Agustus 17, 2011

MELODY PART 8


Melody tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran, 2 jam pelajaran yang diisi matematika dan 2 jam pelajaran fisika yang sangat ia sukai pun tidak membuatnya bisa enjoy pagi itu. Konsentrasinya buyar, penuh dengan perilaku Adit tadi pagi.
“ Melody … ??? ada masalah … ??? “ Bu Enggar, guru fisika yang sangat amat pelit akan nilai ujian di sekolah Melody pun akhirnya merasa terusik dengan sikap Melody sejak ia memasuki kelas pagi itu. Guru itu sangat peka jika salah satu muridnya tidak memperhatikannya dalam pelajaran. Bu Enggar lalu menghampiri Melody
“ Eee … Bu … boleh saya ijin ke UKS … saya kurang enak badan … “ ucap Melody lirih. Setelahnya bisik bisik teman sekelasnya pun menjadi, kelas jadi berisik. Terang saja, mereka membicarakan drama kolosal pagi tadi di koridor sekolah.
“ TENANG SEMUANYA … “ teriakan Bu Enggar mengakhiri kisruh di kelas itu. “ Melody … sekarang lebih baik kamu ke UKS saja … bisa berangkat sendirian … ??? “ tanya Bu Enggar.
“ Bisa Bu … terima kasih atas ijinnya … “
“ Oh … jangan … “ Bu Enggar lalu menoleh pada Lisa. “ Lisa … “
“ Iya Bu “ Lisa pun menyahut.
“ antar Melody ke UKS … “
“ Baik Bu … “



Dan kali ini, dewi fortuna memang sedang berpihak pada Melody, karena biasanya, Guru satu itu tidak akan memberikan toleransi apapun pada muridnya yang akan keluar pada saat ia mengajar, tapi kali ini Melody mendapat pengecualian.
Sementara Adit yang sedari tadi memang hanya jalan jalan santai keliling sekolah karena jam pelajaran kosong pun masih saja tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Ada satu rasa yang ia tidak mengerti. Yang mungkin akan bisa menghancurkan semuanya ataupun sebaliknya.
Seharusnya perasaan ini tidak boleh ada. Tapi semua terlambat, sudah terlanjur dan tak bisa kembali ke situasi sebelumnya. Hanya bisa menerima dan menjalani. Tuhan punya rencana dibalik semua ini, tinggal hamba-Nya lah yang berfikir bagaimana menyipaki semua ini.
“ Dit … lo mending cerita ke gue … supaya juga lo gak sendirian ngadepinnya … supaya persepsi gue itu gak salah … gue bingung tau “
“ maksud lo ?!!?  “
“ ya maksud gue … semua ini, antara  lo ma Melody, gue masih gak pikun kalo lo kemaren nyuruh gue nganter mobil, dan info yang tertakhir gue denger dari mulut lo … lo abis ketemu sama Melody, jadi logisnya … semua kejadian berentetan aneh ini pasti ada hubungannya ma tuh anak … “
“ terus kalo iya, kenapa ? ada masalah ?” ucap Adit. Beginilah Adit yang paling tidak Rendy sukai, cowok ini terlalu bisu untuk hal semacam ini.
“ jadi bener lo ditolak Melody … “ucap Rendy, berusaha memancing, walaupun tak yakin umpannya akan ditangkap dengan tepat sasaran.
“ maksud lo … “
“ udah lo gak usah pura pura bego dan ngajak gue basa basi … gak guna … “ Rendy menghela nafas sejenak, memperhatikan Adit persis di manik mata cowok itu, berusaha melihat kejujuran dan mencari pembenaran atas segala kekisruhan yang tercipta akhir akhir ini. “ masih gak mau cerita lo … “
“ lagian mau cerita apa sih … bego lo gak ilang ilang … ckckck …“ ucap Adit santai lalu ngeloyor pergi. Rendy hanya melongo, umpannya gagal.
Dan tak nyana, perjalanannya ke koridor kelas mempertemukannya dengan orang yang berpengaruh dalam peristiwa yang ia lalui akhir akhir ini. Seseorang yang menyebabkan ia harus bertarung dengan dirinya sendiri. Melawan semuanya.
Gadis itu kini dipapah oleh temannya, ia tampak sedikit pucat, rasa khawatir Adit muncul begitu saja. Disipitkan matanya dan Adit mengamati keduanya, tapi tentu saja, yang menjadi fokus utamanya adalah gadis itu, gadis yang ditemuinya tadi malam dalam kondisi terpuruk.
Dan sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, feeling cowok itu mengatakan kedua gadis yang berapa beberapan ratus meter didepannya ini sedang membicarakan dirinya. Dihampirinya mereka.
 “ beruntung lo Mel … Bu Enggar ngasih lo ijin … “ ucap Lisa saat mereka sudah berada di luar kelas. “ lo mesti cerita deh di UKS, bis gini pelajaran kuntilanak satu itu selesai, oke … lo beneran pusing atau Cuma mau cabut dari pelajaran itu guru … “
“ Kepala gue pusing Lis … gak konsen gue pelajaran tadi … “
“ gara gara Adiiit … ??? “
“ udah deh gak usah bahas anak itu … “
“ gak dibahas gimana … kali ini pasti ada hubungannya ma tuh anak … “
Percakapan mereka terhenti, pun juga langkah mereka, karena didepan mereka kini sudah berdiri seseorang yang menjadi inti dari pembicaraan singkat mereka. Adit. Cowok itu berdiri sambil melipat kedua tanggan di depan dada.
“ Lo sakit ?? “ tanya Adit, tetap dingin dan dengan intonasi suara yang tidak halus, namun sarat akan rasa khawatir. Melody tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain. “ gue tanya … lo sakit … ??? dijawab dong … jangan diem aja “
“ emang ada urusan apa sih lo … sok mau tau aja keadaan gue gimana …” jawaban Melody tak kalah dingin.
“ Minggir lis … gue yang nganter dia ke UKS … “ ucapnya pada Lisa, kemudian dilepaskannya genggaman tangan Lisa di lengan kanan Melody itu. Diganti dengan genggaman tangannya. Kini Lisa sudah tersingkir dengan sendirinya, gerakan Adit barusan terlalu cepat untuk dicegah. Hanya dengan cara ini, gadis itu bisa luluh, sedikit “kasar”.
“ Ren … lo urus nih anak … gue mau bawa Melody ke UKS dulu … “
“ Siiipp … “ ucapnya sambil mengacungkan jempol, tatapannya kini beralih pada Lisa. “ hm … gue kasih pilihan deh, mau sukarela atau mau gue gandeng ke kelas … “ ucap Rendy pada Lisa. Pilihan yang membuatnya membelalakkan mata, dua pilihan itu sebenarnya tak ingin dipilih tapi …
“ ah gak usah pegang pegang gue … don’t touch me !! gue bisa pergi sendiri … “ Buru buru Lisa menghindar dan mengumpat sebelum Rendy menggandeng tangannya. “ Mel … sorry ya … gue mana mungkin menang lawan mereka … lo mendingan langsung pulang deh, tas lo nanti sore gue kasih kerumah lo …  dagh “
Lisa pun pergi diikuti Rendy dari belakang mirip seorang putri yang dikawal satpam pribadinya. Hal itu menimbulkan senyuman kecil di bibir Melody sampai menjadi tawa kecil.
“ malah ketawa lagi … “ ucap Adit. Tawa Melody langsung berhenti.
“ apaan sih lo … udah gak usah pegang pegang … gue bisa jalan sendiri … “
Melody berusaha melepaskan pelukan Adit di tubuhnya, tapi sayang, tangan cowok itu terlalu kuat untuk dilepaskan dengan mudah.
“ gak bakalan gue lepasin … kenapa sih lo anti banget ma gue … “
“ lo itu yang aneh … tadi marah- marah … gak jelas kenapa … sekarang malah sok baik kayak gini … “
“ emang tadi gue marah marah … ?? “ ucap Adit yang kemudian menyunggingkan senyumannya, dengan tanpa rasa bersalah, seperti tidak terjadi apa apa sebelumnya. Ucapan Adit kali ini menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab oleh gadis itu. Melody melengos, menatap Adit tak percaya, Adit kali ini beda dengan Adit yang ia temui tadi pagi. Misterius dan cepat sekali membalikkan mood 360 derajat dari sebelumnya dalam waktu haya dua jam.
“ lo mau mainin gue … tadi sok jahat terus sekarang mau jadi malaikat … “ Melody kesal, mau Adit ini apa sih sebenarnya.
Adit lalu menyentuh dahi Melody, seperti mengetes tingkat demam gadis itu. Mimik wajahnya terkesan berfikir, seperti dokter yang sedang menganalisis penyakit apa yang diderita sang pasien.
“ pasti ini pengaruh demam lo deh … makanya bicaranya ngelindur, orang tadi gue gak marah marah kok … “ ucap Adit dengan mimik wajah innocent, yang membuat Melody semakin kesal.
Apa ??? jelas jelas Melody begini karena ulah Adit. Masih Adit membela diri. Keterlaluan.
“ lo keterlaluan dit .. . sempet – sempetnya bercanda … udah sana gue gak butuh pertolongan lo … “ Melody mendorong Adit, Adit lengah, pelukan cowok itu terlepas begitu saja. Dengan kesal ia berjalan sendirian meninggalkan Adit yang masih bingung dengan reaksi Melody yang diluar perkiraannya. Niatnya untuk bercanda ternyata ditanggapi serius oleh Melody.
“ gue Cuma mau lo gak ngebahas Ryan di depan gue … “ teriak Adit. Sebenarnya kalimat itu tidak pernah ingin ia ucapkan, tapi pada akhirnya ia ucapkan di depan gadis itu. Langkah Melody terhenti. Bel istirahat yang saat itu berbunyi dan mengeluarkan semua siswa dari kelas pun berhasil ia hentikan langkahnya.
Dan rupanya drama tadi pagi masih belum selesai. Season ke dua baru saja dimulai. Bahkan, siswa yang tadinya sudah lapar dan ingin kekantin agar tidak mengantre pun, ikut berhenti tak mau ketinggalan peristiwa bersejarah ini lagi. Tak terkecuali Lisa dan Rendy yang saat itu memang tidak langsung meninggalkan keduanya ketika Adit memerintahkan dua orang itu untuk kembali kekelas, lain kata, Rendy dan Lisa menguping diam diam.
Melody membalikkan badan, menatap cowok yang kali ini sedang berjalan kearahnya itu.
“ apa hubungannya semua ini ama Ryan … ??? “ tanya Melody tertahan. Sempat shock dengan ucapan Adit barusan.
“ gue gak suka … kenapa?  Lo keberatan  … ?!!” jawaban Adit kali ini benar benar membuat Melody kesal. Terkesan otoriter.
“ aneh tau gak lo … dia itu … kakak lo … Hmmppttt … “ Adit sudah mebungkam mulut Melody sebelum Melody berkata yang sebenarnya. Kini Melody ada dalam pelukan sadisnya itu. Dan lagi lagi Melody tak kuasa menghindar.
“ urusan kita belom selesai, lo gak nyadar kita jadi tontonan hah  “ bisiknya di telinga Melody. “ Ren … lo ikut gue … “ teriaknya.
“ Okeh … “ ia lalu menoleh pada Lisa. “ lo ikut … “ ia tarik tangan Lisa tanpa mendengar persetujuan gadis itu.
Adit lalu membawa Melody keluar dari panggung drama singkat di koridor, pertunjukan yang menyedot beratus siswa SMA Adi Buana itu seperti dicancel sejenak, diberi jeda iklan, dan semuanya bubar. Dan yang bisa ditangkap oleh semua mata yang melihat dan telinga yang mendengarkan adalah … Ada cinta segitiga disini. Karena tadi Melody mengatakan satu nama yang menjadi pokok kemarahan seorang Adit. Sosok Ryan, aktor baru yang akan mengisi drama kolosal Adit-Melody di SMA Adi Buana ini. Dan kapanpun sosok itu datang, kehadirannya nanti pasti akan membuat drama ini lebih menarik dimata “penonton” yang melihat.
Tapi pertunjukan itu belum berakhir. Satu adegan yang mungkin paling “privat” tidak akan dipublikasikan seperti sebelumnya. Satu adegan yang hanya akan ia bagi hanya dengan orang yang bersangkutan, untuk menghindari hal hal buruk di lain waktu nanti, juga untuk menghindari “omongan miring” setelahnya. Karena jujur saja, disekolah ini, memang bukan Adit yang bermasalah, tapi gadis didepannya ini, meski terhitung hanya baru beberapa bulan menginjakkan kaki sebagai siswa disekolahnya, tapi gadis ini sudah mencatat rekor yang belum dicetak oleh banyak siswa setaranya.
Belum apa – apa Melody sudah berurusan dengan pentolan “grup” cewek tersohor disekolah, tak peduli jika yang ia lawan itu adalah keponakan dari pemilik yayasan tempat ia menimba ilmu. Soal Melody yang disekap di gudang sehari setelah penutupan MOS, juga soal dicegat di koridor tadi pagi, Adit tau itu, tapi cowok itu membungkam diri sejenak, menunggu waktu yang pas. Karena dia tau, gadis ini masih sanggup menghadapinya.
*****
Adit membawa Melody ke UKS, beruntung disana hanya ada satu siswa yang bertugas. Adit tau anak itu. Teman sekelasnya. Naya.
“ Nay, gue pinjem bentar, bisa lo keluar … “ pinta Adit pada Naya,teman sekelasnya yang menjadi petugas UKS. Permintaan dingin tapi juga kalem, tak memaksa tapi yang menanggapi ucapan Adit barusan juga terkesan memaksa. Harus dijawab iya, jika tidak ingin memperpanjang urusan. Naya menyetujui, ia pun lalu keluar ruang UKS.
“ Lo jaga diluar, dan pastiin gak ada anak yang nguping … “ ucap Adit pada Rendy, nada perintahnya kali ini tidak bisa ditolak, tapi juga membuat Rendy geli. Nah terus gue dianggap gak nguping gitu, ckckck Adit kalo beginian gak kalah begonya ma gue, batin Rendy.
“ nah terus gue gimana, mau gak mau  kan gue ma Lisa mesti denger … “
“ pengecualian oon … “ ucap Adit. Rendy nyengir.
“ okeh siip … “
Dan terasa situasi sudah aman, Adit lalu melepaskan bekapannya dari mulut Melody yang sedari tadi berusaha dilepaskan oleh gadis ini.
“ apa apaan sih lo dit .. hah .. mau lo itu apa … “ Melody langsung berteriak, ia marah, Adit harus tau akan hal itu. Adit malah diam, hanya menatap gadis itu saja. Menatap, tidak lebih, menatap dengan tatapan kosong, karena dipikirannya saat ini, terlalu banyak yang berkecamuk. “ lo jangan diam aja dit … jawab …!!! “ Melody mengguncang ngguncang tubuh Adit, cowok itu tetap bereaksi. “ gue bingung ma lo … kemarin lo bilang mau ngebantuin gue nyelidikin Ryan … tapi sekarang APA … lo gak mau … plin plan banget sih lo jadi cowok … !!!”
Barulah Adit bereaksi.
“ bisa lo baca pikiran gue … ?” tanya Adit. Satu pertanyaan yang membuat emosi Melody luluh begitu saja. Adit masih menatap Melody, menanti jawaban yang keluar dari mulut gadis itu dengan penuh harap, gadis ini bisa mengerti keadaannya. Mengerti jalan pikirannya dan bisa mengerti apa yang sebenarnya ia mau.
“ maksud lo … “
“ gak perlu ngulang kalimat gue tadi, udah cukup jelas … “
“ lo gak mau nyelidikin Ryan … gak papa … gue bisa sendiri … “ ucap Melody. Adit menghela nafas panjang, gadis didepannya ini belum tau apa yang sebenarnya ia maksud.
“ bisa gak sih … sebentar aja lo gak nyinggung soal anak itu didepan gue … gue gak suka … udah gue bilang kan tadi !”
“ gak bisa !!! emang lo siapa, sok ngatur kehidupan gue lagi … dan jangan mentang mentang lo Aditnya Reza terus lo bisa seenaknya aja ma gue … “
“ gue nanya … bisa lo baca pikiran gue … situasi gue … kondisi gue … ?! kalo seandainya lo bisa … lo akan tau .. betapa sulitnya berada di posisi gue kayak sekarang ini … baru lo akan nyadar, gak gampang ada di posisi gue sekarang, dan lo akan tau, kalo gue perang ama diri gue sendiri … BISA LO BACA ITU .. hah !!! “ nada Adit bicara semakin meninggi, Melody jadi khawatir akan kemarahan Adit kali ini. Melihat Melody seperti itu, Adit jadi sedikit ciut. Ia diam sejenak dan membalikkan badan. Berfikir lagi untuk yang kesekian kali pada gadis ini.
“ duduk lo … “ Melody diam, tak menanggapi, tetap berdiri dengan kokohnya di depan Adit. “ gue bilang duduk !! “ Aditlah yang membuat Melody duduk di atas ranjang UKS. Ia lalu membalikkan badan, dan enyah sebentar dari ruangan itu, tapi hanya sejenak, yang di menit berikutnya ia sudah kembali, kali ini sambil membawa segelas air putih dan sekotak obat.
“ pegang … “ Adit menyodorkan gelas itu pada Melody, Melody hanya bisa menerima, meski masih merasa aneh dengan tindakan makhluk didepannya itu. Karena semenit yang lalu, yang ia lihat pada cowok ini adalah sebuah kemarahan yang tidak mendasar dan tiba tiba, sedangkan sekarang Adit yang berdiri didepannya ini Adit yang peduli dengan keadaannya. Adit lalu membuka kotak obat itu, mencari cari suatu obat, dan kemudian mengeluarkan obat itu dari bungkusnya.
“ mulut lo … !”
“ mau ngapain emangnya … “ tanya Melody masih dengan juteknya. Adit menghela nafas, tidak habis pikir, Melody ini begitu bego, atau pura pura bego.
“ mau gue cium … “ Melody tersentak, Adit jadi menahan senyum, “ ya minum nih obat supaya demam lo itu turun … yang ditanyain ada ada aja sih … “ lanjut Adit. Melody berangsur lega, sialan, nih cowok mainin gue kayaknya, batin Melody.
“ gak perlu lo suapin, gue bisa minum sendiri … “ ucapnya jutek.
“ iya ... lagian siapa yang mau nyuapin lo … pede bener … “ ucap Adit. Melody semakin kesal dengan pernyataannya itu. Ia lalu rebut obat ditangan Adit dengan kasar lalu meminumnya.
“ gue bingung ma lo dit … kepribadian lo itu ganda ya … kadang baik kadang jahat … kadang lembut .. kadang kasar banget … “ oceh Melody dengan santainya, seperti seorang cewek yang sedang curhat pada pacarnya sendiri dan terkesan tak peduli jika nantinya Adit akan marah atau apapun. Adit memperhatikan cewek ini, dalam, dan berusaha mencari celah untuk menembus dunianya. Ia lalu mencondongkan wajahnya dan menyipitkan mata, refleks Melodypun memundurkan tubuhnya. “ mau ngapain lo dit … “
“ emang .. keliatannya gue gitu ya … kadang jahat kadang baik … gitu … “ pernyataan Adit itu malah membuat Melody semakin kesal, karena juga membuat Melody salah tingkah akibat ulahnya barusan yang mendekat.
Melody lalu melempar bantal UKS ke wajah Adit.
“ Iiih … apan sih lo dit … gak lucu tau .. !!! “
“ emang gak lucu … siapa yang bilang kalo gue lagi ngelawak … “
“ tauk ah … “ Melody ngambek, ia palingkan mukanya ke arah lain.
“ Duileeeee ngambeek lagi … “ ucap Adit sambil mencubit kedua pipi Melody. “ ngambekan ya lo ternyata … ckckck … “
“ Adit sakit tauu … hobi banget sih lo nyubit pipi gue … “ Melody berusaha melepas cubitan itu. Tapi Adit dengan sendirinya melepaskan.
“ hm … manyun … hahaha … “
“ duileeee .. udah baekan nih …. Garing tau jagain diluar … “ Rendy nyeletuk dan tiba tiba sudah ada di ambang pintu.
“ Yang dijaga malah enak enakan bercandaan … “ lanjut Lisa.
Melody nyengir sedangkan Adit, berjalan menghampiri sahabatnya itu.
“ Melody lo apain sih Dit, tadi aja kayak musuh bebuyutan gitu, sekarang malah kebalikannya … “ tanya Lisa lagi.
“ Adit mah aneh … tau deh … pusing gue … “ ucap Melody. Adit tersenyum.
“ Hei … kalau aja lo bisa ngerti apa yang gue mau … jadinya gak bakalan kayak gini … “ Ucap Adit pada Melody.
“ dan sayangnya gue gak ngerti … lo dari tadi gue minta ngejelasin gak mau … ya udah … itu resiko … jangan salahin gue kalo gitu … “
“ lo mending langsung pulang aja deh Mel … istirahat … “ ucap Rendy.
“ gue mau nyari Ryan … jadi gak langsung pulang … “
“ ckck … Mel … lo itu sakit … jadi gak usah maksa buat ketemu tuh anak … kenapa sih lo dikit aja gak bisa jauh dari dia … “ Adit jadi emosi lagi.
“ apaan sih dit, terserah gue dong mau ngapain, yang sakit juga gue kenapa lo ribut, lagian gue gak ngajak lo … gue ngajak Lisa …” Melody lalu menoleh pada Lisa. “ iya kan lis … ??? “ tanya Melody.
Lisa yang tidak tahu menahu soal Ryan jadi bingung, sebenarnya Ryan itu siapa. Kini dua tatapan itu menatapnya menunggu jawaban. Kalo iya urusannya dengan Adit sepertinya tidak akan panjang, tapi kalo sampe menolak permintaan Melody, bisa bisa ia akan menjadi sasaran kecuekan gadis itu selama sebulan atau bahkan selamanya. Parah.
“ Ngg … iya … gue yang nemenin dia, tadi pagi dia udah bilang ke gue … “ jawab Lisa. Ragu tapi pasti. Dan tatapannya ke Melody saat ini menuntut penjelasan dari awal sampai akhir.
Adit berdecak, apa yang ia katakan tadi tidak ditangkap dengan baik oleh gadis ini. Padahal menurutnya, ucapannya sudah gamblang, jelas, dan tidak bertele tele, tapi tetap saja, gadis ini tidak mengerti. Sepertinya harus ada aksi extra yang harus ia lakukan supaya gadis ini bisa mengerti apa yang ia mau, untuk mereka, dia, dan orang itu.
“ terserah lo … gue udah nyuruh istirahat, tapi lo gak mau itu hak lo … gue balik dulu … semoga bisa ketemu ma tuh anak … dan gue gak jadi orang yang liat lo nangis lagi gara gara tuh anak … “ Adit berucap tanpa menatap satu orang pun yang ada didalam ruangan itu. Pandangannya kosong, tak banyak menunggu, ia langsung berjalan keluar UKS, diikuti Rendy.
“ lo utang banyak nih ama gue … nanti mesti djelasin semuanya kalo lo gak mau gue salah paham … gue mau ambil tas dan surat ijin dulu … lo tunggu disini “ ucap Lisa yang kemudian juga keluar ruangan itu.
Melody jadi kepikiran kalimatnya Adit. Ah sudahlah, nanti bisa bisa akan mengahncurkan semangatnya untuk bertemu Ryan. Adit aneh, sebenarnya maunya anak itu apa sih. Gak jelas. Terlalu sulit untuk dimengerti. Ngakunya minta dingertiin, tapi apa ? ditanya ngertiin apa, malah Melody yang suruh mikir. Aneh kan. Gila itu orang. Belum lagi soal Ryan, katanya dulu mau bantuin, sekarang malah bilang gak suka. Kalo emang gak mau ya udah dari awal aja kayak gitu, nyebelin lo dit.
Sementara Adit yang kini sedang bersama Rendy di sudut taman sekolah yang terletak dibelakang gudang pun juga jadi kembali uring uringan setelah menceritakan semuanya pada sahabatnya itu, akhirnya dia menyerah, ia harus membagi masalahnya nya itu jika tidak ingin hancur duluan.
“ tuh cewek mau nya apa sih … udah gue bilang Reza udah meninggal masih aja ngotot kalo Ryan itu Reza … kesel gak sih lo … “ omel Adit. Rendy jadi geli, sahabatnya ini terlalu gengsi untuk mengakui sampai dia jadi begini.
“ Dit, sadar gak sih lo, kalo cara lo kayak gini, mau sampai kiamat juga apa yang lo mau gak bakalan bisa tereaLisasi tau … “
“ maksud lo … “
“ ckckck … kesimpulannya LO SUKA MA MELODY … udah itu aja … dan lo udah gak mau lagi ada Reza atau siapapun itu ada dalam dunia Melody, yang lo mau Cuma lo … bukan orang lain, tapi kenyataannya, Orang lain itu masih ada, bahkan sekarang nyata … dan sekarang Melody masih semangat semangatnya mencari orang lain itu karena apa … orang itu berarti di hidupnya dit, jadi wajar kalo Melody bersikap kayak tadi, lo nya juga bego langsung gak ngomong … GUE SUKA LO … DAN GUE GAK SUKA KALO ADA RYAN DALAM HIDUP LO … nah itu bagus … to the point gak bertele tele … mana Adit yang dulu, yang gak mau urusan jadi panjang dan mengharusnya semuanya berjalan dengan cepat … gue bukannya mau menggurui lo … Cuma ya ini yang bisa gue saranin setelah apa yang lo ceritain barusan dan apa yang gue lihat selama Melody ada disini … “
“ Percuma tuh cewek gak bakalan peduli “ ucap Adit, terkesan pasrah dan tak mau memperpanjang lagi. Stop disini.
“ gak peduli, gue nagkepnya malah tuh cewek peduli ma lo, dari cerita lo barusan soal tadi pagi dia ngebangunin lo sampe salting di kamar mandi yang jadi awal kejadian gak enak hari ini, gue yakin, lo pasti ada pengaruhnya buat dia … sedikit banyak pasti ada … “
Adit berfikir semua yang dikatakan oleh Rendy. Sahabatnya itu kali ini benar benar seperti memberi pencerahan, kegalauannya sedikit hilang. Baru kali ini Adit menyadari Rendy sebegitu peduli terhadap dirinya.
thanks Ren … gue beruntung punya sohib kayak lo … “
“ ya beginilah gue … ckckck … es abadi lo itu udah cair kayaknya …. Panasnya cinta udah bikin lo bener bener leleh … “
“ apaan sih lo … ngeGibran banget … hahaha … “
Adit sudah berangsur baik, emosinya kali ini sudah stabil, ada langkah yang harus ia ambil kali ini. Tapi ia tidak akan berangkat sendiri, orang yang telah memberinya pencerahan harus ikut menemani, agar apa yang ia hadapi bisa dilihat dan bisa ikut dirasakan. Dan satu langkahnya kali ini harus bisa membuka batin gadis itu, bagaimanapun caranya, meski yang terbuka hanya sedikit celah, Adit tidak peduli.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger