Agustus 17, 2011

MELODY PART 7


Melody tidak bisa tidur semalaman, rasanya baru sebentar ia terlelap, tapi tau tau cahaya matahari sudah menembus kamar tidurnya pagi itu. Menimbulkan silau yang membuat mata yang tadinya terpenjam harus terpaksa membuka. Melody berdiri dan berjalan kearah jendela kamarnya. Berusaha mencari kesegaran pagi untuk membuat keadaannya yang hancur menjadi sedikit lebih baik dari semalam.
Ia hirup udara pagi yang kala itu sangat segar dengan sangat perlahan, seperti saat pelajaran olahraga, menhirupnya dari hidup dengan hitungan sampai angka delapan dan mengeluarkannya melalui mulut dengan hitungan angka yang sama, perlahan dengan gerakan tangan keatas lalu kembali lagi ke bawah. Namun pandangannya lalu terhenti pada mobil yang terparkir manis di depan rumahnya. Tapi bukan itu yang membuatnya memusatkan perhatian matanya pada mobil itu, tapi pada seseorang yang tidur di didepan setir mobil dengan jendela pintu mobil yang terbuka, Melody yakin jendela itu terbuka sejak tadi malam.
Ia sipitkan matanya untuk lebih mempertajam penglihatannya akan sosok yang ia lihat dari kamarnya.
“ Adiit … ??? ngapain dia disitu … apa dia gak pulang semaleman … tapi perasaan kemaren dia bawa motor deh … “


Melody langsung berlarian keluar kamar dan turun kebawah. Sapaan papanya dari meja makan pun tak digubris sama sekali. Dengan tergesa gesa Melody berlarian sampai pintu rumah dan menghampiri mobil Adit.
“ Adit … “ ucapnya lirih. Ia lalu mencoba membangunkan cowok itu dengan mengoyang goyang pundaknya. “ Adit bangun … “. Tak lama setelahnya, Adit membuka mata, tersadar bahwa ada orang yang mengguncang pundaknya barusan. Setengah sadar Adit menatap Melody, namun setelah pikirannya sadar sepenuhnya, ia terlonjak dan buru buru memposisikan dirinya dengan normal.
“ Melody … sejak kapan lo disitu … ?“ tanyanya. Melody heran, keningnya berkerut.
“ Heh … seharusnya yang nanya itu gue … lo gak pulang ya semalem … ngapain coba lo disini sepagi ini, apalagi pake tidur segala … ngapain sih … “
“ nungguin lo .. khawatir gue ma lo … “ Uupps. Adit keceplosan, membuat pipi Melody bersemu merah seketika itu juga. “ eh … anu maksud gue,  kemarin kebetulan ban gue bocor Mel, nah karena gue ngantuk ya udah gue asal parkir, eh gak taunya parkir di depan rumah lo … “ lanjutnya dengan gagap. Aduh kok bisa keceplosan sih lo dit, batinnya.
“ Ooh gitu, kirain lo beneran disini buat gue … hahaha … tapi ngapain coba, kurang kerjaan banget … “ ucap Melody. Iya, gue ngawatirin lo Mel, khawatir kalau lo nanggung beban ini sendirian. Dan itu hanya diucapkan Adit didalam hati, sambil menatap mata gadis ini lembut.
“ baru bangun tidur ya lo … ??? “ tanya Adit.
Melody nyengir, aduh berantakan banget pasti keliatannya orang langsung kesini begitu tau Adit tadi.
“ hehe iya … “
“ pantes masih bau kasur … udah gih sana mandi terus berangkat sekolah … “
“ terus lo gak sekolah gitu .. udah lo mandi disini aja sekalian … lo bawa ganti gak … “
“ ya bawa sih …  tapi kan Mel … “
“ Udah ayook … “ Melody lalu menarik tangan Adit, dan membuka pintu mobil. Menyeret cowok itu masuk kedalam rumah.
Dan begitu masuk rumah, tinggallah papa Melody yang bingung ada Adit disana.
“ Loh Adit, datang kapan …??? “
“ Dari tadi malem pa … dia gak pulang … “ Melody yang menjawab dengan semangat.
“ Kamu gak pulang dit … ??? “ tanya Papa Melody, untuk memastikan bahwa ini betulan bukan hanya candaan putrinya.
“ Eeee … iya om … maaf … “
“ Hm … om udah gak ikut ikutan deh kalau soal ini … “ Sepertinya Papa Melody mengerti, jika dilihat dari tingkah laku Adit yang begitu tersipu, ada hal lain dibalik semua ini, ada tujuan lain dibalik menginapnya Adit diam diam itu.
“ih papa nih kayak Adit ini cowok Melody aja … tadi itu katanya kemaren bannya bocor, terus dia capek makanya dia parkir mobil asal asalan … eh gak taunya malah didepan rumah Melody .. hehehe … gitu kan dit … “ Melody memang tak salah, ia memang mengatakan sesuai dengan yang Adit katakan padanya. Terlalu polos. Adit malah semakin salah tingkah. Papa Melody hanya senyum senyum sambil geleng geleng kepala. Ada sesuatu yang mengganjil pada Adit.
“ oooh … gitu, ya sudah … mandi dulu sana dit … kamu juga Mel … habis gitu kita sarapan bareng ya … “ ucap Papa Melody sambil meninggalkan kedua bocah remaja itu.
“ Lo mandi disitu aja dit … gue diatas … kalau mau ganti, disebelahnya ada kamar tamu … oke … “
“ eh eh tunggu … “ ucapnya sambil mencegah langkah Melody, “ kok lo kayaknya girang banget sih gue disini … lo gak naksir gue kan … “ ucap Adit, kali ini murni bercandaan, hanya untuk menutupi rasa groginya sejak tadi kepergok tidur didepan rumah gadis ini. Tapi ternyata efek yang ditimbulkan itu tidak seperti maksud yang sebenarnya.
Melody terdiam.pertanyaan Adit barusan telak menusuk jantung pikiran dan hatinya. Barulah Melody merasakan ada sesuatu yang aneh, sedikit berbeda. Adit benar, kenapa ia sebegitu semangatnya pagi ini melihat Adit didepan rumahnya. Melody terdiam, cukup lama karena pertanyaan itu begitu mengusiknya total.
“ Mel … ??? are you ok ? “ tanya Adit. Tak ada respon, gadis di depannya ini tetap terdiam. Ia sentuh pundak gadis itu. “ hei … lo gak papa … ??? “ tanya nya lagi untuk memastikan. Menatap lurus kearah manik mata sosok didepannya.
“ eh dit lo mandi aja deh  … gue mandi dulu … takutnya ntar gak keburu kesekolahnya … “ Melody lalu buru – buru kekamar, tentu saja tidak seperti keadaan yang sebelumnya. Kali ini dengan kegalauan yang berbeda.
Adit tak bisa mencegah langkah Melody lagi, gadis itu terlalu cepat melangkah. Ada sedikit sesal kenapa ia bertanya hal itu.
“ aduh dit … bego banget sih lo … bercandaan lo tadi gak lucu tau … “ rutuknya sendiri dalam hati. Ia pun melangkah gontai menuju kamar mandi.
*****
Saat merapikan rambut didepan cermin, Melody benar benar tidak bisa konsentrasi, bahkan melupakan perkataan Adit tadi sulit. Perkataan itu sungguh mengganggu Melody, dan dengan sendirinya berkecamuk dalam pikiran dan hatinya. Memang akhir akhir ini, Melody lebih sering melewati hari dengan cowok itu, bahkan saat menemukan situasi tersulitpun, Melody melewatkan dengan cowok itu. Dan tak dipungkiri, Melody memang menikmati saat saat itu. Merasa nyaman karena ada Adit yang ada disampingnya, yangs elalu bersedia menjadi penopangnya kala ia rapuh.
“ kok gue jadi kayak gini ya … “ ucapnya sendiri. Ia kembali menatap bayangan dirinya di cermin, kali ini lebih fokus. “ Stop Mel … lo konsentrasi sama Ryan dulu … dia itu Reza … lo yakin kan kalau dia itu Reza … jadi udah gak usah macem macem … oke … “ ucapnya sendiri.
Namun seperti ada perkataan lain di sudut hatinya. Perkataan hati yang menyebutkan bahwa ia harus menerima kenyataan bahwa Reza sudah meninggal dan Ryan, cowok yang ditemuinya beberapa hari yang lalu, yang membuat hari – harinya menjadi galau itu hanya orang lain, tidak sama, dan hanya mirip.
“ No … Mel … udah gak usah mikirin soal hal itu … fokus Ryan … oke … fokus … “ Ucapnya lagi, ini sudah menjadi keputusannya, saat ini.
Ia lalu mengambil tas dan bergegas turun ke ruang makan. Setiba disana, Adit sudah bertengger manis duduk disebelah papanya. Melody jadi salah tingkah, berusaha menutupi kegeLisahan tapi tak bisa.
Adit demikian, jadi merasa aneh, ingin mengawali menyapa Melody pun rasanya sulit, bingung.
“ kok jadi diem ya … perasaan tadi rame … “ ucapan papa Melody itu mengagetkan keduanya. Saling menoleh bersamaan. Bertemu tatap sejenak, namun juga sekaligus seperti menyampaikan sesuatu lewat tatapan itu.
“ papa apaan sih … jangan bikin selera makanku ilang ya … “
“ loh kok marah … papa Cuma nanya loh mel … “
“ Melody berangkat dulu … assalamualaikum … “ pamitnya. Tanpa mendengarkan lagi omongan papanya ia lalu bergegas keluar rumah. Melihatnya Adit jadi ikut buru buru, roti yang hendak ia makan ia taruh kembali dan berlari mengejar Melody.
“ Mel tunggu … “ akhirnya bisa diraihnya lengan itu didepan pintu rumah.
“ Apaan sih dit … ??!! “ tanyanya dengan nada bicara yang terdengar jutek.
“ lo kenapa sih … gue ada salah sama lo … “ tanya Adit lagi. Nada bicaranya seperti memohon agar gadis itu bicara sebab ia bersikap seperti ini.
“ gak ada … “ singkat dan jelas jawaban Melody tapi mampu membuat pertahanan Adit harus berusaha lebih keras lagi.
“ terus kenapa sikap lo kayak gini … tadi pagi waktu nemuin gue dimobil lo fine fine aja … “ Adit diam sejenak. “ atau … gara gara ucapan gue di depan kamar mandi tadi … ???”
“ udah lah dit nanti telat … “ Melody menghindar, ia lalu berbalik, tapi genggaman tangan Adit belum lepas begitu saja, dan genggaman itu mampu mencegah Melody pergi.
“ bel masuk masih 45 menit lagi, meskipun kita berangkatnya setengah jam lagi, gue bisa pastiin kita gak akan telat ke sekolah … jawab pertanyaan gue tadi … “. Tapi Melody tetap bergeming, pertahanan gadis itu Adit acungi dua jempol, gadis itu masih saja tidak mau buka suara. Melody hanya diam menunduk.
“ ya udah kalau gak mau ngomong … gue punya sesuatu buat lo … “ ucap Adit lagi, barulah Melody mendongak. Tangan Adit lalu bergerak membentuk satu gerakan setengah lingkaran dan tarrraaaaa …. Satu tangkai mawar pink tiba tiba sudah ada di tangan kanannya. Melody terkesima, seuntai senyuman pun akhirnya tercetak manis di bibir gadis itu.
“ Ambil dong masa diliatin terus … “
“ Apaan sih dit … “ Melody lalu mengambil bunga itu. “ makasih ya … gue baru tau kalo lo bisa sulap … “
you’re welcome dear … udah gak ngambek lagi kan … gak tau deh ngambeknya tadi kenapa … “
“ apaan sih lo … ngomong gitu lagi gue marah nih … “
“ eh jangan jangan … aduuuhhh … bikin lo gak ngambek itu susah tau … ya udah .. berangkat sekarang ya … “ ucap Adit.
“ siapa juga yang ngambek … “
“ hmmm … masih gak mau ngaku juga … “ Melody tak menjawab, hanya satu senyum kecil yang ia tunjukkan lalu berbalik dan berjalan menuju mobil Adit. Aditpun menyusul langkah gadis itu dengan tenang.
Di dalam mobilpun, suasana masih saja hening, tak ada yang berani memulai pembicaraan, meskipun itu hanya cuap cuap ringan saja. Barulah saat Melody berkata, keheningan itupun akhirnya terusik.
“nanti ke tempatnya Reza ya dit … “ ucap Melody saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
Ciiitt … Adit merem mobil mendadak, membuat tubuh mereka condong ke depan. Hampir saja Melody terbentur dashboar depan.
“ aduuh … lo ngeremnya mendadak banget sih dit … kenapa sih … “
“ ke Reza yang mana maksud lo … ??!! ” Adit bertanya akan hal itu dengan nada yang tidak bersahabat, terkesan jutek dan tidak suka.
“ ya ke si Ryan maksud gue dit … kenapa sih emangnya … jadi jutek gitu … “
“ berangkat sendiri deh … gue lagi gak bisa nemenin … lagi ada acara ma anak anak OSIS … “ jawabnya, masih tetap jutek. Melody hanya bisa ber-oh-ria saja, sementara Adit setelahnya lalu menjalankan mobilnya lagi. Tatapannya lurus ke jalan, tak menoleh ke Melody sedikitpun. Kini ganti Melody yang jadi serba salah.
*****
Saat sampai di sekolahpun, Adit tetap dingin.
“ lo masuk duluan gih, bis gini bel … gue masih ke OSIS dulu “
“ lo kenapa sih dit … “ tanya Melody, dan masih tetap sama, Adit tetap bergeming. Dan tanpa berkata apapun, ia berbalik dan meninggalkan Melody.
Dan tak segampang itu, merasa diperlakukan seenaknya, Melody pun menyusulnya, mencoba  mengimbangi langkah cowok itu sulit sekali.
“ Adit berhenti !!!! “ teriak Melody akhirnya. Langkah Adit terhenti, dan tidak hanya itu, para siswa yang tadinya juga berjalan menuju kelas mereka, ikut ikutan berhenti menyaksikan “sarapan pagi” mereka kali ini yang sepertinya menyegarkan dan bisa dijadikan sebagai headline pembicaraan nantinya. Bahkan siswa yang ada didalam kelaspun ikut ikut keluar, dan keheningan itu kembali tercipta, tak ada satupun yang mengeluarkan suara.
Dan saat itulah Melody menyusul Adit, berdiri persis di depannya. Diiringi dengan tatapan para siswa yang sedang mengikuti jalannya drama yang paling mengguncang SMA Adi Buana akhir akhir ini.
“ percuma lo ngasih gue ini tadi pagi … “ ucap Melody,dan bunga hasil sulap Adit tadi pagi, yang Adit gunakan untuk menghibur sekaligus membuat gadis itu tersenyum, ia lempar pada si empunya bunga tersebut dengan sedikit kesal. Adit terganga, kaget. Melody berbalik tapi langkah yang baru saja ia akan mulai terhenti karena Adit telah menggenggam lengan kiri tangannya sehingga ia kembali menghadap tubuh cowok itu. Pandangan mereka kini beradu. Tidak jelas apa arti pandangan tersebut, antara marah, benci, sesal, penasaran, bersalah, dan masih banyak lagi. Dan tidak ada satupun dari keduanya yang mengerti apa arti tatapan masing – masing.
Tapi lain dengan apa yang diterjemahkan orang lain, termasuk Rendy, Lisa, Riska Cs juga siswa lainnya berbeda. Yang ada di pikiran mereka, well Adit ditolak oleh Melody. Dan Rendy tak bisa berbuat banyak, selama ini Adit memang terkenal dingin pada setiap cewek manapun yang mendekatinya, tapi kali ini es abadi yang menjelma dalam tubuh Adit sudah mencair, dan gadis inilah yang berhasil “ mencairkan “ es dalam tubuh sang pangeran itu.
“ kalo lo gak mau … buang aja … jangan balikin ke gue … gue gak suka apa yang udah gue kasih dibalikin… “ ucap Adit, masih tetap dingin. Ia lalu membuang bunga itu. Dan melangkah pergi dengan santai, tinggal Melody sekarang yang kaget, tak habis pikir.
“ seharusnya gue tau … lo itu masih sama kayak dulu … NYEBELIN …!!! “ teriaknya. Adit berhenti namun detik berikutnya ia kembali berjalan dengan cuek dan tanpa peduli dengan kehebohan yang tercipta. Tapi yang sebenarnya yang terjadi adalah, ia tak secuek yang orang lihat, tak banyak yang tau, kali ini ia sudah menuju titik hancur yang sudah diujung tanduk.
“ Dit lo itu nyebeliiinnnnn … “ teriak Melody sekali lagi dan sekali lagi juga Adit tetap tidak peduli.
Semua bubar, pertunjukan selesai, Rendy langsung berlari menyusul sahabat karibnya itu, berusaha mencari pembenaran akan semua ini. Ini begitu tiba – tiba dan mengagetkan. Semalam, ia diminta mengantar mobil, dan yang ditemuinya malam itu adalah Adit yang kacau, dengan embel embel dari rumah Melody “barusan”, dan pagi ini, ia mendapati cowok itu berada satu mobil dengan gadis itu, juga pertunjukan pagi yang menurutnya juga mau tak mau ia harus membelalakkan matanya, apa yang terjadi semalam dan pagi ini.
Apa yang ada dipikirannya, jika Adit ditolak Melody itu benar, tapi itu terlalu mendadak, mereka baru kenal beberapa bulan, dan Adit bukan tipe orang yang dengan amat sangat mudah jatuh cinta meskipun dengan gadis semanis Melody, apalagi dengan latar belakang hubungan mereka yang kacau sejak pertemuan pertama. Rendy harus tau, tidak ada cara lain, sahabatnya itu harus berkata yang sebenarnya.
Tak jauh berbeda dengan Lisa, gadis itu kini menatap bingung didepan Melody. Sebagai “orang terdekat” ia benar benar kecolongan.
 “ Ada apa sih Mel … Adit tadi berangkat bareng lo … terus barusan lo berantem ma dia ? “ Lisa sudah serta merta menyodorkan pertanyaan itu pada Melody. Melody tak menjawab. Ia hanya lalu mengambil lagi bunga yang sudah Adit buang tadi. “ kok lo ambil lagi bunganya … ?“ tanya Lisa. Heran.
“ Adit itu nyebelin Lis … ah bete deh gue … “ ucap Melody. Kening Lisa berkerut, tak mengerti dan tak paham. Sungguh kali ini ia menjadi orang terbodoh di dunia.
“ tunggu deh, ini ada apa sih sebenernya … lo balikin bunga itu ke Adit, trus Adit ngebuang bunga itu, dan sekarang lo pungut lagi bunga itu … ya ampun Mel …  bisa lo jelasin, gue gak ngerti “
“ gue suka ma bunga ini Lis … “
“ kalo suka kenapa tadi di kembaliin sih … hahaha … lo ini Mel … aneh tau gak … “
“ ya abisnya Adit tadi nyebelin … ntar deh gue ceritain … ke kelas yuk … bentar lagi bel … “
Keduanya lalu berjalan, meski sedikit risih karena menjadi pusat pelototan dan pergunjingan semua siswa yang mereka lewati.
“ ternyata lo serakah ya … ckckckck … masih kecil, tapi udah berani jadi playgirl “ celetukan itu jelas muncul dari bibir Riska. Dan tetap para jongos setianya itu berdiri dibelakang sang majikan.
“ maksud lo apaan … “ tanya Melody. Mood nya hari ini tambah hancur ditambah dengan celotehan tak penting pentolan kentir ini.
“ berani lo ngebentak gue … heh cewek gak tau diri … nyadar dong … lo itu siapa … lo itu masih kecil … “
“ apa hubungannya ma gue yang masih kecil … LO IRI MA GUE “ tanya Melody. Telak, ucapan itu langsung menusuk Riska.
“ dulu lo ngerebut Evan dari gue … sekarang lo mau ngerebut Adit juga … lo mau jadi sok laku !!! “
“ Hei … apa urusannya ma Lo … ckckck … gue rasanya pengen nertawain lo deh, Cuma sayang mood gue lagi gak bagus, jadi gak enak buat ketawa … “ Melody berhenti sejenak mengambil nafas.
“ lagian lo tuh Ris yang gak tau malu … sebenernya yang lo incer siapa sih … Evan atau Adit ??? dua duanya lo embat … merekanya aja gak ada yang mau sama lo … lo yang sok sok-an bilang kalo mereka milik lo … “ dan Lisa lah yang melanjutkan, tak kalah sengitnya dengan ucapan Melody sebelumnya.
“ tau tuh … sebenernya yang serakah lo lagi … ya gak lis … hahaha … satu aja belom dapet … udah pake ngancem gue lagi … ntar kalo lo udah jadian ma salah satu dari mereka baru lo ngancem … kasian banget sih lo jadi cewek … ckckck …. Prihatin gue liat lo … “ ucap Melody. Kalah, kali ini Riska tak bisa mengelak, apa yang Melody katakan memang benar semua. Malu, Riska lalu pergi dan menyuruh antek anteknya itu mengikuti.
Melody dan Lisa tertawa puas. Pentolan geng paling tersohor di sekolah itu hengkang dengan sendirinya. Dengan rasa malu dan kalah. Kedua sahabat itu pun lalu kembali berjalan ke arah kelas mereka.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger