu tenang aja … “ mau bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh seorang ayah, Ia sudah berushaa agar putrinya tidak melihat makam itu, mati matian ia simpan berita kematian Reza dari anak semata wayangnya itu sampai ia tau sendiri tentang kematian Reza.
“ kalo gitu Adit pulang dulu ya om … “ Ucap Adit. Pamit. Masih dengan kondisi yang sama, menyesal.
“ Iya … salam buat orang tuamu ya … “
“ iya … mari om .. Assalamualaikum … “
“ wa alaikum salam … hati – hati  dit , jangan ngebut … “
“ iya om … terima kasih Adit pulang dulu … “ Adit lalu menyalakan mesin motornya lalu menjalankan motornya itu. Sepeninggalan Adit, papa Melody hany abis ageleng geleng kepala melihat keadaan yang menimpa anaknya kini dan juga Adit.
Ia paham rupanya, dalam kasus ini, Adit tidak sepenuhnya bersalah, pasti ada sesuatu yang membuat Adit sampai nekat mempertemukan Melody dengan makam Reza. Oleh karena ia tadi tidak langsung shock  begitu mendengar bahwa ia dan Melody pulang dari makam Reza. Ia pun lalu  masuk ke dalam rumah, sempat berniat masuk ke kamar Melody tapi ia urungkan, anaknya itu perlu waktu menenangkan diri.
*****
Kondisi Melody benar – benar membuat Adit khawatir, pikirannya kacau, konsentrasi menyetirnya hancur karena terus terbayang oleh kondisi terakhir Melody yang ia temui. Semakin ia tepis, kekhawatiran itu semakin menjadi jadi. Ditengah jalan ia hentikan motornya, diam sejenak, dan berusaha berfikir jernih. Setelahnya ia mengeluarkan handphone dari saku jaket dan menelepon seseorang, Rendy, sahabat karibnya.
“ Ren lo dimana … “ pertanyaan itu langsung ia lontarkan begitu nada sabung Rendy berhenti.
“ Wuzzz … santai bro, keburu amat, belum juga gue say hello udah maen nanya aja gue dimana … “
“ aduuuhh … ribet lo, lo sekarang lagi dimana … ?? “
“ mau kerumah lo nih, minjem kaset playstations yang kemarin … hehe lo jangan keluar dulu, awas lo … “
“ pas … “ ucap Adit puas, isarat akan kelegaan.
“ pas apaan, lo ada dirumah sekarang … oke … 15 menit gue nyampe rumah lo sob … oke bro .. “
“ oke deh, lo boleh minjem kaset PS gue, sepuas lo … gak papa … tapi lo mesti bawa mobil gue ke sini, ke daerah Darmo Permai … “
“ Buju busyet … Jauh amat … emang ngapain lo kesana … kurang kerjaan lo malem malem disitu … “
“ tadi abis ke rumahnya Melody … udah lo banyak nanya cepetan kesini … sejam cukup kan …. “
“ ciyeee ma Melody sekarang nih … “ Rendy menangkap sesuatu yang berbeda ketika Adit mengatakan “Melody”
“ sejam lo gak nyampe tuh kaset PS gak bakalan gue kasih … “ Ancamnya tiba – tiba. Telak membuat Rendy kelimpungan.
“ oh oke oke … santai bro … gue berangkat sekarang … oke wait … “
Selesai. Nunggu sejam. Adit kembali dalam kegalauannya.
*****
Tawaran yang diberikan Adit kali ini mampu membuat Rendy sampai 15 menit lebih awal di tempat yang sudah dijanjikan. Jujur saja, Rendy benar benar terburu – buru dan mengendarai mobil diluar batas kecepatan maksimal yang selama ini ia gunakan. Dan Rendy mendadak langsung lemas karena yang dipikirannya, Adit tidak membawa motor dan minta jemput, sekarang malah duduk di atas motornya.
“ ada apaan sih … buru buru amat, yaela … ternyata bawa motor lo … gue kira gak bawa makanya lo nyuruh gue nganter mobil … “
“ gue perlu nih mobil … nih motor gue lo bawa aja gak papa … lo balikin besok disekolah … oke … “
“ mau kemana sih lo … lo gak pulang gitu … “
“ percuma pulang kalo gue kepikiran … nih pikiran gue kacau banget soalnya …“
“ oh .. tapi beneran gak papa dengan kondisi lo yang kayak gitu … “
“ udah gue bisa kok … lo tenang aja…  gue berangkat dulu sob … “
“ ati ati dit, jangan ngebut … tetap konsen …“ Rendy hanya bisa berpesan itu. Adit tidak mau buka suara, dan Rendy hanya bisa mengingatkan saja, tidak berani bertanya jauh jika bukan Adit sendiri yang memanggilnya dan memintanya untuk mendengarkan segala keluh kesah pangeran itu.
Karena Rendy tau, 6 tahun menjadi sahabat karibnya, Adit bukanlah tipe orang yang dengan sukarela akan memberitahukan segala permasalahan yang ia hadapi sampai saat ia sendiri merasa tidak mampu untuk menghadapi seorang diri, ia akan mencari sebuah sanggahan untuk menopangnya agar tidak jatuh terlalu sakit. Dan disitulah ia akan berfungsi sebagai penopang bagi Adit yang rapuh, benar benar rapuh.
Dan kali ini Adit kembali kerumah Melody, hanya untuk memastikan keadaan  gadis itu baik – baik saja, meskipun hanya ia lihat dari depan rumahnya. Meskipun tidak langsung berada didepannya untuk menghapus setiap butir airmata yang jatuh dari mata gadis itu akibat ulahnya tadi.
Dan begitu sampai di depan rumah Melody, mobil Adit sudah berparkir manis di sana. Kekhawatirannya terjawab. Dan sesuai perkiraan, Melody tadi hanya ingin membohongi papanya, lampu kamarnya kini masih menyala meski yang  terlihat bukan lampu utama, tapi lampu meja.  Lampu yang berwana ungu remang.
Adit yakin Melody tidak akan bisa tenang, satu sifat gadis itu yang selama ini ia pelajari, Melody lemah jika ia tersakiti. Akan rapuh jika tidak ada yang menopangnya dengan kuat. Adit hanya bisa melihatnya dari mobil, kaca mobil ia buka, dan hanya lewat cara itu ia bisa sedikit mengobati kekhawatirannya, paling tidak, kali ini ia bisa menemani Melody, meskipun sang obyek tidak sadar akan apa yang ia lakukan. , Menemaninya dalam rasa sakit yang sama, bahkan lebih dari yang gadis itu rasakan.
Sementara Melody, ia hanya duduk di sudut kamar, memandangi foto masa kecilnya dan Reza, juga menggenggam kalung pemberian Reza. Hanya ini yang bisa ia lakukan, menangis. Ia sudah rapuh, pertahanannya seketika itu langsung runtuh. Ini terlalu mengoyak jiwa dan hatinya dengan sadis.
“ Kenapa kamu mel, gak boleh lemah … Reza paling gak suka cewek yang lemah … mungkin aja kan Reza belum meninggal … dulu kamu yang ngotot kalo Reza belum meninggal, kenapa kamu sekarang jadi gini … “
Melody tak tahu, diluar sana, dari jarak yang bisa dihitung dekat, jiwa yang sudah merasa bersalah, yang ikut andil dalam kehancurannya kali ini juga merasakan kepahitan yang sama. Turut dalam kepedihan yang hampir sama, juga dalam kadaan yang sama sama hancur.
Kini, dua cucu adam dan hawa  itu tenggelam dalam kekhawatiran yang berbeda juga kecemasan yang berbeda. Tenggelam dalam permasalahan yang hampir sama. Adit untuk Melody dan perubahan komitmen yang selama ini ia pegang, untuk keresahan yang menghantuinya setelah peristiwa dilihatnya sosok Ryan kemarin, belum lagi pertempuran hati akan segala hal yang benar – benar membuatnya harus berfikir dua kali jika akan melakukan sesuatu.
Sedangkan Melody untuk sesuatu yang selama ini ia yakini namun pada kenyataannya sekarang ia sangsikan, sosok Reza yang ia yakini masih hidup, ditambah dengan pertemuannya dengan Ryan, dan yang terakhir makam yang ditunjukkan oleh Adit tadi, semuanya begitu mendadak, begitu kebetulan, dan begitu membuat dirinya hancur sekaligus galau.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger